OPINI/Artikel

Bedug Maghrib Dan Bel Masuk Kelas

adminsigiku.com
×

Bedug Maghrib Dan Bel Masuk Kelas

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan
)

Seorang praktisi pendidikan berkelakar dalam media sosial. Ia mengatakan, “Mundur wir, yang lainnya selalu telat, buka puasa selalu tepat”. Ini sebuah da’wah edukatif kepada publik.

Narasi narasi edukatif dari para pendidik memang perlu. Terutama bagi pendidik itu sendiri, auto edukatif, mengingatkan diri sendiri. Termasuk ketepatan waktu masuk ruang kelas bagi para guru sebagai pendidik.

Bisa jadi semua guru saat berpuasa tepat waktu ketika buka. Bahkan sudah hadir di meja makan sebelum bedug maghrib berbunyi. Urusan perut menjadi urusan primer, utama dan semangat 45. Bisa jadi demikian.

Satu lagi seorang praktisi pendidikan senior yang beberapa kali menjadi guru favorit berkata, “Di setiap sekolahan ada sejumlah guru yang selalu konsisten datang tepat waktu dan tepat masuk kelas, namun jumlahnya masih sangat minor”.

Ia mengatakan, “Saya sudah berpengalaman di sejumlah sekolahan dan mayoritas guru terlambat masuk kelas, kecuali beberapa yang konsisten”. Beberapa? Benarkah? Sebuah anomali destruktif bila ini sebuah fakta harian.

Dua praktisi pendidikan di atas yang menyoal ketepatan waktu dan bila dikaitkan dengan buka puasa, sungguh kontras. Andaikan para guru menghargai waktu bel sekolah sebanding dengan waktu bedug maghrib sungguh wow. Bahkan wowerianistik, sangat istimewa.

Andaikan semua guru yang ada di sekolahan setiap hari, konsisten, tepat waktu, bahkan sudah ada di ruang kelas beberapa detik sebelum bel masuk, sungguh keren. Adakah yang demikian? Atau semuanya selalu masuk ruang kelas beberapa detik terlambat? Beberapa menit atau belasan menit, sesudah bel masuk menyalak, baru masuk?

Semua guru harus menyadari bahwa anak didik adalah subjek amal ibadah terbaik, sangat investatif. Mendidik, memberi ilmu dan memberi contoh adab termasuk tepat waktu adalah diantara amalan terbaik sebagai umat beragama.

Adab tepat waktu masuk ruang kelas sejatinya menjadi akhlak harian setiap guru. Adab di atas ilmu, akhlak di atas agama. Mengapa mayoritas “akhlak” berwaktu para guru masih ada masalah?

KH Syaiful Karim mengatakan iman itu implementatif. Bagaimana kita memperlakukan orang lain adalah implementasi iman kita. Bagaimana guru memperlakukan anak didik bagian dari bagaimana kadar iman kita.

Terkait waktu, semua ajaran agama sangat mengistimewakan waktu. Terutama waktu yang digunakan untuk belajar. Buka puasa saat bedug maghrib untuk mengisi perut tidak lebih rendah derajat ibadahnya dengan tepat waktu masuk ruang kelas untuk mengisi kepala dan menguatkan karakter.

Bahaya bila untuk mengisi perut lebih utama dari mengisi akal pikir dan penguatakan karakter, keteladanan. Bila selalu tepat waktu saat buka puasa dan selalu terlambat saat masuk kelas, maka identik dengan “Hidup Untuk Makan” bukan hidup untuk berakhlak.

Kebanyakan guru tak sadar bahwa anak didik adalah warga negara paling istimewa di semua bangsa. Kebanyakan guru tak sadar bahwa sekolah/ruang kelas adalah “Rumah Ibadah Pendidikan Terbaik” di semua bangsa beragama. Bila ada 32 anak didik di ruang kelas, secara spiritual identik dengan ada 32 ruh Allah.

Bukankah Allah meniupkan ruh_Nya pada setiap manusia ? Bila kita mengabaikan anak didik di ruang kelas identik pula kita mengabaikan ruh Allah yang ada dalam diri setiap anak didik. Mari mencari ridha Allah, istimewakan ruh_Nya yang ada di setiap anak didik.

Diantara dosa terbesar bukan hal mainstream yang kita pahami dalam ajaran agama. Dosa terbesar itu diantaranya ketika pendidik tidak sunggguh sunggguh dalam melayani memuliakan anak didik. Dosa investatif, tak memberi ke baikan pada masa depan bangsa. Malah tak sadar “terlibat” mendestruksi masa depan anak.

Bedug magrib tidak kalah sakral dengan bel masuk ruang kelas untuk belajar. Amalan ibadah terbaik adalah memberi manfaat pada sesama dan semesta. “Siapa yang sunggguh-sungguh mensukseskan hajatan orang lain, maka hajatnya Allah yang urus”. Terutama hajatan investatif anak didik.

Apa bel sekolah harus diganti dengan bedug ?