Oleh : Sri M Awaliyah (Guru di Kab. Bandung)
Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Kabupaten Bandung melaksanakan Sosialisasi dan Pembekalan Peserta Duta Baca Remaja 2024 di Hotel Citere, Dalam sambutannya, Bupati Bandung Dr. H Dadang Supriatna, S.IP, M.Si., melalui Kepala Dispusip Kabupaten Bandung H. Teguh Purwayadi., S.STP, M.Si., mengatakan bahwa duta baca bukan hanya harus dapat memahami literasi, tetapi juga harus mampu mengetahui sejarah dan seluk beluk kondisi sosial masyarakat Kabupaten Bandung. “Duta baca harus bisa menjadi ujung tombak dalam meresonansi kegiatan literasi dalam masyarakat,” kata Teguh dalam keterangannya. Kadis Pusip juga mengungkapkan duta baca harus paham dan menguasai digitalisasi dalam menunjang penyebaran literasi untuk kesejahteraan. (visinews.com)
Seharusnya literasi sudah menjadi budaya modern suatu bangsa. Namun, ada kesalahan pada konteks literasi yang di Indonesia baru menjadi gerakan walaupun massif, telah terjadi kekeliruan dalam memahami literasi. Kekeliruan ini tidak terlepas dari kuasa kapitalisme. Literasi dijadikan ajang melahirkan duta-duta baca dan untuk kepentingan meraih penghargaan-penghargaan. Tidak menyentuh sama sekali kepada masyarakat umum dan sama sekali tidak mencerahkan pemikiran rakyat.
Padahal membaca merupakan esensi dasar pengetahuan manusia untuk mendapatkan ilmu. Dalam Islam, membaca adalah hal yang sangat dianjurkan. Bahkan, perintah membaca merupakan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1). Dimulai dengan wahyu inilah kemudian menjadikan peradaban cemerlang.
Sejarah membuktikan bahwa Islam pernah berada pada masa kejayaan, masa keemasan, hal ini dikenal dengan nama zaman abad pertengahan Islam. Pada zaman dahulu di saat dunia barat atau Eropa berada pada masa kegelapan justru Islam berada dalam cahaya, bahkan Eropa juga belajar dari dunia Islam. Kejayaan Islam pada masa ini menjadi inspirasi bagi Eropa, sehingga melahirkan Renaissance yaitu perubahan yang terjadi pada hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat.
Kita pasti mengenal perpustakaan Baitul Hikmah yang dibangun pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid sebagai pusat observasi dan kajian ilmu pengetahuan, serta Khalifah Al-Makmun yang juga seorang pemimpin sekaligus Filsuf, serta Al-Hakam Al-Muntasir yang membangun sekolah dan perpustakaan pada masanya. Itulah bukti Kemajuan dan kejayaan Islam.
Dunia literasi sangat berpengaruh besar dalam menentukan majunya suatu bangsa. Kita ambil contoh mengapa Indonesia bisa dijajah begitu lama, oleh Belanda. Itu karena kebodohan dan kejumudan bangsa ini. sehingga mudah diadu domba antar sesama anak bangsa, pada waktu itu buta huruf sangat tinggi, sedikit sekali yang bisa membaca dan menulis.
Namun, Umat harus bangkit, terlebih kita sebagai umat Islam harus belajar dari sejarah bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Umayyah II banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan pada bidangnya, mereka tanpa lelah belajar, melakukan penelitian, membaca buku-buku dan manuskrip. Oleh karena itu marilah kita sebagai umat Islam meningkatkan literasi kita. Meningkatkan literasi harus diwujudkan untuk mengatasi ketertinggalan kita sebagai umat terbaik, sehingga kita bisa lebih unggul. Kita harus mengembangkan ilmu pengetahuan berasaskan Al Qur’an dan Sunnah, sehingga Islam sebagai Rahmatan lil’alamin dapat terwujud.
Wallahu ‘alam Bishowwab.










