Penulis : Eni Lusiati,S.Pd
(Guru SMAN1 Parungpanjang)
Nama yang sederhana, ya Cuma Merri tanpa awalan dan akhiran sesimpel dan sesederhana penampilannya. Dulu saat aku masih jadi Waka Kesiswaan seperti biasa aku selalu datang paling pagi, karena harus menyambut para siswa yang datang dengan ditemani pak Joko yang selalu siap dengan sebox besar tisyu untuk menghapus kalau ada siswi yang pakai lipstik.
Setiap hari ada yang selalu menarik perhatianku yaitu dua orang siswi yang selalu sudah duduk di teras sekolah ketika aku datang, padahal……waktu itu belum genap pukul 7.00.
Selalu…..begitu, aku selalu kalah cepat datang disekolah dari dua orang siswi itu…, karena penasaran kemudian aku ajak ngobrol, obrolan sederhana saja rumahnya dimana, datang kesekolah naik apa dan sebagainya.
Disini aku dibuat terkejut, rumahnya di Kampung Lebak Picung, Ciomas dengan jarak tempuh kurang lebih 7 KM dari sekolah. yang membuat aku terkejut adalah jarak itu selalu ditempuh dengan jalan kaki. Subhanallah, jalan kaki dengan jarak segitu jauhnya dan selalu datang paling awal di sekolah, luar biasa…, sementara siswa yang lain yang dengan fasilitas motor banyak yang masih terlambat datang kesekolah.
Aku semakin tertarik dengan sosok siswi ini, kemudian dilain kesempatan aku bertanya “Kenapa harus jalan kaki ?” Berapa dikasih ongkos dari orang tua ?’ Sebenarnya itu pertanyaan konyol kenapa harus jalan kaki, ya kalau punya kendaraan ya tidak mungkin jalan kaki. Kemudian dia menjawab ”Gak punya kendaraan bu….” Sebuah jawaban yang sudah aku duga, kemudian” Saya di kasih ongkos orang tua sebesar 7.000 rupiah, itu juga kalau ada “lanjutnya.
Deg, hatiku langsung berdegup… 7.000 rupiah… dengan waktu pembelajaran K 13 yang dari jam 7.15 sampai jam 15.20, apa cukup ?…itu ada di benakku.
Saat itu dia masih kelas 10, karena menurutku ini sosok yang cukup menarik sehingga memang selalu diam-diam saya amati.
Suatu hari ada kerumunan di ruang UKS, seperti biasa setiap ada yang katanya kesurupan teman-teman memberi tau untuk diurus , ya begitulah….tuh ada pasien kata teman-teman.
Ya aku memang yang sering diminta nangani anak yang sedang katanya kesurupan seperti itu, walapun aku sendiri tidak percaya dengan itu, karena menurut aku mereka tidak kesurupan tapi lebih pada mencari perhatian atau… ada hal yang jadi beban pikiran mereka. Benar juga setelah aku datangi di UKS, Merri masih meronta – ronta kemudian dengan caraku lebih pada pendekatan psikologis akhirnya dia tenang dan aku ajak bicara….. sudah makan ?.
Itu pertanyaanku yang pertama, “Belum” dia jawab….aku terkejut ini sudaah jam 14.00 belum sarapan. Kenapa ? Aku tanya lagi. Uangnya dikumpulkan untuk keperluan keperluan sekolah Bu….. jadi praktis Merri tidak pernah jajan, “Saya selalu bawa bekal Bu…..Alhamdulillah dalam hati, saya membayangkan bekal itu pasti nasi, setidaknya tidak lapar, tapi….alangkah terkejutnya aku ketika dia mengatakan dia hanya bawa air putih setiap hari, Astgfirullah…….
Hanya air putih, sekarang aku faham, tadinya aku bertanya-tanya dalam hati, Merri selalu bayar ketika ada iuran apapun dikelas dan selau mengerjakan tugas walau tuugas itu memerlukan biaya…rupanya uang onkos sekolah yang hanya 7.000 rupiah itupun kalau ada nyaris tidak pernah ia belikan jajan, karena selalu ia gunakan apabila ada iuran ataupun tugas yang harus memerlukan biaya. Sungguh luar biasa, sementara teman-temannya yang tergolong mampu terkadang susah untuk sekedar membayar iuran yang tidak seberapa.
Suatu ketika pada saat kenaikan kelas, rapor harus diambil orang tua, dan aturanya memang bagi yang masih ada tunggakan paling tidak harus ada yang dicicil walau sedikit, aku tidak menyalahkan Wali kelasnya karena mamang mengikuti aturan. Tiba-tiba Merri dan ibunya menemui saya sambal menangis. Ia mengatakan memang tiak ada uang yang bisa dibawa sama sekali, bahkan pada saat itu ibunya mengatakan “Sebenarnya Merri sudah tidak diijinkan melanjutkan sekolah karena ketiadaan biaya namun Merri memaksa“.
Singkat cerita, Merri akhirnya duduk di kelas 11 tetap dengan kodisi yang sama, yang selalu jalan kaki ketika berangkat dan pulang sekolah, dan sekarang Merri duduk di kelas 12 yang keketulan ada di kelas yang ada dibawah asuhan saya karena saya wali kelasnya.
Saat ini karena Covid 19 pembelajaran jarak jauh atau biasa disebut PJJ, Merri memang tidak perlu berjalan kaki dengan jarak tempuh kurang lebih 14 KM pulang pergi, tapi dengan PJJ timbul masalah baru ketersediaan kuota, namun sejauh ini dia tidak pernah mengeluh, tugas – tugas selalu dikerjakan.
Syukur Alhamdulillah sekarang terbantu dengan bantuan kuota dari pemerintah, sehingga semakin memperlancar PJJ, juga ketika HPnya rusak, Alhamdulillah dengan adanya program peminjaman tablet (gadget) yang diprakarsai oleh Bapak Kepala Sekolah yaitu Bapak Dudung Nurullah Koswara,MPd, sangat membantu siswa yang terkendala dengan Smartphone. Apa yang menarik dari sosok Merri ? Keuletannya.
Kegigihannya. Bahwa keterbatasan bukan merupakan alasan untuk tidak bisa maju, justru dengan keterbatasan menjadikan kita semakin kuat, mandiri, dan tidak mudah menyerah.
