Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI Kota Sukabumi)
Melihat surat yang tersebar tanpa ttd. Sekjen PB PGRI, nampak terlihat illegal. Ttd orang yang tidak dipilih, atas nama wakil sekjen jadi lucu. Orang yang ditunjuk Unifah Rosyidi, tidak dipilih dalam Kongres, menandatangani surat resmi, jadi lucu.
Kekacauan organisasi semakin terlihat. Plus narasi resmi yang disebarkan pada semua pengurus PGRI Provinsi dan Kokab, spiritnya terlihat provokatif dan belah bambu. Itulah bawaan Sang Pemimpin yang tidak pernah menjadi pengurus PGRI di daerah.
Ucapan “Segelintir Pengurus PGRI Provinsi” dalam surat resmi, adalah penghinaan pada pengurus daerah. Padahal para Ketua PGRI Provinsi (PGRI Jatim, PGRI Banten, PGRI Riau, PGRI Sumut, PGRI NTB, PGRI NTT, PGRI Jambi, PGRI Kaltim) tercatat mendukung Mosi Tidak Percaya.
Sebelumnya Ketua PGRI DKI Jakarta, para tokoh PGRI Jateng, tokoh PGRI DIY, tokoh PGRI Jawa Barat, sering berkumpul membicarakan kegagalan Unifah Rosyidi dalam memimpin PGRI. Ini fakta sejarah. Adapun rayuan, modus dan upaya upaya menolak Mosi Tidak Percaya dengan berbagai cara adalah sisi lain.
Apapun narasi Unifah Rosyidi dalam “membela diri” faktanya lahir Mosi Tidak Percaya, lahir Tim 9 dan lahir sejumlah ketidakpuasan tokoh-tokoh PGRI di berbagai daerah di Indonesia.
Sejarah akan mencatat hanya di Era Unifah Rosyidi ada Mosi Tidak Percaya. Gelar Ibu Mosi pun diberikan para guru










