OPINI/Artikel

Pesan Spiritual H.Asep Suhanggan

adminsigiku.com
×

Pesan Spiritual H.Asep Suhanggan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Wafat di hari Jum’at, di tempat kerja, hidup rendah hati dan bermanfaat bagi sesama adalah sebuah keistimewaan seseorang. Tidak semua orang bisa wafat di hari Jum’at, di tempat mengabdi sebagai ASN dan selalu rendah hati pada sejawat dan bawahan. Disdik Provinsi Jawa Barat kehilangan pejabat yang berkarakter sosok H. Asep Suhanggan.

Prof. Dr. KH. HM. Rasjidi mengatakan, “Kita lahir dari rahmat Allah, hidup mencari rahmat Allah dan kembali pada rahmat Allah”. Nampaknya siklik rahmat Allah ini menjadi bagian dari pribadi H. Asep Suhanggan. Ia adalah pribadi yang lebih banyak terlihat kesantunannya dibanding letupan egosisme atau memerintah bawahan.

Wafatnya H. Asep Suhanggan, setidaknya ada sejumlah pesan spiritual yang bisa kita tangkap. Pertama, kita adalah makhluk manusia yang bisa wafat, kapan saja, dimana saja dan tak terduga. Jama’ah tabligh menyatakan bahwa bila kita ingin wafat terbaik jadilah penyampai dan pengajak kebaikan. Bila kita setiap saat selalu dalam kebaikan maka saat kapan pun kita wafat kita dalam keadaan yang baik.

Kedua, hiduplah sederhana tapi kerja dan dedikasi tidak sederhana. Wafatnya H. Asep Suhanggan di tempat kerja menjelaskan Ia totalitas dalam bekerja. Tidak asal kerja, asal jadi ASN atau asal jadi pejabat. Ia mengajarkan pada kita hiduplah sederhana tapi prestasi kerja jangan sederhana tetapi optimal dan professional.

Ketiga, hiduplah santun dan senyumlah pada semua sahabat, sejawat dan bawahan. Sosok H. Asep Suhanggan selalu senyum dan punya bahasa tubuh yang jauh dari arogan bahan jauh dari narcistik. Ia mengerti bahwa setiap manusia ciptaan Tuhan harus dimuliakan. Memulikan manusia baginya sama dengan memuliakan pencipta-Nya.

Keempat, jadilah ASN yang bekerja karena Allah bukan karena atasan. Atasan adalah sesama manusia yang sama-sama berhamba pada Allah Tuhan yang maha Esa. Atasan bawahan hanyalah strutur kinerja duniawi. Dihadapan Allah siapakah yang paling atas ? Tentu yang “paling atas” dihadapan Allah adalah hamba yang hidup matinya Lillah bukan lil duniawi atau lil atasan semata.

Kelima, bekerja di Disdik Provinsi dan sekolahan adalah diantara ibadah terbaik. Terutama sekolahan adalah “rumah ibadah terbaik”. Bekerja di dunia layanan pendidikan adalah sangat istimewa bila benar-benar berniat Lillah. Berangka ke tempat kerja adalah ibadah, sampai di tempat kerja adalah ibadah dan melayani anak didik adalah ibadah istimewa. Amalannya menembus batas, ruang dan waktu.

Keenam, bila hidup kita merasa “bersama Allah” maka setiap suara hati, kata, tindak dan kebijakan kita akan menghindari mudharat dan mengupayakan manfaat. Orang yang hidupnya selalau “bersama Allah” maka kemana pun Ia akan memberi manfaat dan sangat memuliakan siapa pun dihadapannya. Bawahan dimuliakan, atasan dihormati. Bukan bawahan diinjak atasan disemir.

Tanda-tanda meninggal dalam keadaan husnul khotimah, menurut hadis Rasulullah diantaranya adalah wafat di hari jum’at. Baik siangnya atau pun malamnya. Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malamnya, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah siksa kubur.” (HR Tirmidzi).

Pesan dari H. Asep Suhanggan seolah berkata, “Aku wafat hari Jum’at, kamu ?” Bila ingin wafat di hari terbaik, diantaranya di hari Jum’at, jadilah pribadi berkarakter yang memuliakan sesama, bekerja melampaui tuntutan formal dan semua dilakukan karena mencari ridha Ilahi. Menjadi ASN pendidikan adalah jihad yang baik perang melawan masa depan.