OPINI/Artikel

Targetkan PPDB 2023 Untuk Tingkatkan RLS

adminsigiku.com
×

Targetkan PPDB 2023 Untuk Tingkatkan RLS

Sebarkan artikel ini

Oleh : Sumiati (Ibu Rumah Tangga)

Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun pendidikan 2023-2024 sudah mulai dibuka. Tentu ini menjadi harapan anak-anak untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Untuk mendorong masyarakat agar daya minat belajar anak usia sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung mengoptimalkan sosialisasi kepada seluruh masyarakat sekaligus mendorong standar Rata-rata Lama Sekolah (RLS) untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Bandung. Dilansir dari JURNAL SOREANG.

Masyarakat di Kabupaten Bandung sendiri kualitas pendidikannya masih rendah, rata-rata masyarakatnya hanya baru menempuh jenjang pendidikan bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), selain itu masih terdapat beberapa desa yang kondisinya masih blank spot.

Minimnya daya minat sekolah terjadi akibat beberapa faktor mulai dari masalah kekerasan pada siswa, hingga sistem zonasi yang belakangan diterapkan pemerintah. Selain itu, biaya sekolah yang terus meningkat membuat masyarakat dari kalangan menengah ke bawah sulit untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya.

Saat ini bayar sekolah makin susah, angka pengangguran semakin meningkat, ekonomi negeri ini mengalami resesi. Biaya pendidikan menjadi sesuatu yang berat akibatnya banyaknya anak yang putus sekolah. Menurut laporan HSBC global tahun 2018 Indonesia masuk ke daftar salah satu negara dengan pendidikan termahal di dunia. Biaya rata-rata yang dikeluarkan orang tua untuk membiayai anaknya dari TK sampai ke jenjang kuliah mencapai Rp 285 juta.

Padahal pendidikan adalah bekal generasi penerus bangsa. Katanya pendidikan merupakan hak seluruh warga negara dan negara wajib membiayainya, tapi apakah hanya sandiwara belaka? Tidak heran sih karena dibawah sistem kapitalisme saat ini semua lini kehidupan dikomersialisasi termasuk pendidikan. Kita mungkin pernah mendengar disekeliling kita ada sekolah elite dan ada sekolah biasa. Sekolah elite identik dengan sekolah swasta dengan pasilitas lengkap dan ekslusif, sementara sekolah biasa identik dengan bangunan sederhana dengan pasilitas seadanya, minim bangku minim murid dan bahkan murid-muridnya saja tidak berseragam dan bersepatu, bahkan tidak bisa membayar SPP. Bagaimana bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya kalau keadaannya seperti ini.

Seperti inilah rusaknya pendidikan sekarang karena sistem kapitalisasi dan komersialisasi. Di negara yang menerapkan sistem kapitalisme dan neoliberalisme, pendidikan murah dan gratis itu mustahil karena dalam sistem kapitalisme negara tidak berperan langsung menyediakan pendidikan. Negara hanya sebagai regulator kebijakan yang mengijinkan para pemilik modal untuk mengelola berbagai faktor termasuk pendidikan. Akhirnya pendidikan dijadikan sebagai ladang untuk meraup keuntungan.

Berbeda dengan Islam yang memerintah negara yang turun langsung untuk mengelola pendidikan. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam QS al-Mujadilah ayat 11, yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu,”Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan,”Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menunjukkan bahwa negara wajib menyediakan pendidikan agar rakyatnya beriman dan berilmu. Para sahabat yang menjadi Khalifah di masa Daulah Islamiyyah merekrut guru-guru yang ahli di bidangnya di setiap madrasah. Di masa Khalifah Umar bin Khattab, guru-guru yang mengajar membaca seperti guru TK digaji sebesar 15 Dinar per bulan. Untuk bahan belajar bisa diambil langsung dari perpustakaan sepert di masa Abbasiyah yang terkenal dengan perpustakaan besarnya yang bernama Baitul Hikmah. Bisa membaca berbagai buku secara gratis, bahkan bisa dibawa pulang karena salinannya terus diperbanyak. Selain itu para penulisnya dibayar dengan emas sebesar buku yang mereka tulis.

Betapa Islam memuliakan pendidikan dan dan ilmu pengetahuan. Itu semua selalu diimbangi dengan ilmu-ilmu Islam yang diajarkan sejak masa belia. Sebagaimana hadis Rasulullah saw.;
“Menuntut ilmu (Islam) itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah.” (HR. Ibnu Majah).

Sehingga tidak heran lahir para cendekiawan yang berbudi luhur dan tidak cinta dunia serta lahir para ulama sekaligus ilmuwan. Semua ini akan menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

Jadi, sangat jelas untuk meningkatkan kualitas rata-rata lama belajar tidak sekedar mengoptimalkan sosialisasi tapi dibutuhkan negara yang mengelola pendidikan.
Wallahu’alam bishawab