OPINI/Artikel

Guru Terbaik Itu Bernama Sumpiyanti

adminsigiku.com
×

Guru Terbaik Itu Bernama Sumpiyanti

Sebarkan artikel ini

Terima Kasih Bu Sumpiyanti l, M.Pd Yang Telah Menepati Janjinya

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)

Adalah Sumpiyanti sosok yang lahir dari keluarga KETM ekstrim. Orangtua tidak sekolah, plus tidak dapat baca tulis dan jauh dari dunia sejahtera. Rumah pun beralas tanah.

Kisah Sumpiyanti ini mengingatkan saya pada sosok sukses pengusaha Dahlan Iskan yang sama sama punya kehidupan lahir dari keluarga rumah beralas tanah.

Mengingatkan pula pada sosok Nuryati Solopari, anak lulusan SMA yang KETM dan kini sudah jadi doktor. Walau sempat kerja dua tahun sebagai TKI di Arab Saudi.

Derita hidup Sumpiyanti duplikatif dari sosok di atas. Ungkapan bijak mengatakan, “Bagi orang yang menyala semangat dan mimpi, realitas sekitar hanyalah ujian hidup”.

Begitu pun Sumpiyanti, Ia punya mental luar biasa. Berapa kali saya melihat Ia menangis melepas soalan kehidupan yang kompleks saat curhat. Namun semangat menyala dalam pikiran, rasa dan keyakinan telah menjadi “nyawa” tambahan.

Ia berawal dari lulusan SMA yang KETM, bekerja sebagai staf TU, bekerja sebagai guru honorer. Kini Ia sudah menyelesaikan pendidikan strata dua dalam usia yang masih muda.

Ia pun meraih nilai cum laude. Sumpiyanti yang KETM itu kini telah menjadi guru SMAN walau masih honorer belum ASN dengan identitas baru Ibu Sumpiyanti, M.Pd.

Pribadi yang punya “deriat hidup kekurangan” memompakan semangat dan “dendam suci” untuk berubah lebih baik. Allah punya rahasia, kita punya ikhtiar.

Hal yang membuatnya terus belajar adalah keinginannya untuk memecahkan rekor diri. Bukan untuk melintasi dan menyalip orang lain. Faktanya masih banyak ASN sejawatnya yang masih belum S2.

Pertanyaan dalam benak Sumpiyanti adalah : Apakah saya mampu terus kuliah atau terhenti di tengah jalan? Apakah saya bisa? Ia pun menjawab, “Saya harus bisa!”

Mengapa saya mengidentikan Sumpiyanti dengan Nuryati Solopari di atas? Diantaranya adalah karena keduanya bermimpi menjadi seorang doktor.

Dalam dialognya Sumpiyanti berencana lanjut S3. Ia hanya punya mimpi, Ia simpan kuat dalam pikiran, perasaan dan keyakinan optimisnya. Walau Ia sampai saat ini masih jauh dari mampu secara finansial.

Pepatah bijak mengatakan, “Realitas dicetak dua kali, pertama dalam mimpi, kedua dalam realitas”. Selamat berjuang Sumpiyanti. Keterbatasan pasrahkan sama Allah, ikhtiar tentukan oleh diri mu sendiri.