Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Kita semua ingin menjadi masyarakat yang baik dan sejahtera. Namun, tentu tak mudah dan membutuhkan ikhtiar dan dasar karakter akhlak yang baik. Siapa diri kita apa kata orang lain, bisa demikian fakta sosialnya.
Nah dalam fenomen PPDB ada sejumlah hal menarik dan unik untuk dicermati. Apa yang unik dan perlu diedukasi ? Tiada lain adalah hadirnya masyarakat Malin Kundang. Siapa masyarakat Malin Kundang itu ? Tiada lain adalah oknum yang semangat ngoyag ngoyak sekolahan.
Sekolahan seolah dianggap kompleks bangunan dan organisasi biasa. Faktanya tidak demikian. Dari sekolahlah hampir semua orang dapat ijazah dan pengetahuan. Guru adalah orangtua edukatif yang pernah hadir dalam setiap anak didik.
Jangan ada masyarakat yang dulunya anak didik dari sekolahan mana pun intervensi lebay pada sekolahan. Sekolahan adalah “Ibu Kandung” dari semua warga masyarakat yang pernah belajar dan mendapatkan ijazah.
Masyarakat, oknum atas nama personal, ormas dan profesi apa pun, jangan sembarangan intervensi internal sekolahan. Kecuali tidak pernah menjadi anak didik. Jangan jadi Masyarakat Malin Kundang yang lupa Ibu Kandung Pendidikan yakni sekolah dan entitas GTK yang ada di dalamnya.
Kesalahan dan kasus di internal sekolahan memang tak pantas terjadi sekecil apa pun. Idealnya demikian karena sekolahan adalah pusat learning budaya dan karakter. Akhlak baik sejatinya dihabituasi di sekolahan, minimize hal negatif.
Namun jangan pula karena ada oknum di internal sekolahan seolah semangat intervensi dan ngobok ngobok sekolahan. Misal dalam hal ketika ada dinamika negatif internal sekolahan.
Jangan lebay jadi masyarakat dan hindari jadi masyarakat Malin Kundang yang lupa Ibu Kandung Pendidikan, sekolahan dan para guru.
Sekolah adalah dunia edukasi, bila ada hal yang salah dan menyimpang beri masukan edukatif dan peringatan yang elok. Sekolahan bukan pasar, mall, tempat parkir atau terminal. Sekolah adalah wilayah sakral sebagai Rumah Ibadah Pendidikan yang harus dihargai.
Jangan sampai ada oknum teriak kebenaran dan berkata “Bongkar kasus PPDB”. Ternyata yang teriak suatu saat tersedak dan tak kuasa menitip kan anak karena satu dan lain hal. Atau karena *1000* hal. Mari kita sama sama normatif dan edukatif dalam memandang realitas dinamika sekolahan.
Tidak ada satu pun orang yang hidupnya berkah dengan merendahkan martabat orangtua, guru, ulama dan sekolahan. Mari menjadi bagian dari upaya elok transformasi layanan pendidikan. Saling mengingatkan dengan edukatif, kooperatif dan kolaboratif.
Faktanya semua manusia adalah pemodus dan moduser terbaik. Mari kita minimalis modus negatif dan maksimize modus konstruktif. Apa yang bisa kita beri pada orang lain bukan apa yang kita intervensi pada orang lain. Setiap kebaikan adalah kebaikan, setiap kemodusan adalah modus.












