Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)
Sebuah ungkapan bijak mengatakan, “Bila suatu sa’at kita ingin menjadi bos, jadilah karyawan terbaik”. Ungkapan lain mengatakan, “Bila kita ingin sukses, sukseskan orang lain”.
Tak kalah motivatif, jamaah tabligh mengatakan, “Jika kita mensukseskan hajatan orang lain, maka hajatan kita akan Allah urus”.
Sungguh kesemua ungkapan di atas menjelaskan tentang pentingnya bekerja dedikatif melintasi tugas yang seharusnya.
Nah, bila hal ini dikaitkan dengan dimensi pendidikan, dimensi kinerja guru. Kita akan dapat sebuah ungkapan menggelitik. Jika ingin menjadi kepala sekolah jadilah guru terbaik.
Predikat guru terbaik tidak ditentukan oleh kepala sekolah. Predikat guru terbaik akan ditentukan oleh “pelanggan”, yakni anak didik.
Dapat dipastikan kebanyakan guru terbaik jadi kepala sekolah. Tidak mungkin guru yang asal kerja, kerja asal, pemalas, minus unikasi dan talenta. Jadi kepala sekolah.
Walau pun bisa jadi ada beberapa kepala sekolah “ujug ujug” karena keajaiban. Tapi itu, doeloe, era politisasi guru oleh para oknum kepala daerah. Itu doeloe, sekarang? Ahaa.
Anak didik adalah subjek layanan utama di setiap sekolahan. Setiap anak didik akan punya kisah kasih tersendiri dengan setiap gurunya.
Guru guru terbaik yang benar benar dedikatif, prestatif dan bekerja melitansi tuntutan formalnya. Bila Ia bermimpi menjadi kepala sekolah tidaklah sulit.
Restu Ilahi, restu birokrasi dan restu adminsitrasi akan mudah didapatkan. Sebaliknya guru yang asal kerja, kerja asal, minus prestasi dan tak bangga menjadi guru, akan “jalan ditempat”.
Jalan ditempat sebagai guru yang tidak menjadi guru istimewa bagi setiap anak didiknya. Atau bahkan hanya menjadi guru “objek” cerita miring.
KH Syaiful Karim mengatakan, “Setiap orang yang bekerja sesuai minat, hobi dan sangat disukainya, Ia akan menjadi orang sukses dibidangnya”.
Ia pun mengatakan, “Orang yang bekerja pada bidang yang sangat disukainya pada hakektanya Ia tidak bekerja, melainkan rekreasi yang mendapatkan gaji atau upah”.
Guru guru terbaik sangat tahu bahwa setiap hari Ia berada di tengah tengah warga negara paling istimewa di semua bangsa, yakni anak didik.
Tidak ada warga negara paling istimewa di dunia ini selain anak didik. Guru pun kebawa istimewa, karena layanan langsung pada warga negara paling istimewa.
Istimewakan anak didik, perlakukan anak didik sebagai warga negara paling istimewa dalam layanan pendidikan. Maka Sang Guru akan Allah istimewakan.
Dr. Iwan Syahril mengutif spirit Kihajar Dewantara dengan istilah berhamba pada anak didik. Guru yang “berhamba pada anak didik” hakekatnya berhamba pada Allah.
Bukankah Allah menyatakan bila kita membahagiakan dan memuliakan manusia pada hakikatanya memuliakan Dirinya. Memuliakan Tuhan melalui layanan terbaik bagi setiap anak didik.
Siapa saja yang mengurus hajatan sesamanya maka hajatannya akan Allah urus. Guru yang mengurus “hajatan” anak didik maka akan Allah urus masa depannya. Percayalah.











