Oleh: Asep Tapip Yani
Senja baru saja menumpahkan warna jingga ke langit saat Raksa duduk di bangku taman, memandangi layar ponselnya dengan tatapan kosong. Di sana, ada chat terakhir dari Naya, kekasih yang telah lama ia rindukan.
“Raksa, maaf… mungkin kita memang harus berhenti berharap.”
Hanya itu. Tanpa penjelasan lebih lanjut. Hanya sebuah kalimat yang menggantung seperti langit yang tak pernah benar-benar bersih dari awan.
Angin berembus pelan, membawa kenangan ke dalam ingatannya. Dulu, taman ini adalah saksi bisu kebahagiaan mereka. Naya selalu tertawa lepas saat Raksa menceritakan lelucon receh. Sesekali, gadis itu memukul lengannya sambil berkata, “Ah, kamu tuh, bikin aku ketawa mulu.”
Raksa menghela napas panjang. Cinta mereka bukan cinta yang mudah. Sejak Naya pindah ke kota lain untuk mengejar mimpinya, rindu lebih sering hadir dibanding pertemuan. Waktu yang awalnya terasa ringan perlahan menjadi beban yang sulit dipikul.
Ia masih ingat malam terakhir mereka bertemu. Di tempat ini. Di bangku yang sama.
“Rak, kalau suatu hari aku nggak bisa lagi selalu ada buat kamu… kamu bakal gimana?” tanya Naya dengan mata menerawang langit.
“Aku bakal tetap di sini. Nunggu kamu,” jawab Raksa mantap.
Naya tersenyum, tapi ada kesedihan di matanya. “Jangan bodoh, Raksa. Waktu terus berjalan. Hidup nggak menunggu siapa-siapa.”
Dan kini, kalimat itu terbukti. Naya pergi, meninggalkan Raksa dengan rindu yang tak pernah berujung.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari Naya.
“Kamu masih di taman?”
Raksa terdiam sejenak sebelum mengetik, “Iya. Kenapa?”
Tak lama, balasan datang.
“Aku di sini.”
Jantung Raksa berdegup kencang. Ia menoleh ke sekeliling, dan di sana, di bawah cahaya lampu taman yang mulai menyala, Naya berdiri. Matanya berkaca-kaca, bibirnya tersenyum samar.
“Aku nggak bisa pergi kalau kamu masih di sini,” katanya pelan.
Raksa tersenyum, lalu bangkit dari bangku.
“Kalau begitu, ayo kita pulang… bersama.”
Malam itu, rindu yang selama ini menggantung di udara akhirnya menemukan jalannya pulang.
Namun, belum sempat mereka melangkah, tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Naya. Tingginya menjulang, wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam.
“Naya, kamu udah siap? Mobilnya nunggu di depan,” katanya dengan nada datar.
Raksa terpaku. Matanya berpindah dari pria itu ke Naya.
“Siapa dia?” tanya Raksa pelan.
Naya menghela napas panjang, menatap Raksa dengan mata berkaca-kaca. “Rak… ini tunanganku, Badra. Aku… aku nggak bisa tinggal. Aku cuma mau pamit.”
Dunia Raksa seakan runtuh. Semua harapan yang baru saja menyala kini padam begitu saja. Ia ingin berkata sesuatu, ingin menahan Naya, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
“Maafkan aku, Raksa…” bisik Naya sebelum perlahan melangkah pergi bersama Badra.
Raksa hanya bisa menatap punggung Naya menjauh. Angin malam berembus lebih dingin dari biasanya. Senja telah hilang, berganti malam yang semakin pekat.
Dan kali ini, rindu itu benar-benar tak berujung.
