Oleh : Supiati, S.Pd
(Guru Sejarah SMAN 1 Parungpanjang)
Saya adalah seorang guru baru di SMAN 1 Parungpanjang, atau bisa dibilang sebagai pendidik baru. Biasanya setiap kita mendatangi tempat baru itu pasti akan mendapatkan kesan yang baru. Begitu pula yang dirasakan oleh saya pribadi, banyak kesan dan kekagetan-kekagetan yang saya temui di SMAN 1 Parungpanjang. Baik itu kekagetan dalam hal positif maupun negatif.
Saya sebagai guru baru sebetulnya sangat antusias sekali menjadi pendidik baru di SMAN 1 Parungpanjang, karena memang sekolah ini sudah menjadi incaran saya sebelumnya. Kenapa begitu ? Karena jarak sekolah ke rumah saya cukup dekat dan tidak menyita waktu banyak dalam perjalanan.
Alhamdulillahnya setelah saya menaruh lamaran di sekolah ini, ternyata saya diterima sebagai guru sejarah sesuai dengan basic yang saya miliki.
Saya sebagai guru baru ingin sekali memberikan kesan yang baik untuk sekolah. Baik itu untuk guru-guru maupun peserta didik. Namun di era Pandemi Covid 19 ini, keinginan saya untuk itu sedikit terhambat. Karena di era Pandemi seperti ini, Kegiatan Belajar Mengajar (Luring) digantikan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan itu tidak pernah terlintas di fikiran saya sebelumnya.
Padahal biasanya setiap ada guru baru itu tidak hanya guru yang antusias untuk bertemu dengan para peserta didik, bahkan peserta didikpun sudah tidak sabar ingin berkenalan dengan guru barunya. Semua itu hanya bisa dilakukan melalui virtual online saja, dan menurut saya itu sangat kurang afdol serta tidak memberikan kesan apa-apa karena tidak bertemu tatap muka secara langsung.
Ada beberapa kekagetan-kekagetan yang saya temui di SMAN 1 Parungpanjang. Baik itu mengenai PJJ, teman-teman seprofesi, maupun Kepala Sekolahnya. Ini akan saya urai satu persatu. Kekagetan saya yang pertama, di era pandemi seperti sekarang ini PJJ di sekolah SMAN 1 Parungpanjang tidak sepenuhnya berjalan mulus seperti di sekolah-sekolah yang lainnya yang berada di perkotaan. Karena peserta didik banyak sekali yang tidak mempunyai sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan PJJ ini, seperti gadjet dan kuota internet.
Kemudian sekolah pun memberikan solusi dengan cara meminjamkan tablet kepada peserta didik yang tidak memiliki gadjet. Selain itu, mengenai kuota Alhamdulillah sudah di fasilitasi oleh pemerintah. Dikira saya setelah ini masalah akan terselesaikan dengan baik, ternyata tidak. Karena banyak sekali peserta didik yang tidak memiliki koneksi internet yang stabil di rumahnya, karena rumahnya banyak yang jauh dari jangkauan internet. Sehingga sarana dan prasana yang sudah mumpuni pun seakan sia-sia serta mengganggu keberlangsungan PJJ.
Kekagetan saya yang kedua, yaitu ada beberapa dari teman-teman seprofesi yang kurang menyukai saya. Karena banyak beredar gosip yang tidak mengenakkan di telinga saya. Kalau menurut anak-anak milenial sekarang biasa disebut “caper, modus atau cari muka” kepada atasan, karena saya cukup akrab dengan atasan saya sehingga di judge “cari muka” terhadap atasan. Padahal tidak begitu, saya orangnya fire dan so asik kepada siapa saja. Baik itu kepada laki-laki ataupun perempuan, baik tua maupun muda. Panggil saja namanya pak Abdul Halim, saya digosipkan dengan beliau. Beliau adalah Wakasek bagian kurikulum di SMAN 1 Parungpanjang. Beliau merupakan orang yang baik, tekun dengan pekerjaannya dan disiplin terhadap waktu. Walaupun belum kenal lama tapi saya sudah akrab dengan beliau. Karena beliau juga yang interview saya waktu saya memberi lamaran mengajar di SMAN 1 Parungpanjang.
Jadi menurut saya lumrah saja saya akrab dengan beliau, karena beliaulah orang yang pertama kali saya kenal di SMAN 1 Parungpanjang. Beliau pula yang sudah menerima saya sebagai pendidik baru di SMAN 1 Parungpanjang, semoga Allah mengganti kebaikan bapak dengan rezeki yang tiada putusnya. Bahkan pernah di suatu waktu, saya berbincang-bincang kecil dengan teman-teman seprofesi saya, sampai tidak digubris atau di respons sama sekali. Tidak berhenti sampai disitu saja, ada kekagetan lainnya ternyata mungkin Saya kena “ospek” teman-teman.
Saya selaku orang baru cukup kaget, dikira saya yang begini itu hanya akan ditemui di lingkungan kerja seperti di perusahaan atau di PT-PT saja. Ternyata di sekolah pun banyak dinamikanya juga. Untungnya saya termasuk orang yang santai dan cuek, jadi saya tidak terlalu mananggapi dengan serius. Saya sih maunya sebagai guru baru, seharusnya mereka merangkul dan mengarahkan saya. Bukan malah “mengospek”.
Kekagetan saya yang ketiga, ternyata bukan hanya guru-gurunya saja banyak yang baru. Kepala sekolahnya pun ikut baru juga, panggil saja namanya Pak Dudung Koswara. Beliau merupakan orang yang tegas dan berwibawa sekali. Meskipun baru, beliau sudah banyak memberikan inovasi-inovasi baru dan sumbangsihnya untuk sekolah. Serta sudah mulai memajukan dan membawa nama baik sekolah di kalangan masyarakat umum.
Kebetulan beliau orang yang aktif di organisasi dan mahir dalam menulis. Karena banyak karangan-kararangan bukunya yang sudah di publish di internet maupun di kalangan umum secara langsung. Bahkan beliau juga adalah ketua Pengurus Besar PGRI dan Kepsek dengan rekor penulis yang paling aktif se Indonesia, wahh.. beruntug dan keren sekali sekolah mempunyai Kepsek seperti beliau. Saya pun menulis opini seperti ini karena terinspirasi dari beliau juga. Mudah-mudahan ke depannya saya ada bakat menjadi penulis yang hebat seperti beliau.
Saya berharap untuk kedepannya mudah-mudahan kegiatan PJJ di sekolah SMAN 1 Parungpanjang bisa lebih efektif dan efisien lagi serta bisa mengejar ketertinggalan dengan sekolah-sekolah yang ada di perkotaan dan yang terpenting semoga pandemik ini secepatnya hempas dari bumi supaya KBM bisa berjalan secara normal lagi. Semoga dengan adanya pak Dudung sebagai kepsek baru di SMAN 1 Parungpanjang, sekolah bisa lebih maju dan lebih eksis lagi di kalangan masyarakat secara umum dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya.
Untuk teman-teman seprofesi saya, mudah-mudahan ke depannya bisa lebih welcome kepada orang-orang yang baru, terutama kepada guru yang baru. Jangan sampai terkesan ada “ospek” bagi setiap guru baru. Sebagai guru baru Saya merindukan bimbingan dari teman seprofesi dan dukungan dari yang lebih berpengalaman.
Demikian kekagetan-kekagetan Saya saat era PJJ di SMAN1 Parungpanjang. Mari kita terus belajar dan beradaptasi di tengah pandemic yang mengancam kita.













