Peristiwa

Lagi Dan Lagi Guru Honorer Jadi Korban

adminsigiku.com
×

Lagi Dan Lagi Guru Honorer Jadi Korban

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Tidaklah mudah meraba kebatinan entitas guru di seluruh Indonesia. Batin guru, jiwa guru, derita guru, masalah guru, pahit manis kehidupan guru memang hanya guru yang tahu dan merasakannya. UU RI No 14 Tahun 2005 mengamanahkan semua guru “wajib” menjadi anggota organisasi profesi guru.

Organisasi profesi guru diharapkan mampu menjadi rumah perjuangan, pertahanan dan penjaga kedaulatan martabat entitas profesi guru. Perjuangan martabat guru menjadi goalnya sebuah organisasi profesi guru. Martabat guru itu terkait kapasitas kolektif guru, kesejahteraan, perlindungan, prestasi, karya dan kedaulatan entitas guru.

Ungkapan Dari Guru, Oleh Guru, Untuk Guru terkait pentingnya entitas guru mengeksplorasi potensi dirinya secara kolektif untuk kebaikan profesi guru. Bila para guru tidak bertransformasi mengeskplorasi dirinya maka Ia akan dieksploitasi pihak non guru. Ungkapan Ku Tahu Yang Ku Mau sama artinya dengan setiap entitas hanya entitasnya sendiri yang sangat tahu apa yang terjadi, apa yang diharapakan dan apa yang diinginkan.

Selain entitas guru tentu tak mudah mengetahui dengan pasti dinamika dan kebatinan guru yang sebenarnya. Dinamika kebatinan guru itu adanya di satuan pendidikan, di ranting dan di semua sekolahan yang ada di pelosok atau pun perkotaan. Terutama dinamika derita guru honorer hanya ada di satuan pendidikan. Siapa yang tahu persis derita mereka ? Ya guru itu sendiri.

Tragedi dibunuhnya seorang guru honorer dan operator sekolah di Kabupaten Sukabumi karena sabetan samurai sungguh mengerikan. Bisa jadi ada ratusan atau ribuan masalah guru yang tidak muncul ke permukaan. Masalah guru adanya di satuan pendidikan. Setiap satuan pendidikan biasanya berada dalam wilayah ranting dan cabang. Guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, ketua ranting dan ketua cabang adalah eksosistem pendidikan dan organisasi.

PGRI sebagai organisasi yang memperjuangakan harkat dan martabat guru punya tanggung jawab moral organisasi untuk terlibat secara dini, proaktif dan solutif dalam mengantisipasi segala kemungkinan terkait guru. Tidaklah mudah mengurus organisasi profesi guru bila tidak datang dari hati. Bila mengurus organisasi dari hati maka proaktivitasnya akan sangat terlihat.

Bila mengurus organisasi hanya asal, asal gaya menjadi pengurus dan asal modus maka gerakannya akan lola. Akan banyak kasus guru yang tak terlayani, tidak teradvokasi dan jauh dari memberi solusi. Saatnya organisasi profesi guru lebih proaktif, preventif dan mengedukasi anggota agar segala dinamika negative tidak berkembang.

Masalah guru sangatlah banyak mulai dari kasus perceraian, perselingkuhan, poligami, penipuan, asusila, narkoba, kriminal, pencurian, pembunuhan, pemalsuan dokumen, pemerasan, kekeran pada anak didik, kejahatan IT dan hal lainnya. Sungguh tidak sedikit masalah guru yang terjadi di lapangan. Mengurus organisasi profesi guru harus berparadigma baru. Diantaranya adalah menguatkan peran ranting dan cabang.

PGRI kabupaten dan kota “wajib” memberikan bimbingan, pembinaan dan pembekalan pada PGRI cabang dan ranting terkait pentingnya lebih proaktif dan masif dalam melayani anggota. Dinamika guru adanya di ranting dan cabang, bukan di PB, Provinsi dan kabupaten kota. Sekali lagi ranting dan cabang adalah wajah PGRI yang sebenarnya.

Ke depan semoga tidak ada lagi guru yang terbunuh. Mari kita minimalisir segala dinamika yang berisiko dan menimbulkan korban. Revitalisasi peran struktur PGRI di tingkat bawah sangat-sangat penting. Berda’wah, bergerak dari bawah. Ranting dan PC PGRI harus menjadi rumah PGRI yang hidup, aktif melayani setiap saat.

PGRI hadir memperjuangkan harkat martabat entitas guru. Bahkan sekali pun ada guru yang bukan anggota PGRI mendapatkan masalah, kita tetap secara moral wajib berempati. Semoga masalah guru bisa semakin terentaskan dan semoga guru-guru tidak ada lagi guru yang hidup dibawah garis kemiskinan. Plus tidak ada guru yang demi ingin menjadi PNS main suap dan kongkalingong bangkong.