OPINI/Artikel

Antisipasi Radikalisme

adminsigiku.com
×

Antisipasi Radikalisme

Sebarkan artikel ini

ANTISIPASI RADIKALISME

Oleh : Sumiati (IRT, Pemerhati Sosial)
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung baru-baru ini melaksanakan sosialisasi peningkatan deteksi dini terkait radikalisme dengan meningkatkan peran serta masyarakat, khususnya perempuan. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat menggelar Perempuan TOP (Teladan Optimis dan Produktif) Viralkan Perdamaian yang berlangsung di Aula Gedung Ormas Islam Kabupaten Bandung, dari tanggal 2-3 November 2022.

Salah seorang narasumber menegaskan falsafah Sunda, silih asah silih asih silih asuh merupakan salah satu kearifan lokal Jawa Barat yang bisa dijadikan nilai pencegahan pemikiran radikal dan tindak terorisme.

Menurutnya, perempuan memiliki daya tangkal yang tinggi karena memiliki pengetahuan terkait bahayanya radikalisme, terutama dari serangan media sosial dan digital.

Menurut narasumber yang lain baginya, keterlibatan perempuan dalam radikalisme paling tidak terpola menjadi tiga bentuk peran yaitu: Pertama, sebagai pendamping setia dengan peran domestik, yaitu sebagai istri, pengikut setia, dan ibu dari calon-calon teroris.

Kedua, Ahli propaganda dan agen perekrutan. Para perempuan dilarang bertempur secara langsung namun diberikan peran di dunia maya sebagai ahli propaganda, pendakwah, dan perekrut dari kelompok radikal.

Ketiga, direktur sebagai fighter/bombers karena perempuan dianggap bisa mengelabui petugas dibanding laki-laki yang mudah dicurigai.

Isu radikalisme sebenarnya bukan baru-baru ini menjadi bahan pembicaraan, tapi sudah sejak lama isu ini dipublikasikan. Semenjak peledakan gedung WTC 11 September 2001, AS telah memanfaatkan isu terorisme sebagai bagian dari skenario globalnya untuk melemahkan Islam dan kaum Muslim. Karena itu yang menjadi korban dari isu radikalisme maupun terorisme adalah Islam dan kaum Muslim. Buktinya, atas nama perang melawan radikalisme, sebagian ajaran Islam dikriminalisasi. Apalagi sekarang yang dicurigai adalah perempuan.

Barat membidik perempuan sebagai tempat moderasi agama mempautkan dengan isu-isu yang membuat Islam buruk dimata masyarakat, maka tak heran keluar analisa seperti itu dihasil pertemuan.

Apa yang disampaikan terkait ketiga peran perempuan dalam membentuk calon-calon teroris sebenarnya tidak sesuai dengan peran perempuan dalam Islam.

Karena sesungguhnya peran perempuan dalam Islam itu sebagai ummun warabatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga). Perempuan di dalam Islam sebagai pencetak generasi yang cemerlang bukan sebagai pencetak calon-calon teroris sebagaimana yang disampaikan oleh narasumber diatas.

Adapun peran perempuan sebagai pendakwah itu adalah suatu kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya di dalam QS. at-Taubah[9]:71, yang artinya:
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-nya asul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah SWT. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Kemudian terkait perempuan sebagai fighter/bombers itu pun anggapan yang keliru karena didalam Islam tidak boleh ada kekerasan sekalipun dalam menghadapi musuh.

Miris ketika mendengar terkait isu radikalisme, terorisme dan ekstrimisme yang menjadi sasarannya adalah Islam dan kaum Muslim. Seharusnya kita yang beragama Islam jangan pernah ada curiga kepada kaum Muslim karena sejatinya kaum Muslim adalah bersaudara seperti satu tubuh, baik kaum Muslim yang ada di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Sebagai kaum Muslim seharusnya kita lebih bijak dalam menyikapi narasi-narasi yang menyudutkan Islam dan kaum Muslim. Yang seharusnya patut dicurigai adalah kafir penjajah yang selalu berupaya untuk menjauhkan kaum Muslim dari Islamnya. Barat akan terus berusaha supaya kaum muslim takut dengan Islam (Islamophobia) dengan terus menyudutkan Islam dengan narasi-narasi seolah-olah Islam itu radikal, Islam itu teroris dan lain sebagainya.

Alhasil, antisipasi radikalisme sebenarnya yang diuntungkan itu siapa? Yang pasti bukan kaum Muslim tapi kafir baratlah yang diuntungkan. Karena ketika kaum Muslim jauh dari Islamnya maka kebangkitan Islam akan semakin jauh dan barat akan terus mencengkram negeri-negeri Islam.

Maka dari itu yuk kaum Muslim yang ada di Kabupaten Bandung khususnya dan diseluruh Indonesia pada umumnya segeralah bangkit dari pemikiran yang mempengaruhi dan mengakibatkan jauh dari sang Maha Pencipta.

Islam diturunkan oleh Allah SWT bukan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan melainkan untuk menuju jalan yang lurus. Islam adalah agama rahmatan lil’aalamin. Sebagai firman Allah SWT di dalam QS al-Anbiya:107, yang artinya:
“Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai Rahmat bagi seluruh alam.”

Kenapa Islam sebagai agama rahmatan lil’aalamin karena Islam bukan hanya untuk kaum Muslim saja melainkan non muslim pun ketika mereka menjadi bagian dari Daulah Islam maka akan dijamin kesejahteraannya, keamanannya. Dan bukan hanya manusia tetapi seluruh makhluk Allah SWT yang ada di muka bumi ini akan terjaga, tidak seperti saat ini.

Maka dari itu sebagai kaum Muslim janganlah menjadi orang yang takut dengan agamanya sendiri yaitu Islam.

Wallahu’alam bishshawab