Oleh : Ir. Sugama
(Penyuluh Kehutanan, Sukabumi)
Umbi-umbian merupakan tanaman tradisional yang sudah dikenal masyarakat sejak lama sebagai sumber pangan (karbohidrat) yang dapat di andalkan sebagai koplemen dan suplemen kebutuhan akan makanan pokok. Akibat krisis ekonomi sejak tahun 1997 telah mengubah pola makan penduduk yang diindikasikan dengan meningkatkan konsumsi ubi kayu dari 28,16 kalori/kapta/hari pada tahun 1996 menjadi 34,96 kalori/kapta/hari pada tahun 1999 (BPS1999).
Secara umum talas merupakan tanaman umbi – umbian yang tidak berbatang, dengan tampilan tegap serta tingginya antara 50 – 300 CM. Talas termasuk tanaman semusim, namun dapat tumbuh sepanjang tahun (parenial), dan termasuk sekulen (herbaceous), artinya banyak mengandung air.
Talas berasal dari daerah sekitar India dan Indonesia, yang kemudian menyebar hingga ke China, Jepang, dan beberapa pulau di Samudra Pasifik.
Pertumbuhan yang paling baik dari tanaman talas ini dapat di capai dengan menanamnya di daerah yang memiliki ketinggian 0 M hingga 2.740 M di atas permukaan laut, suhu antara 21 – 270° C, dan curah hujan sebesar 1750 MM per tahun. Bagian yang dapat dipanen dari talas adalah umbinya, dengan umur panen berkisar antara 6 – 18 bulan dan ditandai dengan daun yang tampak mulai menguning atau mengering.

Indonesia sebagai negara beriklim tropis memiliki potensi disektor pertanian yang cukup besar. Berbagai komoditas pertanian memiliki kelayakan yang cukup baik untuk dikembangkan di Indonesia, salah satunya adalah umbi-umbian.
Umbi-umbian merupakan bahan pangan yang memiliki rasa yang unik dan kandungan gizi yang baik, sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif.
Umbi-umbian telah dikenal sebagai pangan sejak lama oleh masyarakat di Indonesia, termasuk juga masyarakat di Indonesdia bagian Barat. Talas (Calocasia esculenta) merupakan tanaman umbi-umbian sumber karbohidrat yang banyak digemari masyarakat. Selain sebagai sumber karbohidrat non beras yang terkandung dalam umbi, daun talas juga mengandung protein.
Talas merupakan bahan makanan yang memiliki kandungan kalsium, vitamin A, dan vitamin C yang lebih baik dibandingkan dengan beras dan gandum. Kandungan gizi talas dibandingkan dengan beras dan tepung terigu dimana kandungan kalsium yaitu 6 beras, 16 gandum, 28 talas.
Kandungan Vitamin A yaitu 0 beras, 0 gandum, 20 talas. Kandungan Vitamin C yaitu 0 beras, 0 Gandum, 4 talas.
Talas Beneng (Xanthosoma undipes)
Talas beneng (Xanthosoma undipes) merupakan Sumber Daya Genetik (SDG) Lokal Banten yang dapat menjadi sumber pangan alternatif, karena memiliki karbohidrat yang cukup tinggi. Agroekologi talas beneng tersebar di wilayah sekitar Gunung Karang Kabupaten Pandeglang.

Talas Beneng memiliki karakteristik yang unik yaitu berukuran yang besar dan berwarna kuning (koneng) dengan bagian terbesar yang dapat dimakan berupa batang (umbi yang tumbuh di permukaan tanah). Oleh karena itu Talas Beneng juga sering dijuluki Si Umbi Raksasa.
Awal mulanya tanaman ini merupakan tanaman liar di dalam hutan Gunung Karang yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Talas beneng bukan tergolong jenis Colocasia esculenta seperti Talas Bogor atau Malang, tetapi tergolong dalam jenis keladi, dengan nama latin nya Xanthosoma undipes K.Koch atau dikenal juga dengan tall elephants ear.
Selain di Banten, belum ada informasi mengenai pemanfaatan tanaman ini di Indonesia. Talas beneng mulai dikonsumsi sejak tahun 1970-an saat krisis pangan, namun dikonsumsi secara sembunyi-sembunyi karena dianggap makanan kelas rendah. Karena itu perkembangannya sebagai pangan alternatif kurang banyak dikenal.
Pada tahun 2007 BPTP Banten sebagai salah satu UPT Balitbangtan berinisiatif mengunjungi Kecamatan Juhut dan menggali informasi lebih jauh mengenai Talas Beneng di Kecamatan Juhut, Kabupaten Pandgelang.
Dari hasil eksplorasi tersebut, Talas Beneng dapat dipanen pada umur 2-3 tahun dan mereka tidak melakukan budidaya secara khusus, karena tanaman tersebut tumbuh liar.
Informasi lainnya adalah Talas Beneng memiliki kandungan asam oksalat yang cukup tinggi. Tahun 2008 BPTP Banten mencoba melakukan inovasi dengan mengolah Talas Beneng menjadi keripik dan tepung talas.
