OPINI/Artikel

Dignity Dan Transaksi

adminsigiku.com
×

Dignity Dan Transaksi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Setiap pemimpin tentu punya cara dan gaya. Gaya kepemimpinan dan cara memimpin adalah hal yang melekat pada diri Sang Pemimpin. Bila cara dan gaya Sang Pemimpin anti mainstream dan berhasil, identik pemimpin otentik.

Pemimpin otentik adalah pemimpin yang punya khas dan karakter yang tidak sama dengan cara dan gaya kepemimpinan lain, dengan menekankan integritas, transparansi dan empati. Pemimpin otentik punya lompatan kebijakan dan cara memimpin yang khas dirinya. Sangat berbeda dengan pemimpin sebelumnya.

Termasuk Kang Dedi Mulyadi (KDM), Ia punya otentikasi kepemimpinan. Ia punya gaya dan ciri khas tersendiri. Termasuk dalam menyelesaikan suatu masalah atau tantangan yang sebelumnya tidak tuntas diselasaikan. (Walau Ia pun dikritik lebay, youtuber, terlalu detailistik, terlalu masuk pada ranah yang dianggap teknis)

Diantara hal yang dianggap “tidak tuntas” itu adalah terkait dignity sekolah. Kehormatan, martabat, marwah sekolahan semakin hari semakin tidak mudah ditegakan. Padahal sekolahan adalah satu organisasi layanan pendidikan yang paling harus punya martabat dan wibawa.

Faktanya? Secara umum sekolahan menjadi lokus yang banyak diganggu, digeruduk, disatroni bahkan dikriminalisasi. Terutama oleh pihak eksternal yang datang untuk “mencari nafkah” atas nama kontrol sosial atau apa pun namanya. Apalagi era Tiktok, semua bisa diketok ketok melalui Tiktok.

Nampaknya KDM melihat hal di atas sangat khawatir. Kekhawatiran ini dilihat Sang Politisi dan sebagai pemimpin Provinsi Jawa Barat, harus segera dihentikan. Ia ingin Jawa Barat Istimewa bukan Jawa Barat Kecewa. Sekali pun harus mengambil langkah tidak populis.

Bagi KDM cara mewujudkan Jabar Istimewa khusnya dalam lokus pendidikan adalah zerokan sekolahan dari urusan uang. Urusan transaksi. Asbab uang lah dignity sekolahan mendapatkan soalan yang tiada henti menimpa.

Cara KDM menyelamatkan nama baik guru, kepala sekolah dan citra sekolah adalah tidak boleh ada “bau bau” transaksi di sekolahan. Guru, kepala sekolah adalah entitas agung, istikmewa dan mulia. Ia pendidik dan penguat karakter entitas masa depan bangsa.

Bila guru dan kepala sekolah “tersentuh” bau bau transaksi bahkan lebih fokus pada hal transaksional. Dari sini lah dignity guru, kepala sekolah dan sekolahan sakralitasnya merosot. KDM berkesimpulan Dignity Sekolah Terkait Transaksi. Ia simpulkan selama ada transaski di sekolahan selama itu pula sekolahan akan menjadi korban.

Meniadakan Study Tour, giat renang, jual buku, jual pakaian sekolah, dan segala yang dianggap ada transaksi adalah langkah awal penyelamatan dignity sekolahan. Tujuan substantif KDM bukan untuk “meniadakan” giat di atas dan menyulitkan sekolahan, melainkan ingin meniadakan “bomerang” bagi sekolahan.

Sementara hanya cara di atas meniadakan transaski di sekolah yang akan menyelamatkan sekolahan. Bahkan akan mengusahakan ada timsus terkait pengelolaan keuangan sekolah. Kepala sekolah “tidak boleh mengelola” BOS, demi martabatnya sebagai pemimpin pembelajaran.

Dignity guru dan kepala sekolah rusak oleh adanya transaksi. Asbab transaksi ini, semua arah menjadi serba transaksional. Mulai dari relasi ke atas, bawah, kiri, kanan dan internal sejawat organisasi menjadi lekat pada transaksi. KDM mengajak mari bukan lembaran baru, “lem biru” masa lalu, ubah pola.

Semoga upaya KDM dan entitas semua keluarga besar dunia pendidikan khususnya, kompak, seirama, menuju Jabar Istimewa. Indah kalau dunia sekolahan tidak ada transaksi. Lebih indah lagi bila KDM signifikan meningkatkan kesejahteraan guru.

Semoga transaksinya hanya satu. Apa? KDM memberikan peningkatan kesejahteraan bagi guru dan guru meningkatkan pelayanan pada anak didik. Guru dan anak didik dua entitas yang istimewa. Keduanya harus diistimewakan. Wajib!