OPINI/Artikel

Menangkap Lontaran Kata-Kata Bima

adminsigiku.com
×

Menangkap Lontaran Kata-Kata Bima

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Selain kritik pedas pada pemerintah daerah Provinsi Lampung, ada sejumlah kata-kata Bima Yudho Saputro yang bisa kita cermati. Apa pun kata-kata Bima adalah bagian dari representasi anak muda saat ini.

Ekspresi anak zaman ini, terutama dalam media sosial lebih bebas dan merdeka. Tak heran ada diksi tak nyaman didengar bagi yang dikritik. Pasti baperan.

Namun dibalik diksi yang tak elok didengar ada pesan subtantif didalamnya. Sisi lain bahasa gaulnya agak kurang enak didengar, sisi lain pesan moralnya sangat mengena. “Kena lho”, demikian khas Bima bicara.

Hal yang menarik dari kata-kata Bima diantaranya adalah, Ia mengatakan, “Nenek moyang Ku seorang koruptor”. Sungguh Ia telah “membajak” syair populer terkait nenek moyang Indonesia sebagai seorang pelaut.

Namun disisi lain Ia hendak menyampaikan pesan subtantif bahwa, “Please jangan permalukan kami di masa depan sebagai generasi bangsa yang lahir dari nenek moyang koruptor”. Pesan sakralnya, “Stop Korupsi!”

Nenek moyang seorang pelaut itu hebat. Pemberani, tangguh, bermental pejuang menghadapi ganasnya lautan samudra. Bagi Bima nenek moyang seorang pelaut itu keren dan terhormat.

Namun bila nenek moyangnya saat ini mayoritas koruptor, sungguh memalukan. Ini diantara pesan yang ingin Ia sampaikan. Ia hendak memberikan sebuah sengatan dan cubitan integritas dan kejujuran dalam mengelola pemerintah.

Bagi Jokowi dan Mahfud MD pesan kata-kata Bima ini sangat bisa diterima. Mengapa sangat bisa diterima? Karena pemerintah pun “kerepotan” dalam memberantas korupsi.

Jokowi pernah mengatakan bahwa diantara cara memberantas korupsi adalah mulai dari para pemimpinnya. Bahkan ungkapan bijak mengatakan, “Ikan busuk mulai dari kepalanya”. Sang Pemimpin baik, bawahan akan baik.

Hadirnya lontaran kata-kata Bima seolah “sinergi” dengan Jokowi dan Mahfud MD. Dari atas Jokowi dan Mahfud MD memberantas, dari bawah masyarakat memberi dukungan. Terutama masyarakat anak muda yang masih zero korup dan idealis.

Apa yang disampaikan Bima pun tidak hanya “menampar” pemerintah. Ia pun memberi cubitan pada generasi muda dan orangtua yang dianggapnya kolot, konservatif dan jauh dari terbuka pikir.

Diantara kritiknya adalah banyak anak muda. Calon mahasiswa dan orangtua, saat mau menyekolahkan anaknya terlalu memikirkan ritual dan bangunan ritual. Padahal mencari ilmu di negeri orang, ritual dan ibadah masih bisa dilakukan dengan baik.

Saat Saya berada di Ausie, banyak pula orang Indonesia belajar di sana. Sikon untuk belajar sangat baik. Bima pun nampaknya merasakan itu. Walau tentu tetap harus hati-hati jaga diri, jaga mental. Mengapa? Karena budaya kita dan budaya di Ausie berbeda.

Namun kalau kita mau jujur banyak sisi positif yang bisa didapatkan generasi kita saat belajar di luar negeri. Terutama negara-negara non muslim yang “Islami” sebaimana hasil penelitian versi Prof. Askari.

Kita menghargai Bima, seorang mahasiswa yang “gagal” kuliah di PTN dalam negeri. Namun suskses kuliah di PTLN yang dianggapnya lebih baik. Lebih memberi spirit “Merdeka Belajar” sebagaimana Mendikbud Ristek inginkan.

Keberanian Bima dalam melontarkan kata-kata kritisnya harus diapresiasi. Tinggal gaya dan diksi, tentu harus lebih soft. Maklum anak muda yang mulai adapatasi dan hidup di negara yang lebih liberal dan moderat.

Bisa jadi suatu saat Bima Yudho Saputro mengikuti Bima Arya, Walikota Bogor, yang sama-sama kuliah di PTLN Ausie. Mari kita dukung setiap generasi muda kritis dan menyuarakan kebenaran. Jangan sampai mereka malah dihakimi karena kepentingan lain.