Pengolahan diawali dengan menurunkan kadar asam oksalat yang dapat memberikan efek gatal apabila terkena kulit/termakan.
Inovasi pengolahan tersebut berhasil dan hingga saat ini pengolahan Talas Beneng menjadi Keripik dan tepung talas masih tetap berlangsung.
Tepung Talas Beneng banyak diminati dikarenakan memiliki berbagai kandungan gizi, yaitu : 10.11 g/100 g Kadar Air, 5 g/100 g Kadar Debu, 5.42 g/100 g Protein, 0.60 g/100 g Lemak, 78.87 g/100 g Karbohidrat, 343 kal/100 g Energy, 12.10 Mg/100g Fe, 8.41 Mg/100 g Zn, 0.73 Mg/100g Vit B1 dan 0.78 Mg/100 g Vit B2 (Balitbangtan).
Olahan tepung umbi Talas Beneng diantaranya berupa Cake Talas Beneng, Lapis Talas, Brownies Kukus, Cake Marmer Talas Beneng dan lain-lain.
Perkembangan Talas Beneng di Sukabumi
Petani Milenial Sukabumi dari Kampung Cijati Babakan, Desa Cicantayan turut andil dalam Pengembangan Talas Beneng di Sukabumi. Mereka tergabung dalam kelompok tani BTS (Babakan Tani Sejahtera) yang berdiri belum genap satu tahun dan mendapat SK pengukuhan kelompok tani dari kepala desa.
Para pemuda yang tergabung dalam kelompok tani BTS mendapatkan Talas Beneng dari Pandeglang Banten dan merupakan jenis tumbuhan yang sedang viral. Sudah ribuan bibit Talas Beneng ditanam dikebun milik para petani sekitar Kampung Cijati, bahkan sampai ke luar kampung Kedusunan Cijati.
Talas Beneng sudah ada yang menanam sejak tahun tahun 2020. Menariknya, sejak Bulan Februari 2021 sudah ada beberapa petani yang panen daun talas dari tumbuhan liar Talas Beneng. Pada umumnya daun talas beneng digunakan sebagai bahan pengganti tembakau (tembakau herbal/non nikotin).
Dikalangan masyarakat Cijati sendiri baru dapat memanen dan mengolah daun talas, belum memanfaatkan Umbi dan batangnya, walaupun sangat potensial untuk diolah sebagai bahan pangan alternative.
Daun Talas Beneng dapat dipanen sejak umur 4 bulan setelah tanam, dengan bahan bibit talas berupa bibit mahkota. Selanjutnya daun talas tersebut dapat diambil kembali satu minggu setelah pengambilan pada tanaman yang sama.
Pemanenan Daun Talas hanya diambil satu atau dua daun saja, tidak mengambil seluruh daunnya. Daun yang diambil adalah daun yang sudah tua, dicirikan dengan warnanya yang sudah menguning. Untuk satu Kilogram Daun Talas basah, 2-3 daun, dihargai sekitar Rp. 1.000,-
Sedangkan, batangnya (Umbi talas) bisa dipanen setelah berumur dua tahunan keatas, dengan ukuran satu pohon talas beneng memiliki berat umbi sekitar 20-40 kg. Untuk umbinya sendiri belum dimanfaatkan secara maksimal oleh poktan BTS, mengingat umur talas yang ditanam baru berumur sekitar satu tahunan dan belum dilakukan uji coba yang intensif pada pengolahnya.
Talas beneng biasanya ditanam dibawah naungan, baik itu berupa tanaman kayu-kayuan maupun buah-buahan. Pengembangan talas beneng dengan pola agroforestry sangat memungkinkan untuk dikembangkan mengingat talas beneng menyukai naungan.
Talas ini ditanaman dengan jarak sekitar satu meter, bila ditumpang sarikan dengan tanaman kayu-kayuan atau buah-buahan populasi talas sekitar 8.000 tanaman per hektar.
Para petani mendapat bibit talas dari pengurus Poktan BTS, yang didatangkan langsung dari Pandeglang. Selanjutnya mereka menjual kembali hasil panen daunnya ke Poktan tersebut.
Para petani milenial yang tergabung dalam poktan BTS berharap dengan dikembangkannya tanaman talas ini mampu membantu perekonomian warga, sekaligus menjaga ketahanan pangan di Desa Cicantayan.
Para pengurus poktan berencana akan mengembangkan tanaman ini ke seluruh hamparan pertanian di Desa Cicantayan. Tidak menutup kemungkinan Se-Kecamatan Cicantayan, bahkan diluar Kecaman Cicantayan, bekerjasama dengan poktan-poktan yang lain.
Menurut Pengurus kelompok tani tersebut, kelompok tani ini didirikan semata – mata bukan hanya ingin mendapat bantuan pemerintah, tetapi untuk mendongkrak perekonomian masyarakat dibidang pertanian.
Saat ini para pengurus poktan sedang bekerja keras melengkapi legalitas poktan juga sambil berkegiatan di kebun setiap harinya. Tujuannya demi tercapainya tujuan mereka, yaitu agar para petani Sejahtera. (Sukabumi – 21/02/22).













