Oleh : Neng Tintin (Ibu Rumah Tangga)
Baru- baru ini, sedang ramai diperbincangkan rencana kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang dikabarkan hingga 10 kali lipat.
Rencana tersebut akan dilakukan melalui sistem gaji tunggal atau sistem salary, yang nantinya bertujuan untuk memperbaikinya manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN), terutama terkait pemberian gaji.
Namun, disebut- sebut bahwa kenaikan gaji hingga 10 kali lipat ini, hanya akan berlaku kepada 15 inststansi yang terpilih saja, termasuk 7 instansi pusat, dan 8 instansi daerah.
Ketujuh instansi pusat yang terpilih yaitu mencakup Kementerian dalam negeri, Kementerian Agama, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Badan Pusat Statistik(BPS), Badan Pencarian dan Pertolongan( BASARNAS), serta Lembaga Administrasi Negara(LAN).
Sementara itu delapan instansi daerah yang terpilih termasuk provinsi Jawa Barat, provinsi Sulawèsi Selatan, Kabupatèn Banyuwangi, Kabupatèn Manggarai, Kabupatèn Bandung, Kabupatèn Manggarai Barat, Kota Sukabumi, serta Kota Sorong. Sumber : ayo Bandung. com.
Keputusan pemilihan instansi tersebut telah diambil oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) serta Kementerian Keuangan. Dan nantinya keputusan kenaikan gaji PNS akan diusulkan langsung oleh Presiden Jokowi, tepatnya saat pemerintah mengajukan rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Beulanja Negara (APBN) 2024, pada sidang paripurna tanggal 16 Agustus 2023.
Bocoran tersebut disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang mengatakan kenaikan gaji PNS tersebut sedang dalam pembahasan bersama Presiden Joko Widodo. ” Kenaikan Gaji PNS insyaAllah sedang digodok Bapak Presiden”. Kata Sri Mulyani, dikompleks DPR RI. Sumber: Liputan6.com
Akan tetapi, kabar baik dan menggembirakan ini dirasa hanya untuk sebagian masyarakat saja, terkhusus ASN. Lalu bagaimana kabar kesejahteraan bagi sebagian lainnya?
Hal ini menunjukkan bahwa dalam sistem Kapitalisme, dasar riayahnya adalah manfaat, penuh perhitungan untung dan rugi. Padahai gaji adalah dasar pokok ekonomi di setiap masyarakat.
Rencana inipun sontak ramai diperbincangkan halayak ramai, pasalnya di tengah kinerja ASN yang selalu disoroti, belum lagi banyaknya ASN yang tersandung kasus korupsi, tindakan pencucian uang dan sebagainya, membuat kebijakan ini dirasa belum tepat untuk diberlakukan.
Dan jika dilihat pula dari mulai gaji, tunjangan, bahkan fasilitas yang diberikan, dirasa sebagian masyarakat semua itu sudah lebih dari cukup.
Pasalnya, masih banyak masyarakat miskin yang lebih membutuhkan.Jangankan fasilitas, untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari saja dirasa sangat susah. Masih banyak PR Pemerintah yang harus lebih diprioritaskan, dibandingkan dengan rencana kenaikan gaji ASN ini.
Apalagi dengan kondisi saat ini yang dirasa serba sulit. Mahalnya harga berbagai kebutuhan pokok, membuat masyarakat miskin kian tercekik, belum lagi sulitnya mencari lapangan pekerjaan, dan banyak lagi masalah yang lainya. Seharusnya inilah yang harus diutamakan untuk saat ini.
Apalagi Negeri ini sebagai mayoritas muslim, seharusnnya kita bisa mencontoh keteladanan yang dicontohkan Rasulullah Saw dan para sahabat dalam menjalankan pemerintahan. Rasulullah SAW, walaupun memegang banyak harta negara, namun tetap hidup dengan sederhana. Beliau misalnya, biasa tidur di atas selembar tikar yang kasar, yang meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Ketika Ibnu Mas’ud ra.menawarkan untuk membuatkan kasur yang empuk, beliau berkata:
” Tidak ada urusan kecintaanKu dengan dunia, aku di dunia ini hanya lah seperti seorang pengendara yang bernnaung di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkan nya ( HR. at-Tirmidzi).
Setelah Rasulullah Saw wafat, pengganti beliau yakni Abu Bakar ra., hanya mengambil sekadarnya saja harta dari Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya sehari-hari. Bahkan menjelang wafat, beliau berwasiat agar mengembalikan harta dari Baitul Mal itu jika ada kelebihannya. Begitupun kesederhanaan yang dilanjutkan oleh kepemimpinan para sahabat dan para khalifah berikutnya.
Semoga teladan ini bisa ditiru oleh kita semua,, termasuk dalam hal kepemimpinan. Karena sejatinya harta dan jabatan kelak akan dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
WalLahua’lam….
Neng Tintin Bandung











