OPINI/Artikel

PGRI Memecat Guru

adminsigiku.com
×

PGRI Memecat Guru

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI)

Mungkin baru dalam sejarah selama 77 tahun ada pengurus PGRI Pusat diberhentikan tanpa komunikasi, tanpa etika. Seorang Ketua Umum PB PGRI dengan otoriter menghentikan seorang pengurus BPLP PGRI pusat bernama Raden Caca Danuwijya.

Raden Caca Danuwijya karena kritis dan berpikir berbeda, diberhentikan. Ini satu dinamika organisasi yang tidak diketahui oleh publik PGRI. Ketua Umum PB PGRI yang dosen memecat guru SMAN, anggota PGRI. Ini cacat sejarah dalam organisasi PGRI. Tidak ada dan tidak boleh ada PGRI memecat guru.

Mengapa tidak boleh ada ? Karena PGRI adalah untuk guru dan milik guru. PGRI hadir di negeri ini untuk menghormati dan memperjuangkan martabat guru. Bukan memecat guru. Ketua Umum PB PGRI era saat ini memang bermasalah secara kapasitas dan etika. Ini tak elok untuk masa depan PGRI.

Bisa jadi Ketua Umum PB PGRI saat ini rasa gurunya zero karena belum pernah menjadi guru SD/SMP/SMA sederajat, sehingga tak mengerti kebatinan guru. Bisa jadi pula karena Ketua Umum PB PGRI sekarang tidak pernah mengurus PGRI dari bawah atau daerah. Rasa keorganisasian daerahnya zero.

Dahulu Ketua Umum PB PGRI (Basyuni Suriamiharja, Prof. Surya dan Dr. Sulistiyo) adalah pengurus daerah dulu, baru ke PB PGRI. Mereka bertiga sangat memahami guru dan dinamika organisasi guru di daerah, karena berasal dari daerah. Tidak ujug-ujug nongol di atas.

Kita dukung Ketua Umum PB PGRI yang hari ini bertugas sampai tahun 2024. Pasca Kongres tahun 2024 harus dicari para ketua PGRI Provinsi terbaik. Kembalikan kejayaan PGRI, jangan seperti sekarang ini yang banyak masalah dan dirasa para guru di daerah kurang wow.

Sebagai aktivis PGRI Saya memahami Pemerintah/Kemdikbud tidak dekat dengan PGRI saat ini dimulai saat “penolakan” program pemerintah/Kemdikbud bernama POP, Sekolah Penggerak dan Rancangan RUU Sisdiknas. Padahal para guru dilapangan sangat antusias menyambut sekolah penggerak dan guru penggerak.

Ke depan, pasca Kongres PGRI tahun 2024 dibutuhkan Ketua Umum PB PGRI yang berasal dari daerah yang faham akan dinamika guru dan organisasi. Kebatinan dan rasa organisasi gurunya harus kuat melekat. Semoga tidak ada lagi mental otoriter, spirit arisan dan mengelompok dalam organisasi PGRI kita.

PGRI adalah organisasi kolektif, egaliter, kolegial, sejajar, tidak ada otoriterian, spirit arisan dan hanya orang itu-itu saja. PGRI adalah rumah kebersamaan, sejajar memperjuangkan harkat martabat guru. Jangan sampai Ketua Umum PB PGRI sekarang nanti terpilih kembali, sehingga “berkuasa” 13 tahun. Ini bahaya bagi organisasi.

Jenderal Susno Duaji mengatakan, “Mengapa Jenderal Sambo sewenang-wenang?” Jawabannya karena Ia berkuasa lebih lama. Nah dalam organisasi PGRI akan sangat bahaya dan makin otoriter dan menguatkan kelompok, bukan organisasi bila tahun 2024 dalam kongres tidak ada Ketua Umum baru.

Selamatkan PGRI. Hentikan konflik internal dan eksternal atau minimize dengan kehadiran tokoh baru, Ketua Umum baru. Saya sebagai entitas Dewan Pembina PGRI mendorong kader-kader terbaik dari PGRI Provinsi maju bersama, bersama maju, benahi dan selamatkan PGRI.

Jangan ada lagi pengurus ujug-ujug menclokdi PB PGRI, tidak punya KTA, atau hanya KTA dadakan, tidak pernah menjadi pengurus di bawah dan tidak tercatat di ranting mana, bayar iuran dimana. Ini cacat sejarah organisasi. Selamtkan PGRI. PGRI Abadi. AD ART substansinya jangan ada Ketua PGRI berkuasa lebih dari 10 tahun.