Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Sungguh selalu ada narasi positif dan menggelitik dari KH Syaiful Karim. Seorang pendidik, scientis dan ulama disruptif. Ia banyak bernarasi terkait pola didik guru dan orangtua juga.
Banyak guru dan orangtua salah didik, salah pendekatan. Anak menjadi korban guru dan orangtua. Anak seolah harus menjadi “seperti” keinginan guru dan orangtuanya.
Padahal menurut KH Syaiful Karim setiap anak akan menjadi dirinya. Bukan menjadi seperti guru dan orangtuanya. Allah punya design unik dan diferensiasi pada setiap anak.
Guru dan orangtua yang menghukum anak didik karena kesalahan, indisipliner dan kebodohannya adalah sebuah kesalahan. Menghukum adalah kegelapan.
Dalam spirit Merdeka Belajar hukuman ditiadakan yang ada adalah menjalankan konsekuensi. Konsekuensi edukatif dari sebuah proses belajar yang harus ditingkatkan.
Apresiasi, motivasi, afirmasi dan giat mendidik yang tidak menghukum lebih dibutuhkan anak didik. Anak didik tidak butuh hukuman, Ia butuh perhatian khusus dan pendekatan diferensiatif.
Guru dan orangtua yang galak, main hukum dan mengintimidasi bila melakukan kesalahan, tidaklah baik. Anak butuh pendekatan menarik dan menyenangkan.
Kompetensi pedagogik guru dan orangtua sangat dibutuhkan. Apalagi sa’at ini, zaman makin kompleks. Anak didik makin aneh aneh, membutuhkan ragam pendekatan edukatif yang menawan.
Sebaiknya guru dan orangtua memahami ungkapan “Tidak ada anak yang salah”, “Semua anak adalah bintang”, “Anak adalah amanah masa depan”, “Mendidik anak dengan cinta, lahirkan anak baik budi”.
Guru bagi KH Syaiful Karim harus memberi “cahaya” bagi setiap anak didiknya. Anak didik dalam hal tertentu bisa menjadi guru bagi setiap guru di sekolah.
Dinamika dan kompleksitas diferensiasi anak didik adalah pelajaran dan “guru” bagi setiap guru di sekolahan. Sunggguh akan sangat beruntung menjadi guru terbaik bagi setiap anak didik.
Sebaliknya sunggguh akan sangat bahaya dan merugikan masa depan bangsa, bila ada guru yang mendidik dan mengajarnya asal. Tak bangga menjadi guru, menebar hukuman bukan cinta kasih.
