Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Allah memang maha kuasa atas segala realitas yang terjadi. Bukankah tidak ada satu daun pun yang jatuh atau terbang terbawa angin tanpa kuasa_Nya?
Begitu pun Sang Manusia, tidak satu pun yang lahir, hidup dan kembali tanpa kuasa_Nya. Termasuk dinamika perjalanan kehidupan Sang Manusia.
Beruntung Saya bertemu seorang sahabat pengawas sekolah yang luar biasa. Saya menyebutnya “Guru Terbaik Yang Saya Kenal”. Mengapa Saya katakan sebagai guru terbaik ? Karena Ia awal berkarir sebagai guru dedikatif dan prestatif.
Apa “Best Practice” personal yang dapat kita petik dari Beliau? Mari kita simak melalu narasi berikut. Pertama, Ia adalah pengawas sekolah yang mampu meraih golongan IV e, pembina utama. Golongan dan pangkat tertinggi ASN.
Kedua, Ia adalah pengawas yang masih mengabdi walau sudah pensiun. Beliau diperpanjang pengabdiannya, kini berusia 63 tahun. Baginya mengabdi dan bekerja tidak ada pensiunnya.
Ketiga, Ia hampir tidak pernah sakit, sampai usia 63 tahun. Ketika Saya tanya, alasannya karena bekerja dengan hati dan niat lillah. Sangat menyukai pekerjaan dan bangga pada pekerjaan.
Keempat, Ia tidak pernah kesiangan kalau bekerja. Saat menjadi guru, Ia selalu hadir sebelum semua anak didik hadir di sekolah. Menjadi guru terbaik, kepala sekolah terbaik dan kini menjadi pengawas sekolah terbaik, adalah sebuah perjalanan dirinya.
Kelima, Ia merasa dan berprasangka sebagai orang kaya dan sejahtera. Yakin pada Ilahi bahwa Allah maha kaya dan dirinya pun merasa kaya. Allah tergantung prasangka hamba_Nya.
Ketika mayoritas ASN “mengamankan” SKnya di bank, maka Ia tidak pernah. Membeli segala sesuatu (rumah, kendaraan) selalu kontan. Ia sangat yakin, Allah maha kaya dan maha memudahkan kehidupan.
Keenam, Ia keliling beberapa negara karena prestasi sebagai pendidik. Prestasi Ia dapatkan karena buah dari fokus, disiplin dan menyukai pekerjaan. Prestasi dan reward adalah dampak bawaan dari kinerja terbaik.
Ketujuh, Ia adalah penulis, narsum diberbagai giat wilayah Kemdikbud dan pengurus pusat APSI. Berorganisasi, berliterasi, bernarasi terkait pendidikan adalah dunia yang melekat kepadanya.
Kedelapan, Ia punya anak anak yang soleh dan sukses. Mendidik anak orang lain sukses, mendidik anak sendiri sukses. Ini hal yang tidak mudah. Tidak sedikit pendidik, hebat mendidik anak orang lain, gagal mendidik anak sendiri.
Kesembilan, baginya hidup itu sebuah anugerah terindah yang harus memberi manfaat pada sesama tanpa berharap balasan. Buang jauh jauh iri dengki dan negatif thinking. Kuatkan cinta damai pada sesama dan sekitar.
Bisakah kita para pendidik seperti Beliau? Bisa! Asal suci dalam pikiran, hati, perkataan dan perbuatan. Hanya nur Allah yang melekat. Ibu guru itu bernama Ibu Nuraeni, pribadi nur yang bercahaya.











