OPINI/Artikel

Istidraj Atau Dimanja Allah ?

adminsigiku.com
×

Istidraj Atau Dimanja Allah ?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Saya bertemu dengan seseorang dan Ia seolah ragu terkait keberadaan situasi dirinya. Sengaja Saya tidak sebut nama aslinya, sebut saja Bapak A. Tulisan ini pun akan Saya berikan kepadanya.

Dalam diskusi yang cukup hangat, Ia mengatakan, “Pak DNK, Saya ini merasa dimanja sama Allah, tapi disisi lain Saya juga galau, apakah Saya dimanja atau masuk istidraj?”. Saya senyum dan terus mendengarkan narasinya.

Ia mengatakan apa saja yang Saya inginkan Allah selalu memberikan. Begitu mudah dan banyak kemudahan yang Saya dapatkan. Ia mengatakan dan merasa hidupnya dimanjakan oleh Allah.

Saya tersenyum dan berkata, “Akang luar biasa, ini yang Saya suka”. Ya, faktanya Saya paling suka kalau ada orang sangat ber_rasa dan berpikir positif pada Allah. Ini orang kedua yang Saya temukan.

Sebelumnya Saya punya kenalan seorang ibu hebat yang mengatakan “Saya malu sama Allah”. Ia mengatakan itu karena hidupnya sangat sukses dan berkelimpahan. Ia pun sempat diundang acara Kick Andy di televisi. Sampai saat ini Sang Ibu ini selalu japri tahajudan setiap malam.

Kembali ke Si Bapak A. Saya katakan kepadanya, “Jangan suudhon pada Allah, Ia maha kasih dan maha cinta pada ciptaannya”. Saya beri penguatan kepadanya, “Tidak ada istidrad”.

Lanjutkan prasangka dimanjakan Allah, jauhi merasa ada istidrad dari Allah atas kemudahan hidup. Jangan coba coba suudhon pada Allah atas kemudahan hidup. Waspada, introsfeksi dan evaluasi diri harus, merasa kemungkinan istidrad, jangan.

Saya pun mengatakan, “Sunggguh sangat sangat beruntung bila ada orang merasa dimanjakan oleh Allah, sungguh merugi bila ada orang merasa diabaikan Allah, dua rasa yang kontras”.

Saya pun mengatakan, “Ciri ciri orang baik, imannya baik adalah merasa dekat dengan Allah dan merasa dimanjakan Allah, ini adalah resonansi Surga, yang insyaallah nanti pun akan didiapatkan di sana”.

Saya lanjutkan bicara, “Insyaallah Akang ahli Surga kelak, amiiiin YRA”. Ia menimpali, “Wah Pak DNK, jangan lebay ah, Saya mah banyak dosa dan tak sebaik orang lain, Saya bukan orang yang soleh”.

Saya timpali, “Hanya Allah yang maha tahu kesolehan seseorang, banyak yang terlihat tidak soleh atau terlihat soleh, padahal dihadapan Allah sebaliknya”. Ia tersenyum. Saya katakan, “Akang harus dengar kisah Guru Sekumpul, terkait cerita orang soleh”.

Diantara kisah merasa dimanjakan oleh Allah, Ia berkisah tentang hal berikut: Ia membeli “sesuatu” seharga Rp 400 jutaan dengan dicicil, setelah lunas ada yang nawar Rp 2 milyaran. Sang Penjual, hanya mau menjual pada dirinya.

Hal unik lainnya, saat Ia membutuhkan anggaran Rp 20 jutaan, tak berapa lama ada yang memberinya uang Rp 100 juta, kerjasama sebuah periklanan. Karena ada fasilitas miliknya yang disewa. Sejumlah kemudahan, selalu hadir.

Setelah menyimak diskusi dengannya, Saya menangkap beberapa kisah kesolehannya. Ia sangat sangat berkhidmat pada ibu kandungnya. Ia adalah anak yang paling dekat dan memanjakan ibu kandungnya.

Suatu malam Ia berdoa pada Allah. Ia mengatakan dalam doanya, “Ya Allah, pindahkan rasa sakit dan derita ibu ku, kepada ku, aku sangat mencintainya, kasihan beliau”. Ibunya sakit sakitan, Ia merasa sedih dan merasakan derita ibunya, yang kini sudah almarhumah.

Doa, di atas, doa agar penyakit pindah ke dirinya adalah doa kebiasan Sang Ibu kandung bila anaknya sakit. Ini malah doa Sang Anak, sungguh mulia.

Daya katakan pada sahabat ku ini, “Sorga itu di bawah telapak kaki ibu, mengapa? Karena kasih sayangnya tanpa batas dan lillah pada semua anaknya”. “Bila akang punya hati persis sebagaimana hati para ibu (lillah), Surga pun berada dalam telapak kaki akang”.

Ia agak kaget mendengar Saya mengatakan itu. Saya katakan lagi, “Bila Allah sangat ridha pada seseorang (anak/ibu) karena kesolehannya, Surga berada di bawah telapak kakinya”. Adab, akhlak dan kebaikan itu di atas Surga.