Ragam

Menyoal Cinta dan Amaliah, Esensi Beragama

adminsigiku.com
×

Menyoal Cinta dan Amaliah, Esensi Beragama

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Bila Rene Descartes mengatakan, “Aku berpikir maka Aku ada”. Rene mengakui keberadaan kita karena adanya alam fikir, bukan alam fisik. Bukan karena fisik tubuh kita, kita berada dan mengada. Pemikiran Rene menguatkan keberadaan pikiran. Pikiran adalah keberadaan dari manusia itu sendiri.

Allah, Tuhan yang maha Esa menjelaskan bahwa ciptaan terbaik Nya adalah manusia. Mengapa? Karena manusia punya akal, kemampuan untuk menalar kehidupan. Akal pikiran adalah inti dari keagungan dan keistimewaan Sang Manusia.

Namun benarkah kita ada, agung dan istimewa karena akal pikiran? Tentu saja benar dan tak bisa dibantah bahwa akal pikiran manusialah yang membuat dirinya sebagai makhluk Tuhan terbaik. Bukankah agama pun hanya bagi yang berakal pikiran?

Sebuah hadits terlepas sahi dan tidak menyatakan “Agama (islam) itu ialah akal, tidaklah agama itu bagi orang yang tidak berakal baginya”. Ini sangat masuk akal, tidaklah mungkin orang yang tidak berakal atau tidak sehat akalnya mencerna dan melakukan perintah agama.

Kita akan sepakat bahwa akal pikiran manusia adalah potensi luar biasa dalam diri manusia untuk menunjukan “kemanusiaannya”. Bahkan untuk menunjukan keunggulan dan kekuasaannya di atas semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada. sdbab akal pikiran manusia keajaiban kehidupan manusia dapat terjadi.

Namun tunggu dulu! Dahsyatnya akal pikiran manusia masih koma menurut Saya. Akan sangat banyak orang berpikir dan menggunakan akalnya untuk kehidupan dan bermasyarakat. Namun apakah semua akal yang digunakan mendatangkan kebaikan?

Apakah perang saudara, perang dunia dan segala hal yang bisa mendatangkan dampak negatif bukan buah akal pikiran manusia? Tentu saja itu semua adalah buah akal pikiran manusia. Kalau begitu akal pikiran manusia bisa membuat manusia tidak mulia dan bahkan bar bar?

Ya faktanya asbab akal pikiran manusia banyak hal tak agung dan tak istimewa bisa terjadi. Banyak sekali orang beragama yang menggunakan akal pikirannya malah saling berbantah-bantah terkait agama yang dianut. Tidak sedikit orang saling menjelekan antar agama.

Mereka saling kofar kafir hasil pikirannya dan didasarkan pada pemahaman kitab suci yang meraka miliki. Ini buah akal pikiran? Ya tentu saja buah akal pikiran manusia. Kok buah akal pikiran manusia yang didasari agama masing-masing saja masih bisa bermasalah?

Itulah akal pikiran, punya potensi menyimpang dan mengarah pada perbuatan dan keputusan yang tak benar. Lantas bagaimana akal pikiran supaya benar-benar memberi manfaat dan kebaikan bagi sesama manusia, bahkan melintasi agama yang dianut semua pemeluk agama?

Rene Descartes yang menyatakan pikiran sebagai hal utama keberadaan manusia dan hal keagungan manusia dalam agama, harus ditafsir pada keberlanjutan atau produk akalnya. Akal harus dan wajib memproduksi manfaat dan khidmat pada umat manusia.

Akal pikiran yang tidak memberi manfaat dan melahirkan kesejahteraan bersama umat manusia maka akal dan bahkan agamanya salah ditafsir dan diimplementasikan. Melihat agama dan penganutnya harus dipandang bukan dari kemampuan akal pikirannya. Lantas darimana?

Lihatlah kebaikan dan keunggulan orang, agama apa pun. Cinta dan amaliahnya bagi kehidupan manusia adalah utama. Agama apa pun, walau mengaku paling baik, paling sempurna, pemilik Surga, bila cinta dan amaliah penganutnya bermasalah maka masalah lah hasilnya.

Esensi semua penganut agama adalah cinta dan amaliah. Cinta pada sesama manusia, apa pun agamanya, bangsa mana pun asalnya, karena semua satu keturunan dan sama-sama ciptaaan Tuhan. Cinta sesama dan mengutamakan amaliah adalah utama.

Para nabi diutus untuk membawa pesan universal tentang bagaimana berkahlak, beramaliah yang baik atas dasar cinta sesama manusia. Orang bermartabat, istimewa dan dihargai bukan karena agamanya, warna kulit dan hartanya semata, melainkan sejauh mana amaliah dan cintanya pada sesama.

Agama esensinya adalah cinta dan amaliah. Cinta dan amaliah atas dasar syukur pada Ilahi karena Ia pun menciptakan kita, melahirkan kita asbab nur cinta_Nya. Kita tidak pernah meminta dilahirkan dan dihidupkan ke muka bumi. Tapi, Allah, Tuhan yang maha Esa melahirkan kita.

Mengapa tidak? Kita pun bisa menduplikasi sifat-sifat Tuhan dengan melakukan hal yang sama. Lakukan, perbuat cinta dan amaliah, tanpa diminta sesama. Tanpa diminta oleh kita, Tuhan melahirkan kita di muka bumi. Tanpa diminta oleh siapa pun, tanpa dilihat dan berharap jabatan, mari kita bercinta dan beramaliah dengan sekemampuan kita.