Oleh : Aan Amanahtia (Ibu Rumah Tangga)
Sungguh miris tawuran antar pelajar sepertinya menjadi “budaya” bagi remaja di negeri ini. Hampir setiap hari kita di suguhi berita tentang tawuran pelajar yang tidak kunjung kelar.
Fenomana tawuran pelajar terjadi dibanyak tempat. Berita seputar remaja selalu berkutat pada persoalan kerusakan moral, seprti pergaulan bebas, kekerasan seksual, dan tawuran. Mengapa tawuran. Mengapa pelajar seakan menjadi ” tradisi yang mengajar didunia pendidikan?
Sesungguhnya ini hanya sekelumit fakta tawuran yang sudah cukup membuat kita resah dengan nasib generasi hari ini. Dunia remaja yang seharusnya menatap masa depan dengan penuh percaya diri dan optimisme tinggi justru diambang kehancuran lantaran lebih dekat dengan aksi kekerasan, senjata tajam, hingga kematian. Ada apa remaja kita? Mengapa karakter mereka begitu rapuh dan lemah?
Faktor pemicu tawuran pelajar disebabkan dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari remaja berupa faktor-fakror psikologis sebagai manifestasi dari kondisi internal remaja dalam menanggapi nilai-nilai sekitarnya.
Faktor internal disebabkan, krisis identitas, sudah jamak kita ketahui, remaja seperti kehilangan arah dan hati dirinya sebagai hamba Allah Ta’ala. Sistem sekuler lah yang mengikis identitas tersbut. Remaja menjelma menjadi pribadi yang sekedar mengikuti tren dan budaya yang berkebalikan dengan ajaran ajaran islam.
Kebanyakan remaja tidak begitu mengenal agamanya sendiri sehingga penafsirannya tentang kehidupan sekedar hanya untuk having fun, bergaya hidup hedonis liberal, demi meraih kepuasan materi.
Setiap remaja pasti ingin mengaktualisasi dirinya ditengah masyarakat agar keberadaannya diakui. Eksitensinya diri seperti ini jika tidak diarahkan pada pemikiran yang benar jelas akan menghilangkan hakikat identitas dirinya sebagai generasi islam dan hamba yang wajib taat dan terikat dengan aturan islam.
Dengan demikian, pengaruh sistem sekuler ,( dimana agama dipisahkan dari kehidupan,) sangat berdampak pada keimanan dan keraqwaan para remaja. Mereka menjadi pelaku maksiat dan kriminal.
Jiwa mereka tereduksi pemikiran sekuler leberal. Bathinnya kering kosong dari keimanan dan nilai-nilai, cenderung meledak-ledak, merasa unsecure, dan nirempati. Saat masalah menghinggapi, solusi sumbu pendek dilakukan, seperti tawuran, pengeroyokan, bunuh diri, bahkan pembunuhan.
Orang tua mestinya memberi bekal dan berperilaku sesuai syariat islam. Orang tua harus menanamkan akidah islam sejak dini agar terbentuk dalam diri anak keimanan dan ketaatannya kepada Allah Ta’ala.
Sirkus pertemanan biasanya muncul dari sekolah dan masyarakat. Teman inilah yang memberi dampak lebih besar terhadap prilaku remaja. Kasus tawuran pelajar biasanya terjadi karena rivalitas antarsekolah, pengaruh gengsi, dan tekanan teman sebaya.
Sejatinya, lingkungan baik bagi remaja tidak akan terwujud jika negara tidak mengambil peran sentralnya, yaitu sebagai penjaga dan pelundung generasi dari pengaruh budaya dan pemikiran asing yang merusak moral generasi.
Negara berkewajiban melindungi generasi dari paparan ideologi kapitalisme yang merusak kepribadian remaja. Negara juga wajib menyaring tontonan dan tayangan tidak mendidik yang mengajarkan budaya dan nilai liberal.
Oleh karena itu mewujudkan generasi takwa dan antitawuran, haruskah dilakukan secara komprehensif dengan menerapkan sistem kehidupan islam secara kaffah. Penerapan peradaban pendidikan islam harus terlaksana secara tersadar, terstruktur, dan tersistem dengan memadukan tiga peran pokok pembentukan kepribadian generasi, yaitu kelurga, masyarakat dan negara.
Tujuan pendidikan islam adalah menyukseskan misi penciptaan manusia yang beriman dan bertaqwa. Sejatinya mampu menjadi generasi umat terbaik yang mengisi waktunya untuk menuntut ilmu, belajar islam, dan memberi umat terbaik yang mengisi waktunya untuk menuntut ilmu, belajar islam, dan memberi kemaslahatan bagi umat dan negara.
Bukankah harapan dan cita-cita kita semua, pemuda bertaqwa, penuntut ilmu, aktivis dakwah, dan pelopor kebangkitan peradaban islam. Dalam asuhan peradaban islam, remaja mampu menjadi generasi yang beriman danbertaqwa, remaja yang mampu menjadi teladan bagi umat.
Wallahu a’lam bishawaab.
Aan Amanahtia











