OPINI/Artikel

Taat KPU Bukan Musyrik

adminsigiku.com
×

Taat KPU Bukan Musyrik

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Menarik apa yang disampaikan Dedi Mulyadi terkait konektivitas kita pada dua realitas. Pertama pada Allah yang maha kuasa dan kedua pada realitas duniawi. Realitas “administrasi” duniawi tak dapat dielakan.

Dedi Mulyadi mengatakan bahwa dirinya pasrah dan yakin kepada Allah bahwa dinamika politik, termasuk Pilkada Jawa Barat semua dalam kuasa Allah. Namun, Ia pun berada dalam wilayah “administrasi” dunia.

Dedi Mulyadi pun harus taat pada undang undang terkait Pilkada. Maka KPU adalah sebuah lembaga resmi di dunia yang harus ditaati. Bila tidak ditaati, diiukuti dan bahkan diabaikan maka Ia batal mengikuti Pilkada.

Taat, mengikuti dan menghormati KPU bukan kemusyrikan. KPU adalah realitas duniawi yang admnistratif. Siapa pun calon kepala daerah tidak dapat mengabaikan KPU dan hanya yakin kepada Allah.

Tidak cukup ijtima ulama, tidak cukup doa dan tidak cukup yakin kepada Allah untuk jadi kepala daerah. Bila mengabaikan KPU dan aturannya maka tidak mungkin jadi kepala daerah.

Dedi Mulyadi hendak memberikan sebuah edukasi pada publik bahwa hidup manusia setidaknya ada dalam dualitas. Pertama dimensi Ilahiah hakekati kepada Tuhan yang maha Esa. Kedua dimensi duniawi yang melekat dengan segala kebudayaannya.

Taat KPU bukan musyrik adalah kode dari Dedi Mulyadi bahwa semua umat manusia melekat pada realitas disekitarnya, selain kepada Tuhan. Dualitas antara Tuhan dan alam sekitar adalah keniscayaan.

Dedi Mulyadi selain secara spiritual kita harus meyakini Allah, Tuhan nyang maha Esa. Kita pun harus meyakini bahwa alam sekitar kita, pohon, udara, tanah, air, matahari dan bulan adalah realitas yang harus harmoni dengan kita.

Bagi Dedi Mulyadi, ber_Tuhan tapi merusak alam sekitar dan tidak peduli pada sesama adalah kegagalan dalam memahami spirit beragama. Beragama harus love pada dualitas utama, Tuhan dan semesta.

Hafiz qur’an KH Syaiful Karim dalam ceramahnya mengatakan, “Yang mana selain Dia (Allah) di dunia ini?”. Artinya alam sekitar adalah Allah juga dalam percikan cahaya_Nya.

Ketika Dedi Mulyadi sangat mencintai alam, hakekatnya Ia sedang mencintai_Nya. Tiada selain Dia dalam kehidupan ini. Semuanya adalah Dia. Dedi Mulyadi sangat memahami spirit ini.