OPINI/Artikel

” Menjadi Calon Istri Masa Depan “

adminsigiku.com
×

” Menjadi Calon Istri Masa Depan “

Sebarkan artikel ini

Penulis: Nur Fadilah (Putri Inspirasi Banyumas 2020)

Tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang istri dari dititipkan seorang suami yang sangat menyayangi, peduli, bertanggung jawab, setia, dan mencintai tanpa syarat dengan sempurna meskipun memiliki kekurangan. Dan tidak ada yang lebih beruntung dan membahagiakan bagi suami yang dikaruniai istri yang shalehah, cerdas, setia dalam suka maupun duka apalagi cantik.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalehah.” (HR Muslim dari Abdullah bin Amr).

Istri merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Istri diciptakan untuk menciptakan ketenangan jiwa raga bagi suami. Seperti yang terkandung dalam firman Allah dalam surah Ar Rum ayat 21, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Di zaman dulu, perempuan khusus mengurus rumah tangga, yang kerja justru dianggap kurang perannya dalam mengurus rumah tangga, anak dan suami dibilang kurang terurus. Namun perempuan masa kini, setelah menikah tidak hanya dihadapkan dengan mengurus rumah tangga saja. Selain harus menunaikan kewajibannya sebagai istri dan ibu yang baik bahkan tetap menjadi anak perempuan yang tetap berbakti kepada orang tuanya walau sudah memiliki keluarga kecil sendiri, perempuan pun dituntut untuk produktif. Ketika teman suami bertanya “Istri kerja apa?”, maka perempuan harus siap dengan jawabannya atau jika memang suaminya sangat pengertian kepada istrinya pasti yang justru akan menjawabnya dengan jawaban yang bijak melegakan teman maupun istrinya. Jangan tanyakan istri kerja apa. Lihat saja bagaimana rumah, suami dan anak-anaknya apakah baik-baik saja? Kalau istri diam tidak bekerja dan tidak bergerak pasti ada sesuatu di sana.

Dan jangan tanyakan pula istri bisa apa? Karena ia sosok yang multitalenta. Bisa jadi guru, dokter, perawat, koki bahkan tukang ganti lampu di rumah. Ketika perempuan harus di rumah padahal sebelumnya ia memiliki prestasi, pendidikan tinggi serta karir yang baik, maka adakalanya harus putar otak. Saat tidak berkarir di luar rumah, namun bagaimana bisa berkarir di rumah sambil mengurus suami dan anak-anaknya. Bisa dibayangkan betapa kuatnya ia. Sosok yang sangat berperan penting. Dari berbagai sudut pandang, perspektif serta realita yang ada itulah sosok seorang istri dan ibu.

“Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Begitulah seorang perempuan. Ia yang sebagai peran utama pencetak generasi. Yang akan mencetak generasi yang seperti apa? Baik dan buruknya, kesuksesan dunia akhiratnya dominan atas bimbingan dan didikan ibunya.

Lihat saja di masa pandemi seperti saat ini, selain harus mengurus rumah tangga, pekerjaan di kantor, juga harus mendampingi anaknya belajar yang bisa sampai seharian. Berasa ibu sekolah lagi dengan berbagai dunia baru mengikuti perkembangan zaman yang ada. Berapa juta ibu, khususnya di Indonesia yang pusing setiap hari dengan hal ini? Satu hal yang perlu diingat bahwa, “Menyekolahkan anak saja tidaklah cukup”. Ingat kembali para ulama dahulu dalam mendidik anaknya. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW begitu memuliakan perempuan sampai menyebutkan sosok ibu tiga kali dan ayah sekali, “Ibumu, ibumu, ibumu. Dan ayahmu”. Dan kita selamanya tak bisa membalas satu tetes darah ibu pun saat melahirkan kita ke dunia ini, dengan apapun juga. Maka jangan pernah remehkan perempuan.

Anak memang harus mandiri, namun di balik itu semua orang tua berperan membimbingnya. Bagaimanapun juga ia anak, peran orang tua sepanjang masa bahkan saat anak sudah menikah hingga orang tua tutup usia. Seorang anak yang membutuhkan didikan dari orang tuanya, keharmonisan dari keluarganya, kasih sayang orang tuanya hingga merasa tak kekurangan kasih sayang dan tak lagi mau mencari kasih sayang yang salah di luaran sana. Orang tua tak hanya berperan sebagai orang tua saja, namun harus bisa menjadi teman, partner, tempat curhat dan tempat yang paling aman untuk curhat mencurahkan segala rasa, anak terbuka kepada orang tuanya. Namun anak, baik perempuan maupun laki-laki dominan lebih terbuka kepada ibunya.

Lalu saat ibu sibuk di luaran, kepada siapa lagi anak-anak meminta bimbingan?… Begitulah seorang ibu harus bisa membagi waktu, jiwa raga, perhatian serta pikirannya untuk segalanya. Maka bagaimana peran suami istri agar seimbang? Suami istri sangat penting menjalin komunikasi yang baik, selalu berdiskusi sebelum mengambil keputusan. Saling menjadi soulmate, partner segala bidang.

Dan begitulah seorang perempuan. Harus mandiri. Why? Karena bagaimanapun hidup ini tanggung jawab diri sendiri. Tidak selamanya akan bersama dan bergantung dengan orang yang kita cintai. Entah siapa yang akan dipanggil lebih dulu di hadapan Sang Maha Kuasa. Maka bekal apa dan persiapan apa untuk menghadapi segalanya? Yah, Tuhan kitalah tempat sandaran yang sesungguhnya. Tak selalunya ada bahu orang yang kita cinta untuk bersandar, namun kepada Sang Rabblah tempat bersujud yang selalu bisa dan selalu ada.