Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Al haya’u minal iman. Bisa diartikan, malu sebagian dari iman. Kalau kita mau jujur sejujur jujurnya, betapa malunya kita sama Allah, Tuhan yang maha memberi tanpa diminta. Segala nikmat yang kita rasakan hari ini adalah “Surga” dunia yang diberikan_Nya.
Kita terlahir tanpa meminta, hidup pun karena_Nya. Sampai sa’at ini kita masih diberi rezeki karena_Nya. Bahkan bukankah dosa-dosa kita tak terhitung? Bukankah banyaknya dosa kita bagai buih di lautan dan ma’afnya Allah bagai lautannya, lebih luas berlipat?
Manusiawi memang sebagai orang beriman dan beragama, kita masih berharap Surga dari_Nya. Jujur sejujur jujurnya, kita sebenarnya malu dan sangat malu bahkan tak pantas. Apalagi bila segala kebaikan yang kita lakukan hanya karena ingin Surga.
Masihkah kita berharap Surga atas segala nikmat yang Allah berikan setiap detik, menit, jam dan hari kepada kita. Tidak cukupkah kita dengan segala pemberiannya sampai saat ini ? Udara yang kita hiru setiap hari gratis. Kita pun masih bisa makan dan minum.
Apalagi orang yang sudah melintasi puluhan tahun hidup dalam kesajahteraan. Punya istri, beberapa istri, beberapa anak, beberapa cucu, sejumlah kekayaan yang tak terhitung. Sangat cukup bahkan berlebih sekali pun tidak berharap Surga. Malu lah pada Allah.
Sungguh rasanya kok sangat malu kalau kita masih berhapa Surga kepada_Nya. Pantaskah kita? Sungguh kalimat menyindir yang mengatakan, “Sudah dikasih ati minta limpa”. Seolah, nafsu manusia selalu kurang dan minta lebih.
Tulisan ini bukan tulisan lebay, tetapi kok rasanya malu ya pada Allah yang maha baik. Sudah memberikan segalanya pada kita. Rasanya kalau masih memimpikan Surga, berharap Surga bagaikan sindiran di atas, “Sudah dikasih dunia masih meminta Surga”.
Saya ambil satu narasi dari NUOnline yang menuliskan “Suatu kali Fudlail ibn ‘Iyadl berkata, “Seandainya saya diminta memilih antara dua hal, yakni dibangkitkan lalu dimasukkan Surga atau tidak dibangkitkan sama sekali, saya memilih yang kedua.”
Fudlail malu. Tokoh sufi ternama ini merasa tak pantas menerima ganjaran pahala seandainya Ia memang mendapatkannya. Fudlail ibn ‘Iyâdl bukan sedang ingkar terhadap surga dan kebahagiaan di dalamnya.
Gejolak jiwanya lah yang mendorongnya bersikap semacam itu. ‘Abdul-Malik ‘Alî al-Kalib mencatat pernyataan ulama yang juga kerap disapa Abu Ali tersebut dalam kitab Raudlatuz Zâhidîn ketika membahasan Cinta dan Malu kepada Allah.
Kecintaan Fudlail yang memuncak kepada Tuhannya menghilangkan angan-angan akan pamrih apapun. Kebaikan yang ia lakukan tak ada bandingnya dengan anugerah-Nya yang melimpah. Bahkan kesanggupannya berbuat baik sesungguhnya adalah secuil dari anugerah itu sendiri.
Kisah naratif di atas menjelaskan pula, cukuplah Allah, cukuplah ridha Allah. Kita lebih pantas dan elok hanya berharap ridha Allah saja. Jangan terlalu bernafsu mendapatkan Surga yang makhluk itu. Kita cukup Khalik saja yakni Allah semata, tidak yang lainnya.
Sangat manusiawi bila kita berharap masuk Surga kelak. Namun lebih elok dan bijak kehidupan kita, akhlak dan ritual kita bukan karena ingin Surga. Melainkan karena tasyakur, tafakur dan muhasabah yang mendalam akan keagungan Allah di atas segala galanya.
Surga itu makhluk, Allah itu khalik. Sungguh indah bila hidup kita hanya fokus dan terkagum-kagum hanya karena iman kita kepada_Nya langsung tanpa asbab kemakhlukan. Tak mudah, tapi mari kita coba.











