Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Dewan Pembina PGRI)
Dikampung jalan sempit pinggir sawah yang luas ada satu “Istana Anak Yatim dan Dhuafa” di Kecamatan Parungpanjang. Sungguh saat pertama berkunjung Saya terkaget. Mengapa terkaget-kaget? Karena ada sekitar seratus lebih anak yatim piatu, yatim dan dhuafa yang sedang menyemut belajar dan mendapatkan bimbingan seorang guru.
Sebuah pemandangan indah ditengah kampung yang sepi terdengar guru mengajar dan anak didik merespon ceria. Ternyata “Istana Anak Yatim dan Dhuafa” ini di kelola oleh pasangan suami istri dan dibantu satu guru bahasa Inggris. Pasangan suami istri itu bernama Yayat Supriatna dan Ayya Susi Damayanti. Keduanya adalah sarjana pendidikan agama.
Selama Saya menjadi guru dan pengurus organisasi profesi guru belum menemukan suami istri mengelola sejumlah anak yatim dan dhuafa dengan gratis, tanpa meminta sumbangan kesana kemari tetapi berkarya dan berusaha sendiri. Hasil karya dan usaha sendiri keuntungannya untuk giat belajar dan memotivasi seratus lebih anak yatim dan dhuafa.
Sejumlah hasil kerajinan dan makanan yang dibuat masyarakat setempat dijual secara daring. Sebuah upaya luar biasa yang dilakukan pasangan suami istri, seorang guru honorer di sekolah dasar. Yayat Supriatna dan Ayya Susi Damayanti bagaikan “Romeo dan Yuliet” yang sehidup semati demi anak yatim dan dhuafa.
Saat diwawancara oleh penulis keduanya menjawab bahwa niatnya semata-mata ikhlas dan salah satu bentuk tasyakur pada Ilahi. Mereka mengatakan bahwa banyak anak yatim dan dhuafa yang hidupnya tidak beruntung, putus sekolah dan ada yang ABK. Mereka berdua hadir sebagai teman, kawan dan sekaligus Ayah Bunda mereka.
Menurut Ayya Susi Damayanti anak yatim dan dhuafa kejiwaannya harus dipulihkan, dibantu untuk hidup normal dan bahagia sebagaimana anak normal lainnya. Walau pun Ia sebagai guru honorer bersama suaminya, namun bertekad bulat akan terus membimbing mereka untuk mendapatkan pengetahuan dan kemampuan hidup normasl bersosialisasi sebagaimana anak lainnya.
Anak yatim, anak yatim piatu, anak dhuafa dan anak ABK memerlukan pendampingan dan bimbingan khusus. Setidaknya dengan bimbingan tiga guru honorer yang ada di Istana Yatim Piatu dan Duafa Baitul Qurro, anak-anak bisa ceria, mendapatkan pengetahuan dan pembelajaran akhlak mulia. Mereka harus hidup normal sebagaimana anak-naka normal lainnya.
Pasangan suami istri Yayat Supriatna dan Ayya Susi Damayanti dibantu oleh sosok guru bahasa Inggris yang luar biasa bernama Pak Boni Sudrajat. Ia guru bahasa Inggris yang luar biasa. Saat Saya wawancara sungguh memukau motivasinya mengapa mengajar dan mendidik mereka. Ia semata mata mengabdi demi anak bangsa.
Ia pun mengatakan punya giat privat belajar bahasa Inggris di tempat lain. Unik belajar bersamanya bayar seikhlasnya tapi belajar sepuasnya. Artinya tidak ada pungutan dan beban pada anak didik, tapi belajar bersamanya dibuat maksimal. Dalam ucapannya Boni Sudrajat mengatakan, “Mendidik akhlak anak didik lebih utama dari hanya sekedar belajar bahasa atau angka-angka ranking yang diraih”.
Ia pun mengatakan kalau suatu saat meninggal, ketika Allah, Tuhan yang maha Esa memanggilnya Ia ingin wafat tersenyum. Artinya beramal ikhlas demi anak didik yang Ia cintai dan mereka suatu saat menjadi orang-orang yang bermanfaat tentu sangat membahagiakan Pak Boni. Pak Boni Sudrajat mencari nafkah dengan jualan, mencari amal dengan mengajar.
Siapa saja yang punya niat baik memberi kontribusi pada “Istana Yatim dan Dhuafa” mengapa tidak? Walau mereka bertiga tidak mencari-cari donator. Mereka sangat luar biasa berusaha mandiri dengan mengatakan, “Dari Kita, Untuk Kita”. Kerajinan dan sejumlah produk makanan yang mereka jual dari mereka untuk mereka anak yatim dan dhuafa.
Subhanallah Pak Yayat Supriatna, Bu Ayya Susi Damayanti dan Pak Boni Sudrajat, Saya kagum pada ketiganya. Allah, Tuhan yang Esa semoga memanjangkan umur dan manfaat mereka karena anak yatim dan dhuafa perlu tangan ikhlas mereka untuk hidup ceria dan normal sebagaimana anak lain pada umumnya.
Pada hakekatnya kehadiran Yayat, Ayya dan Boni adalah kehadiran Tuhan pada sejumlah anak yatim dan dhuafa. Plus kehadiran negara pada anak-anak bangsa. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Ristek berutang kemanusiaan atau berutang “nyawa” pada ketiganya. Layak mereka mendapat apresiasi dan motivasi dari pemerintah dan semua pihak











