OPINI/Artikel

Kenali Orangtua Siswa

adminsigiku.com
×

Kenali Orangtua Siswa

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Menjadi guru sangatlah tak mudah. Ia harus tahu nama nama anak didik, bakat minat anak didik, keadaan ekonomi, lingkungan sosial, masalah anak didik dan bahkan kepercayaan atau agama dari Sang Anak didik.

Satu hal yang kadang kita lupa karena terlalu fokus pada anak didik yakni *mengidentifikasi karakter orangtua* anak didik. Ada sejumlah orangtua yang kooperatif, apatis cuek, ada pula yang rese dan meresahkan.

Terutama orangtua yang punya potensi meresahkan. Ia lebih suka menebar informasi negatif dibanding kooperatif dengan pihak sekolah. Ia lebih suka menolak program sekolah dan mengajak yang lain untuk rese.

Orangtua yang rese dan cari perhatian selalu ada di setiap sekolahan. Ini satu realitas yang harus kita identifikasi dengan baik. Ungkapan “Tak kenal maka tak sayang” masih relevan dalam membangun relationship sampai saat ini.

Orangtua yang tidak dikenali, tidak diapresiasi, tidak diberi perhatian dan layanan khusus, padahal Ia orangtua ABK atau berkebutuhan khusus, bisa “berisiko” bagi sekolahan. Pastikan setiap awal tahun, orangtua yang berpotensi rese diidentifikasi dengan penuh love.

Dinamika pendekatan diferensiatif pada orangtua mesti dilakukan dengan cerdas. Wali kelas, guru mata pelajaran sampai wakasek adalah “pasukan khusus” sekolah yang harus benar benar melayani dan memuliakan orangtua, apa pun bentuknya.

Subjek layanan kita adalah anak didik, tapi anak didik berasal dari keluarga berbaju coklat, berbaju hijau, berbaju belang, berbaju gamis, berbaju hitam, berbaju merah, berbaju nano nano. Orangtua omdo, orangtua pendiam, orangtua hebat kontributif akan selalu ada.

Pejabat, pengusaha, ormas, LSM, wartawan, petani, buruh, pengangguran dll. adalah realitas ragam orangtua yang harus diidentifikasi. Mereka semua adalah “konsumen” layanan sekolahan. Salah melayani bisa berisiko tak positif, bahkan fatal.

Ungkapan bijak mengatakan, “Besti selalu menutupi aib kita sekali pun kita banyak salah dan dosa, namun musuh selalu menjelekan kita sekali pun kita tidak punya kejelekan yang berarti”. Jadikan semua orangtua sebagai bestie.

Komite sekolah, pendamping sekolah, orangtua siswa, siswa siswi adalah “benteng sebenarnya” dari sekolah dimana kita bertugas dan bekerja.

Plus internal GTK harus dewasa memahami dinamika domestik satuan pendidikan. GTK pun suka berkelompk, selama wajar dan normal tidaklah mengapa. Namun pastikan semuanya satu kiblat, kehormatan almamater utama.

Oknum LSM, wartawan, ormas dari luar sekolah, luar kabupaten kota, luar provinsi dan bahkan dari Papu, misalkan. Itu hanya dinamika eksternal. Hal utama adalah orangtua siswa dan siswa sendiri pastikan tidak ada masalah. Bila ada masalah maka pihak ekternal akan memanfaatkan dengan tujuan modus.

Ada ungkapan “Domba yang terpisah dari rombongannya akan dimangsa harimau”. Begitu pun orangtua siswa yang tidak masuk bimbingan, binaan dan jauh dari kedekatan dengan pihak sekolah akan dimangsa “harimau eksternal” yang taringnya sangat beracun dan tidak gosok gigi.