Oleh : Nia Karmila (Pelajar)
Bandung – Jembatan apung terbuat dari kayu rusak diterjang air sungai Citarum, Rabu (11/9/2024). Jembatan tersebut merupakan penghubung dari Kampung Cijeruk, Bojongsoang dan Kampung Mekarsari, Baleendah.
Akses jembatan apung tersebut saat ini telah ditutup. Dengan adanya peristiwa tersebut saat ini warga harus berputar arah ke jembatan lainnya yang tak jauh dari jembatan tersebut.
Terlihat arus air sungai Citarum mengalir dengan kencang. Nampak debit air pun masih belum terjadi penurunan. Warga setempat, Agus Alek (32) mengatakan, jembatan tersebut awalnya mengalami kemiringan. Kemudian setelah itu lalu lintas di jembatan tersebut dihentikan sementara. Pihaknya mengungkapkan hujan dengan intensitas tinggi melanda kawasan tersebut. Sehingga debit air sungai Citarum terus mengalami kenaikan.
Warga berharap pemerintah bisa melakukan pembangunan jembatan tersebut secara permanen. Sehingga masyarakat bisa menggunakan akses tersebut dengan aman dan nyaman. Sumber : detikJabar
Bencana banjir seolah-olah terdengar tidak asing lagi, karena bencana tersebut sering kali menimpa masyarakat. Hujan yang baru 2 hari saja sudah menyebabkan bencana banjir yang tidak dapat di hindari, banjir yang merusak lingkungan, tempat tinggal dan perabotannya, sampai mengancam kesehatan karena banyaknya penyakit yang dapat menyerang kesehatan.
Apakah kita hanya bisa diam saja tanpa melakukan tindakan sedikit-pun dan membiarkan kondisi menjadi tidak sehat?
Terdapat kondisi alam yang memang tidak dapat manusia intervensi. Jika terjadi secara alami, kondisinya tidak akan memengaruhi kestabilan alam. Oleh karenanya, manusia dilarang untuk melakukan aktivitas yang mengganggu keseimbangannya.
Sebaliknya, bencana terjadi saat keseimbangan alam terganggu oleh aktivitas manusia. Allah Swt. berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS Ar-Rum: 41).
Sayangnya, penguasa dalam sistem kapitalisme yang memiliki karakter abai dan memerintah ala kadarnya akan selalu menyebabkan rakyat menjadi ‘korban’ dari kelalaian mereka. Kebiasaan pemerintah yang selalu menunjuk rakyat sebagai pihak yang bersalah akibat membuang sampah sembarangan serta mendirikan bangunan di tepi sungai, merupakan klaim yang lemah dan tak berdasar. Kalau saja upaya utama di atas dilakukan oleh pemerintah, maka tidak mungkin rakyat bertingkah sampai sejauh ini.
Kalau boleh jujur, penyebab utama banjir yang tak kunjung henti di negeri ini adalah terletak pada pembangunan yang tidak merata terhadap daya dukung lingkungan. Bahkan tampak pembangunan sistem sekuler kapitalisktik selama ini hanya untuk kepentingan para pemilik modal yang hanya memikirkan keuntungan materi semata.
Itulah mengapa meningkatnya kasus bencana banjir selalu beriringan dengan meningkatnya intensitas pembangunan multisektor di kawasan-kawasan dataran tinggi atau wilayah penyangga air. Seperti pembukaan lahan perkebunan, kawasan-kawasan wisata, kawasan perindustrian, daerah-daerah permukiman, dan lain-lain.
Pembangunan dalam sistem Islam yang menjadikan ideologi Islam sebagai dasar pijakan utama telah mampu melahirkan kemaslahatan besar bagi seluruh manusia. Pembangunan yang membuat manusia bertakwa kepada Sang Pencipta melahirkan kemaslahatan berkepanjangan, penguasa yang hanya takut dan tunduk pada-Nya baik dalam memenuhi hak dan kewajiban rakyat maupun dalam kesungguhan mengemban amanah lain. Dikhususkan lagi ketika ideologi Islam berbicara pembangunan yang tidak merusak bangunan ekologis. Yang mana pembangunan di bidang ekologis senantiasa berangkat dari bagian memelihara dan memenuhi kepentingan rakyat.
Inilah sepintas langkah Khilafah dalam menyelesaikan persoalan banjir. Lantas tidak kah kita merindukan dan kemudian bersemangat untuk memperjuangkan kembali tegaknya sistem Islam di muka bumi ini?
Wallahu a’lam bish-shawab.
