Oleh Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Tanah air, kebangsaan dan kebahasaan adalah kesatuan dalam esensi sumpah pemuda tempo doeloe, 28 oktober 1928. Betapa pentingnya komitmen kebangsaan ketika sebuah bangsa belum lahir.
Kelahiran rasa kebangsaan doeloe terhalang oleh sifat primordialisme, kendala kepulauan, kendala bahasa dan pergaulan berkelompok yang terbatas.
Setelah muncul organisasi pemuda terpelajar, mulailah rasa kebangsaan sebagai entitas bertanah air, berbahasa dan berbangsa yang satu mulai menguat. Sumpah pemuda adalah komitmen kulminatif kebangsaan.
Kini di abad 21 kebangsaan itu menuntut bentuk lain. Kebangsaan yang transformatif dan produktif. Transformatif bukan hanya mengaku berbangsa, berbahasa dan bertanah air yang satu melainkan bersatu dalam kontribusi produktif sebagai warga negara.
Semua warga negara tentu punya posisi dan profesi. Bahkan pengangguran sekali pun, tentu punya tanggung jawab menjadi bagian dari “kebangsaan” transformatif yang produktif kontributif.
Spirit sumpah pemuda untuk semua usia agar kita menjadi bagian dari warga negara yang kontributif pada upaya mengisi dan menjaga kemerdekaan bangsa dalam berbagai aspek. Mengisi kemerdekaan dalam berbagai bentuk.
Sayang 1000 sayang, bila kemerdekaan malah melahirkan kebebasan yang destruktif. Kemerdekaan yang baik melahirkan keleluasaan untuk produktif dan kontributif pada kebangsaan kita dengan berbagai bentuk dalam perannya masing masing.
Menjadi apa kita? Punya apa kita yang bisa diberikan pada kebangsaan kita melalui alam sekitar kehidupan sosial kita. Apalagi di era dunia maya saat ini. Banyak peluang kebaikan yang bisa “diproduksi”.
Jangan sampai sebaliknya, malah kita menjadi bagian dari destruksi kebangsaan. Kita malah menjadi bagian dari masyarakat yang mengkonsumsi dan menyebarkan segala hal destruktif dan merusak kebangsaan.
Setidaknya mari kita mulai dari isi pikiran, perkataan dan perbuatan kita yang tidak hanya terkoneksi secara spiritual kepada Tuhan, melainkan berkelindan dengan realitas sosial yang membutuhkan kontribus kita, walau sebesar biji jarrah.
Mari jadi manusia meditatif meminjam istilah Dr. KH Syaiful Karim yang kontributif. Berbuat positif semata mata karena memang kita makhluk potensial dan istimewa untuk menebarkan kebaikan. Sekecil apa pun.
Mengisi kemerdekaan serendah rendahnya adalah tidak menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang menjadi beban negara. Apalagi membuat kerusakan pada negara dan bangsa melalui kata dan tindakan kita.











