Banjir Berulang, Tuntaskan Dengan Islam

0
235

Oleh: Yuni Irawati (Ibu Rumah Tangga)

Di Kawasan Kompleks Cingcin Permata Indah (CPI), Desa Gandasari, Kecamatan Katapang, terjadi bencana Banjir kejadiannya pada Hari Senin (11/11/2024). Aliran sungai tersebut semakin meluap di wilayah tersebut.
Air menggenang rumah warga di pantau oleh detik.Jabar yang ada di kompleks tersebut. Beberapa juga telah terpantau warga tengah menyelamatkan perabotan yang masih bisa diselamatkan. Warga yang beberapa memiliki rumah lantai dua bisa mengevakuasi perabotan rumah tangganya. Tapi beberapa juga warga yang tidak memiliki lantai dua perabotannya harus tenggelam terbawa arus banjir tersebut. Beberapa anak-anak juga nampak terlihat memilih berenang di depan rumah yang sedang tergenang oleh banjir. Lalu lintas di kompleks juga nampak harus terputus adanya bencana banjir tersebut.

Di wilayah banjir tersebut memiliki ketinggian dari satu meter hingga satu meter setengah. Air banjir tersebut membuat masuk ke setiap rumah warga, menurut salah satu warga sekitar. Juga menurutnya banjir tersebut disebabkan adanya pertemuan antara dua sungai. Aliran sungai akhirnya bertemu dan meluap ke rumah warga tersebut.

Bencana masalah banjir ini bukan perkara baru terjadi. Setiap nyaris musim penghujan bencana banjir pasti jadi langganan. Risiko sosial dan ekonomi yang ditimbulkan pun sudah tidak terhitung lagi kerugiannya. Masyarakat saat itu harus dipaksa menerima keadaan, dengan dalih semua terjadi lantaran faktor alam. Penyebab banjir tersebut padahal tidak semata faktor alam. Banyak hal-hal juga yang harus dievaluasi dari perilaku manusia, terkait utamanya adalah budaya dan kebijakan struktural dalam pembangunan infrastruktur. Adapun dampak yang ditimbulkan dari pembangunan tersebut. Negara seringkali gagap dalam masalah melakukan mitigasi bencana sehingga berbagai dampak tidak terantisipasi secara signifikan. Malah para penguasa sejauh ini malah sibuk berpolemik saat kejadian bencana sudah terjadi. Bukan mencari solusi, alih- alih masing-masing sibuk mencari kambing hitam, bahkan menjadikannya sebagai bahan untuk saling serang.

Mudah sebenarnya untuk memahami bahwa bencana banjir ini, bahkan bencana lainnya bersifat sistemis dan harus diberikan solusi yang sistemis. Misalnya faktor cuaca ekstrem, ternyata terkait dengan isu perubahan iklim yang dipicu perilaku manusia yang kian tidak baik terhadap alam, termasuk akibat kebijakan pembangunan kapitalistik yang eksploitatif dan tidak memperhatikan aspek daya dukung lingkungan. Tidak masalah curah hujan yang tinggi dan tidak akan jadi masalah jika hutan-hutan tidak ditebangi, tanah resapan tidak dibetoni, daerah aliran sungai tidak mengalami abrasi, dan sistem drainase dibuat terintegrasi. Bencana banjir semakin meluas justru menunjukkan gurita kapitalisme makin mencengkeram. Terjadi eksploitasi lahan tambang, alih fungsi lahan, dan deforestasi faktanya memang semakin kian tidak terkendali. Semakin turun permukaan tanah di akibat konsumsi air tanah untuk penunjang fasilitas hunian-hunian elit dan industrialisasi. Begitu pun yang terjadi dengan sungai.

Selama banjir dilihat dari sisi sebagai faktor alam semata dan pembangunan jauh dari paradigma Islam yang menebar kebaikan, selama itu pula tidak akan muncul dorongan untuk mencari penyelesaian jalan keluar. Bahkan juga penguasa akan menjadi sumber kerusakan dengan berbagai kebijakan. Itulah persoalan yang selama ini sedang terjadi. Penerapan sistem sekularisme kapitalistik neoliberal telah membuka ruang yang besar bagi berkembangnya perilaku mengeksploitasi dan destruktif di tengah-tengah masyarakat. Negara dalam sistem ini menjadi alat legitimasi munculnya kebijakan dan praktik pembangunan yang justru hanya memenuhi syahwat para pemilik modal, sekalipun dampaknya akan merusak alam, lingkungan, dan kemanusiaan, serta memandulkan kemampuan negara untuk menjadi pengurus dan penjaga umat. Ilmu pengetahuan dan teknologi, ketika ada dalam sistem ini justru akan mempercepat proses perusakan alam yang berdampak pada jangka yang panjang.

Dunia ini sejatinya butuh sistem Islam karena paradigma sistem Islam bertentangan secara diametral dengan sistem kapitalisme yang diterapkan sekarang. Dikapitalisme sistem kebijakan penguasa yang merepresentasi kepentingan para pemilik modal justru jadi sumber kerusakan, sementara sistem Islam lahir dari keimanan dan ketundukan pada Zat Pencipta dan Pemelihara seluruh Alam Semesta.

Islam mengajarkan benar-benar mengajarkan harmoni dan keseimbangan. Apalagi terhadap adab alam semesta bahkan dinilai sebagai bagian dari iman. Saat syariat Islam berjalan semua hukum-hukum diterapkan secara keseluruhan. Allah Taala berfirman dalam QS Al-A’raf : 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

“Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya” (HR Muslim dan Ahmad). Seorang fungsi kekhalifahan adalah refleksi dari fungsi penghambaan, maka siapa pun yang melakukan kerusakan terhadap keseimbangan alam dianggap sebagai pelaku kejahatan dan dinilai sebagai bentuk kemaksiatan. Penguasa dalam Islam betul-betul berperan sebagai pengurus dan penjaga umat. Ulasan ini menegaskan setidaknya ada dua aspek yang bisa menjadi mekanisme penanggulangan banjir musiman yang terus berulang ini.

Celaka, sungguh negeri yang sedemikian indah hingga berjuluk zamrud khatulistiwa, tetapi harus merana akibat banjir di mana-mana akibat tegaknya sistem kufur di negeri tersebut. Belum juga bencana-bencana lain yang menjauhkan berkah Allah darinya. Tidak heran jika negeri ini juga jauh sekali dari karakter negeri yang baik (baldatun tayyibatun).

Oleh karena itu, sangat penting visi ideologi Islam untuk pembangunan negeri ini, sehingga potensinya tidak hanya demi kemanfaatan ekonomi melainkan dapat menjadi aset masa depan generasi berikutnya. Visi inilah yang mustahil terwujud dalam konteks kapitalisme yang selalu sarat eksploitasi.

Wallahu alam bishawab.