OPINI/Artikel

Lonjakan Sampah Selama Ramadan

adminsigiku.com
×

Lonjakan Sampah Selama Ramadan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ai Sumiati (Ibu Rumah Tangga)

Permasalahan sampah masih menjadi persoalan yang pelik. Sebagaimana dikutip dari RMOLJABAR, selama bulan ramadan lonjakan sampah di TPK Sarimukti mencapai 1.611,23 ton atau sekira 347 truk perhari. Buangan sampah tersebut berasal dari kawasan Bandung Raya. Jumlah tersebut berasal dari kota Bandung 32.807,32 ton, kota Cimahi 4.066,47 ton, Kabupaten Bandung 5.669,64 ton, dan Kabupaten Bandung Barat 4.182,61 ton. “Jadi keseluruhan selama ramadan adalah total 10.065 truk, total tonase sebanyak 46.726,06 ton,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar, Prima Mayaningtyas, Jumat (12/4).

Dari data yang ada, kota Bandung masih menempati urutan tertinggi volume sampah yang dibuang ke TKP Sarimukti. Hal itu karena kota Bandung merupakan kota metropolitan yang berpotensi menghasilkan sampah yang banyak. Meskipun begitu, Prima memastikan sampah yang ditampung di TPK Sarimukti terkelola dengan baik.

Melihat dari lonjakan volume sampah selama bulan ramadan kemarin, ini membuktikan kalau gaya hidup masyarakat yang konsumtif. Mereka senang berbelanja untuk kepuasan hidupnya, baik itu diperlukan maupun tidak, bukan karena membutuhkan tetapi karena keinginan yang tidak ada habisnya. Masyarakat tidak segan-segan membeli barang agar bisa tampil beda dan memamerkannya. Tentu barang yang dibeli memakai kantong plastik yang itu menimbulkan volume lonjakan sampah meningkat.

Gaya hidup konsumtif masyarakat itu dampak dari cara pandang hidup masyarakat yang dipengaruhi oleh ideologi kapitalis. Ideologi ini menjadikan kepuasan individu sebagai tolok ukur kebahagiaan. Mereka tidak memikirkan harta yang dimilikinya akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Ini karena ideologi kapitalis lahir dari akidah sekulerme yaitu memisahkan agama dari kehidupan.

Permasalahan sampah ini tidak akan pernah selesai kalau akar permasalahannya tidak diselesaikan. Akar permasalahannya adalah gaya hidup konsumtif inilah yang harus dirubah dengan gaya konsumtif yang benar bukan hanya sekedar antisipasi dampak. Konsep pola konsumtif ada dalam Islam.

Islam mendorong produktivitas dan tidak melarang konsumsi. Islam mendorong masyarakat untuk hidup bersahaja, mengkonsumsi barang sesuai dengan kebutuhan dan melarang manusia untuk mengkonsumsi barang secara berlebihan. Semua itu bukan karena kemanfaatan tetapi atas dasar keimanan.

Islam juga mengajarkan individu terhadap pola konsumsi, karena apa yang mereka belanjakan dan konsumsi akan dimintai pertanggungjawaban nanti. Negara dalam hal ini akan menjaga masyarakat agar tidak menyuburkan gaya hidup konsumtif. Karena tolok ukur kebahagiaan di dalam Islam adalah menggapai ridha Allah SWT, yaitu dengan membelanjakan harta sesuai dengan kebutuhan adapun ketika kelebihan harta, maka akan disedekahkan kepada orang yang membutuhkan.

Dalam menanggulangi sampah, dengan teknologi yang semakin canggih akan lebih memudahkan dalam membuat alat penghancur sampah. Hal ini hanya akan terwujud dalam sebuah negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Wallahu’alam bishshawab.