OPINI/Artikel

Jangan Didik Anak Sesuai Zamannya

adminsigiku.com
×

Jangan Didik Anak Sesuai Zamannya

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurulah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Dalam grup WAG sarjana pendidikan sejarah UPI selalu hangat menyengat. Setidaknya ada dua profesor aktif yang mengguide WAG ini. Kedua profesor ini adalah bukan profesor sembarang profesor, bukan profesor mainstream.

Grup WAG ini selalu hangat menyengat. Bisa pula saling cubit, sindir, humor dan kajian pengetahuan umum. Isue terhangat adalah hadirnya buku karya Toto Suharya, penulis aktif dan kepala sekolah berprestasi.

Buku Toto Suharya berjudul “The Courage To Create” mendapat tanggapan entitas WAG. Mulai dari kritik pada penulisan sampai pada sejumlah istilah populer. Saya pun ikut menjaili. Saya katakan mendidik anak sesuai zamannya adalah mainstream.

Termasuk sejumlah orang merasa bangga mendidik anak naik kuda dan panahan, seolah sunah padahal sudah tak zaman lagi. Didiklah anak jangan sesuai zamannya, karena zaman Ia dewasa kelak, sudah ada hal baru lagi. Zamannya sudah baru lagi.

Kreatifitas, inovasi dan mengajarkan sesuatu yang “tidak sesuai zamannya” jauh akan lebih bermanfaat. Mengapa? Karena zaman hari ini akan segera lewat, usang dan kadaluarsa. Ajarkan anak didik sebuah pengetahuan, keterampilan yang akan terjadi 30 tahun kemudian.

CTL atau contexktual teaching and learning akan segera kadaluarsa. Akan segera berganti dengan DL atau disruptif learning. Apa DL? Guru wajib mengajarkan anak didik “tidak sesuai zamannya”. Ajarkan sesuatu yang belum ada. Tidak ada di HP dan realitas sebayanya.

Sertidaknya dengan dasar Trisula Sukses. Apa Trisula Sukses? Ajarkan hal yang akan terjadi, bukan yang tren terjadi berdasar tiga kekuatan, yakni kekuatan pikiran dan keterampilan, kekuatan keberanian, dan kekuatan karakter. Berani, terampil berwawasan dan berkarakter.

Einstein mengatakan “Ilmu pengetahuan dapat membawamu dari A sampai Z, tapi, imajinasi mampu membawamu ke mana pun”. Ajarilah anak dari realitas fiktif imajinatif bukan realitas objektif sesuai zamannya.

Prof. Yuval Noah Harari mengatakan “Manusia hidup dengan kekuatan realitas fiktif, sementara binatang hidup dengan realitas objektif”. Manusia terus berkembang secara peradaban dan binatang tidak akan pernah berkembang, tak punya imajinasi.

Dimensi imajinasi bukan dimensi yang sesuai zamannya. Dimensi imajinasi adalah dimensi realitas fiktif, belum ada dan akan terjadi pada masa depan. Tidak kadaluarsa. Didiklah anak jangan sesuai zamannya. Ahaa.