OPINI/Artikel

Sejarah Kelam PGRI Era Unifah Rosyidi

adminsigiku.com
×

Sejarah Kelam PGRI Era Unifah Rosyidi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI Kota Sukabumi)

Menyedihkan memang ketika Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi dapat gelar Ibu Mosi karena dianugerahi Mosi Tidak Percaya. Lebih menyedihkan lagi adalah masih ada sejumlah pengurus PGRI yang mendukung karena tidak tahu dan tak mengenali dalamnya siapa sosok Ibu Mosi.

Tidak cukupkah kisah berikut yang menjelaskan Unifah Rosyidi memang sangat bermasalah? Fakta berikut menjelaskan gagalnya Unifah Rosyidi memimpin PGRI.

Pertama saat ini Tim 9 PB PGRI dalam surat resmi PB PGRI mensomasi Unifah Rosyidi. Somasi diberikan sebagai peringatan atau teguran ketika pihak yang akan digugat tidak memenuhi kewajibannya sebelum perkara diajukan ke pengadilan.

Somasi dari PB PGRI ini muncul karena Unifah Rosyidi tak mampu menjawab Mosi Tidak Percaya. Ia malah mengalihkan persoalan dan berbau fitnah. Adu domba, pecah belah dan “melecehkan” Mosi Tidak Percaya dari para Ketua PGRI Provinsi, benar-benar terjadi.

Dalam somasi Tim 9 menuliskan Dalam hal ini saya ingatkan kepada Saudara agar tidak selalu mengumbar kebohongan dan fitnah. Tim 9 yang terdiri dari Dua Ketua PB PGRI, Sekjen PB PGRI dan 6 Ketua Departemen berkesimpulan Unifah Rosyidi adalah pemimpin penebar fitnah dan kebohongan.

Kedua hubungan buruk dengan Kemdikbud Ristek. Ini mengacaukan kebatinan guru di semua daerah. Padahal guru adalah identik ASN bagian dari Kemdikbud Ristek. Unifah Rosyidi tak menyadari guru terbelah antara mendukung kebijakan Kemdikbud Ristek dan menolak. Ini bahaya dan sangat buruk bagi entitas guru, terutama yang ASN.

Patut diduga Unifah Rosyidi selalu berseberangan dengan Kemdikbud Ristek karena “kisah masa lalu” saat Ia gagal open biding untuk menjadi pejabat di Kemdikbud Ristek. Hal pribadi sebaiknya tidak dibawa ke rumah guru/PGRI.

Ketiga gaya memberhentikan, memecat, mengoknumkan, meng asasinasi, memfitnah, menebar kebohngan, pecah belah internal organisasi PGRI, dan melecehkan martabat dan profesi guru terjadi era Unifah Rosyidi. Termasuk guru SMA (Caca Danuwijaya) dilecehkan Unifah Rosyidi.

Menggelitik ketika Mosi Tidak Percaya dianggap salah padahal fakta organisasi. Puja puji sekalipun buah kebohongan dianggap benar. Sejarah kelam dan prahara PGRI era Unifah Rosyidi akan abadi dalam jejak literasi dan digital. Guru di masa depan akan mengerti dan memahami kisah buruk ini.