Aib Dan Kebiadaban

0
350

Oleh Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Manusia adalah makhluk Tuhan yang kesemuanya punya dosa dan aib. Seorang ulama mengatakan, “Andaikan Tuhan membuka aib semua manusia maka sungguh akan sangat mengagetkan, terutama orang yang sering terlihat alim”.

Tuhan maha menutup aib setiap manusia. Manusialah yang maha membuka aib, mendiskusikan dan menghakimi pemilik aib. Manusialah makhluk yang lebih jahat dari Syeitan.

Syeitan tidak pernah memakan bangkai sesamanya. Pemakan bangkai sesama itu diantara cirinya adalah membuka aib sesama, sejawat atau saudara sendiri.

“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan, “Ayat di atas menerangkan sebuah ancaman yang keras dari perbuatan ghibah. Dan bahwasanya ghibah termasuk dosa besar. Karena Allah menyamakannya dengan memakan daging mayit, dan hal tersebut termasuk dosa besar. ” (Tafsir As-Sa’di, hal. 745).

Ternyata hal biadab, hal tuna adab dan hal mengerikan adalah kebiasaan kita. Kebiasaan mengghibah, membuka aib sesama dan membuat status menyindir dan diskusi di WAG atau japrian tentang dosa saudara sendiri.

Bisa jadi kita semua mirip Sumanto, pemakan daging manusia. Dikisahkan, sosok Sumanto saat dipenjara, para pembunuh pun takut. Takut satu sel bersama Sumanto, pemakan bangkai saudara sejawat.

Bisa jadi, kita para pengghibah, japrian dan diskusi aib orang lain lebih sadis daripada orang yang pernah membunuh. Orang yang bahagia dan semangat mengghibah di atas aib orang lain adalah kanibalis dan saudaranya Syeitan.

Mengapa para pembunuh takut sama Sumanto? Karena Sumanto adalah kanibalis saudaranya sendiri (sesama manusia). Bukankah para pengghibah, menurut ulama adalah pemakan bangkai identik dengan Sumanto?

Kita harus belajar banyak pada kisah Nabi Isa versi kaum Nasrani yang melarang melempar batu pada perempuan pejinah. Kecuali Sang Pelempar batu tak punya dosa/aib. Akhirnya para pelempar batu bubar, karena semunya pun punya dosa.

Termasuk kisah Nabi Musa versi kaum Yahudi, Ia pernah tak sengaja membunuh. Semua manusia punya salah dan dosa. Termasuk Nabi Adam AS pun adalah pernah berdosa dengan kisah buah khuldinya. Kita?

Sesungguhnya bukan manusia bagi siapa saja yang suka, bahagia dan semangat mengghibah saudara dan sejawatnya sendiri. Allah maha menutup aib kita. Kalau ada Allah dalam diri kita, maka kita pun akan menutup aib saudara kita.

Jalau Allah tiada dalam diri kita? Tiada dalam pikiran, perasaan dan sikap kita, gelap gulita, minus cahaya Ilahi, maka akan kanibalis dan sadistik. Mari menjadi manusia yang pemaaf dan penutup aib sesama.