OPINI/Artikel

Harga Cabai Semakin Melambung Tinggi

adminsigiku.com
×

Harga Cabai Semakin Melambung Tinggi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Aan Amanahtia (Ibu Rumah Tangga)

Sebagaimana kita pahami, harga cabai semakin “melambung tinggi” Seiring naiknya kenaikan harga pangan lainnya. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, pada Oktober 2023 harga cabai, baik cabai merah, cabai merah keriting, maupun cabai merah besar mengalami kenaikan signifikan. Sepanjang Oktober 2023 rata-rata harga cabai rawit merah secara nasional mencapai Rp55.934 per kilogram (kg), naik 37,8℅ dibanding bulan sebelumnya.

Dengan demikian cabai salah satu bahan pangan yang paling banyak diburu dan dibeli masyarakat. Kenaikan harga cabai jelas sangat mempengaruhi kondisi perekonomian mereka. Selain cabai, harga pangan lainnya yang turut merangkak naik adalah beras, bawang putuh, telur gula dan sejumlah komoditas lainnya.

Faktor cuaca kerap menjadi alasan klasik kenaikan harga pangan. Karena kemarau panjang akibat dampak Elnino. Produksi cabai akan membaik jika sudah turun hujan. Alasan ini tampak menjadi jurus andalan penguasa untuk menutupi kegagalan nya mengantisipasi kenaikan harga pangan. Andaikan turun hujan, lalu harga cabai tetap naik, apakah nanti akan ada pernyataan, ” Produksi cabai berkurang karena banyak cabai membusuk akibat musim hujan”. Seprti sebelumnya penguasa terlihat kurang mengantisipasi perubahan cuaca terhadap produksi pangan dalam negeri.

Menstabilkan harga pangan adalah tanggung jawab negara. Menciptakan kesejahteraan petani dan pertanian berkelanjutan juga merupakan tugas utama negara. Artinya, negara harusnya bisa mengoptimalkan perannya dalam memajukan pertanian diindonesia. Bukan hanya bicara tentang imbauan menanam cabai sendiri atau meminta pengertian masyarakat dengan berkata. “Nggak apa-apa cabai mahal sekali-kali agar petani tidak rugi”. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang terus merugi akibat kenaikan pangan dan pendapatan yang stagnan. Ranah negara adalah menetapkan kebijakan, bukan memainkan narasi pasrah. Sebagai contoh, produksi pertanian menurun yang terus dikambing hitamkan adalah cuaca ekstrem, padahal jika benar-benar serius, negara akan mengupayakan bagaimana agar produktivitas cabai tetap stabil ditengah cuaca ekstrem.

Sebagaimana kita ketahui, mahalnya cabai hanyalah satu dari masalah pangan yang terus berulang dari tahun ketahun. Solusi yang diberikan juga belum menyentuh akar masalah pangan. Yakni penerapan sistem kapitalisme yang memandulkan peran negara dalam menjamin kebutuhan pangan masyarakat.
Sejatinya dalam lslam, peran negara akan sangat mendominasi dalam mewujudkan ketahanan pangan.

Negara bisa melakukan intensifikasi pertanian dengan memberikan benih dan pupuk secara murah, bahkan gratis kepada para petani. Negara juga memberikan edukasi dan pelatihan kepada para petani agar dapat melakukan produksi tani dengan peralatan yang canggih. Negara juga akan mendorong penyuburan kembali unsur hara tanah agar produksi pertanian lebih baik dan lebih banyak. Negara memfasilitasi kebutuhan pertanian dengan penuh riayah (pengurusan).

Oleh karenaitu, melarang praktik-praktik kecurangan, penimbunan, dan monopoli pasar. Negara tidak boleh kalah oleh pemilik kartel. Nabi saw. Memperingatkan para pelaku kartel dan monopoli pasar ini dengan ancaman keras,

“Siapa saja yang mempengaruhi harga bahan makanan kaum Muslim sehingga menjadi mahal, merupakan hal Allah untuk menempatkan dirinya ke dalam tempat yang besar dineraka nanti pada hari kiamat, ”

Dengan peran negara yang me-riayah, tidak mustahil mewujudkan ketahanan pangan dengan tata kelola pertanian. Semua kebijakan fundamental tersebut hanya bisa terlaksana sempurna dengan tegaknya syariah Islam.

Wallahu’alam bishawaab