KDM Dari Monoreligi Ke Multireligi

0
436

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Sangat menarik pesan dan rencana Kang Dedi Mulyadi (KDM) sebagai Gubernur Jawa Barat terpilih, terkait bangunan ibadah di sekolahan. Saat Ia berkunjung ke SMAN 4 Karawang, Ia melihat mesjid yang belum selesai. Ia mengatakan akan membantu penyelesaian pembangunan mesjid.

Namun hal yang menarik dan unik adalah pesan moderasi beragama KDM. Bukan hanya mesjid yang harus ada di sekolahan, melainkan bangunan ibadah selain mesjid. Di daerah lain sudah ada sekolahan negeri yang membangun beberapa tempat ibadat di sekolahan. Untuk melayani keragaman agama anak didik dan gurunya.

Pernyataan KDM dihadapan guru dan kepala SMAN 4 Karawang, Ia mengatakan, ”Jadi nanti setiap sekolah harus ada rumah ibadahnya, dan semua agama, saya di setiap sekolah harus ada rumah ibadah semua agama, ada ruang ruang kecil, semua orang harus dihargai”.

KDM adalah pemimpin agamawan, sejak di Purwakarta sangat menghargai keragaman ber_agama. Semua agama bagi KDM harus sama dihargai, dihargai sama. Nampaknya KDM ingin sekolah negeri punya tempat ibadat tidak hanya mesjid. Bila di sekolah ada miniatur tempat ibadat selain mesjid, tentu sangat baik.

Dalam konsep sekolah inklusif, ideologi Pancasila dan layanan diferensiatif, maka keberadaan sejumlah tempat ibadat di sekolah negeri tentu sangat relevan. Budaya dan penguatan nilai nilai toleransi dan saling belajar sesama saudara orang beriman, harus mulai ditanamkan.

Konsep monoreligius sangat baik untuk penguatan identitas dan nilai nilai agama penganutnya. Konsep multireligius sangat baik bagi para penganut agama untuk saling mengenali dan egaliterianis. Semua penganut agama sama sama warga NKRI dan sama sama berorientasi terutama adab atau akhlak.

Pepatah bijak mengatakan, “Seseorang yang seumur hidupnya berada dalam satu kamar, maka akan kaget ketika melihat ada kamar lain selain kamarnya”. Begitu pun dalam realitas keber_agamaan anak didik. Anak didik yang sejak kecil sudah melihat warna dan luasnya kekuasaan Allah dalam taman agama, maka nilai toleransinya kemungkinan lebih baik.

Sesama orang beragama adalah saudara imanik. Sejak dini sejatinya sekolahan mengajarkan keragaman indah dalam beragama. Pelajar Pancasila menekankan semua penganut agama agar beriman dan bertaqwa pada Tuhan yang maha Esa. Bukan mengajak beragama yang satu, tetapi berbangsa yang satu.

Dalam masyarakat multireligius, penting untuk saling menghormati, memahami perbedaan, dan mengedepankan dialog. Hal ini dapat menciptakan lingkungan yang penuh toleransi dan kedamaian. Dimulai dari sekolahan, sejak dini ditanamkan toleransi, bukan provokasi menyatakan paling baik.