Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Ada satu perkataan yang masih Saya ingat, semoga tak salah. Kata ini muncul dari Kakak Saya yang saat itu menjadi seorang wartawan. Ia mengatakan, “Kalau kita ingin pintar, jadilah wartawan, kalau kita ingin kaya, jadilah pengusaha”.
Perkataan itu masih Saya ingat. Kini di hari Pers Nasional pesan itu teringat kembali. Sungguh sangat benar bila kita ingin pintar jadilah seperti wartawan profesional. Cepat, akurat, kontekstual dalam menyajikan berita.
Seorang wartawan terbaik selalu lebih duluan dalam mengetahui sebuah isu-isu aktual. Dalam acara Puncak Hari Pers Nasional yang digelar di Gedung Sebarguna Pemprov Sumatera Utara di Deli Serdang, Kamis (9/2/2023), Presiden Jokowi mengapresiasi berdasarkan pengalamannya.
Jokowi menyatakan bahwa dirinya bisa menjadi seorang presiden diantaranya asbab jasa para wartawan. Ia pertama kali “kolaborasi” dengan entitas insan pers saat jadi Walikota Solo. Selanjutnya gubernur dan kini presiden.
Dalam pernyataannya Jokowi mengatakan Ia sebagai manusia/rakyat biasa bisa jadi presiden karena publikasi insan pers. Insan pers nasional telah menjadi kanal informasi apa pun di negeri ini. Termasuk kemunculan Jokowi yang fenomenal.
Pers nasional kita tentu saja akan memengaruhi iklim informasi nasional kita. Tentu saja pers nasional yang objektif dan edukatif. Bukan pers abal-abal yang stigmatik, menebar provokasi, politisasi dan mengintimidasi.
Pers adalah variabel control dan informasi yang sangat penting di berbagai bangsa. Tanpa insan pers dunia akan disliteret dan sepi dinamika. Asbab insan pers berbagai hal positif dan dinamika positif yang menguntungkan publik terjadi.
Mari kita semua jadi pribadi pintar, sepintar insan pers. Mari kita menjadi bagian dari kontrol sosial terkait berbagai hal. Mari kita semua semakin literet dan adil dalam bernarasi. Jauhi fitnah, gossip dan narasi narasi disedukasi.
Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers nasional kita makin baik dan kontributif pada kejayaan NKRI. Semoga pula oknum pers abal-abal yang merusak citra pers nasional dan merusak iklim opini publik, semakin hilang. Wartawan smart, pubik pun smart.











