OPINI/ArtikelRagam

Kepala Sekolah Wajib Menulis

adminsigiku.com
×

Kepala Sekolah Wajib Menulis

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)

Masih ingat pernyataan Prof. Dr. H. Moh. Surya terkait entitas sarjana pohon pisang. Entitas sarjana pohon pisang adalah para sarjana yang hanya menulis satu kali ketika membuat skripsi.

Pohon pisang hanya satu kali berbuah, seumur hidupnya. Itulah sarjana yang tidak mau menulis dan tak pernah menulis lagi selain skripsinya.

Terutama sarjana pendidikan, Prof. Surya ingin mengajaknya untuk belajar menulis. Mengapa ? Karena guru harus digugu ditiru, termasuk dalam tradisi baca dan menulis.

Sebelum trend dunia literasi dan tulis menulis, Prof. Surya jauh-jauh hari sudah mengajak terutama para sarjana untuk menulis. Menulis adalah sebuah “kewajiban” bagi sarjana pendidikan.

Apalagi para kepala sekolah, wajib menulis. Budaya literasi yang saat ini selalu menjadi asbab mengapa bangsa kita tertinggal dari bangsa lain. Diantaranya adalah masalah lemahnya literasi.

Diantara definisi dan fokus literasi adalah dunia baca tulis. Dunia membaca kita lemah, sebuah survai menyatakan dari 1000 orang, hanya 1 orang yang membaca. Apalagi dunia menulis, bisa jadi dari 10.000 orang hanya 1 yang menulis.

Guru dan terutama kepala sekolah masuk kategori “wajib menulis”. Hindari menjadi sarjana pohon pisang, hanya menulis skripsi atau tesis saja. Sebagai Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, Saya mengajak entitas kepala sekolah mulai menulis. Yu belajar menulis.

Betapa indahnya bila setiap kepala sekolah mampu meninggalkan jejak literatif di perpustakaan sekolahnya. Bila Ia pernah bertugas di sejumlah sekolah maka Ia meninggalkan jejak tulisan, buku atau karya antologi bersama para guru.

Penulis terbaik adalah penulis yang tulisannya buruk. Namun terus menulis. Penulis terburuk adalah penulis dengan tulisan istimewa tapi hanya satu kali menulis. Berhenti dan tidak melanjutkan.

Pepatah bijak mengatakan, “Sehebat apa pun kata-kata kita dan keteladanan kita, akan raib tanpa jejak bersama akhir usia kita. Namun seburuk apa pun tulisan kita akan abadi, terus hidup dalam jejak digital dan perpustakaan”.

Menulis adalah diantara cara hidup abadi manusia. Selain melangsungkan keturunan. Keturunan adalah cara manusia mengabadikan dirinya, dan tulisan adalah cara Ia tetap hidup melalui karya pemikirannya.

Prof. Dr. Didin Hafiduddin menyatakan mengapa sejumlah manusia terbaik raib, hilang dari sejarah manusia ? Karena Ia tidak menulis dan wafat bersama jasadnya.

Mengapa ada tokoh terkenal sekaliber Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali ? Karena mereka menulis dan menulis. Menulis menunjukan bahwa kita adalah makhluk yang tidak hanya berpikir melainkan berkarya.

Semua manusia berpikir karena memang berakal. Namun tidak semua manusia berpikir menuliskannya. Ungkapan populer “Aku ada karena Aku Berpikir” sudah jadul, terdisrupsi oleh ungkapan “Aku Ada Karena Aku Menulis”.

Tulisanlah yang membuat seseorang “sah” jadi sarjana, magister, doktor dan profesor. Bahkan semua kitab suci tanpa ada tulisannya akan raib menjadi legenda dan mitos. Sayup – sayup bisa hilang.

Mari, terutama para sarjana pendidikan, kepala sekolah mulai menulis. Label sarjana pohon pisang bukan untuk kita yang bergelut di dunia pendidikan. Mengapa? Karena anak didik “maha melihat” dan meniru.