Dua Tahun Rebahan, Kini Meresahkan

0
194

Oleh : Dudung Nurullah Koswara

Para pendidik sebaiknya menangkap pesan Gubernur Jawa Barat tentang pentingnya kecerdasan antisipatif. Kita harus memiliki kemampuan, keterampilan antisipatif terhadap segala sesuatu yang mungkin terjadi.

Terutama bagi entitas pendidik. Jangan mendidik asal, asal mendidik, asal mengajar dan mengajar asal. Pastikan tuntutan kompetensi pedagogik benar-benar terimplementasi dipekerjaan. Plus antisipatif terhadap dinamika apa pun terkait anak didik.

Setiap guru wajib lebih feka dan mendalami apa yang terjadi dengan anak didik, di sekitar anak didik dan keluarga anak didik. Guru tugasnya sangat berat, tidak hanya transfer pengetahuan dan keterampilan. Namun pantau anak didik dengan baik.

Antisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi pada setiap anak didik. Mulai dari masalah daya serap mata pelajaran, keterampilan, karakter, dan bahkan sisi radikal anak didik. Waspada saat ini agak marak fenomena “kebangkitan kaum rebahan”.

Saat wabah Covid-19, anak didik mayoritas rebahan. Bahkan bukankah orangtua pun ikut rebahan sebagian ? Kini setelah wabah mulai dianggap menghilang, Sebagian anak didik ada yang berperilaku radikal. Sejumlah tawuran dan kekerasan mulai terjadi.

Guru dituntut feka dan antisipatif terhadap apa pun yang terjadi pada anak didik. Pastikan setiap anak didik tersentuh secara efektif dan sisi afeksinya. Tidak hanya tersentuh secara klasikal. Sentuhan klasikal bagi anak baik tidak lah menjadi soal. Bagi anak ada masalah?

Anak yang bermasalah lebih membutuhkan sentuhan khsusus dari guru-gurunya. Terutama anak yang punya potensi radikal, ada catatan masa lalu dan berada di daerah masyarakat yang banyak jawara atau premannya.

Maraknya tawuran akhir-akhir ini seolah menjelaskan sebagian anak yang selama dua tahun rebahan bangkit dari dunia rebahan yang menjenuhkan. Saat rebahan hidup dalam dunia maya dan saat ini agresif di dunia nyata. Mereka Sebagian nongkrong dan keluyuran dengan gengnya.

Anak-anak sekolah banyak yang menjadi korban dan menjadi biang masalah. Guru harus benar-benar antisipatif terhadap agresifitas kriminal anak didik. Sejumlah anak didik ditemukan konvoi malam hari dan membawa senjata tajam. Ini menyedihkan dan mengerikan.

Mengajar dan mendidik saat ini harus benar-benar jeli. Tidak hanya fokus pada kemampuan daya serap anak pada mata pelajaran melainkan melebar ke masalah lainnya. Masalah radikalisme geng motor dan kenakalan lainnya.

Jangan sampai karena mengajar dan mendidik gaya klasikal, terlalu klasikal borongan, kodian, maka anak secara personal kurang tersentuh. Mendidik dan mengajar itu harus menyentuh sisi karakter dan mentalitas personal, bukan hanya klasikal.

Mendidik dan mengajar adalah pekerjaan tersulit. Inilah yang menyebabkan menjadi guru adalah menjadi orang paling istimewa. Karena berhadapan dengan jenis manusia belum dewasa dengan berbagai karakter dan mereka semua adalah calon penghuni masa depan.

Kurikulum Merdeka menghendaki setiap anak tersentuh pribadinya dan diperlakukan berbeda, berdiferensiasi. Setiap anak punya unikasi dan pintu masuknya sendiri dalam belajar. Setiap anak berbeda walau dalam satu ruang yang sama.

Terutama anak “ABK” Ia membutuhkan sentuhan khusus. Setiap anak adalah peniru ulung dan sekaligus pelaku segala ingin mencoba. Jangan sampai alumni bermasalah dan teman sebaya yang kriminal menjadi objek peniruannya. Atas dasar spirit. “Saya jagoan”.

Pastikan setiap anak menjadi jagoan dihadapan guru dan teman sebayanya di ruang kelas dan sekolahan. Bukan di pasar, di konvoi geng motor atau di entitas anak bermasalah. Masalah anak adalah masalah kita semua (orang dewasa) terutama guru.