Oleh: Asep Tapip Yani
(Dosen Pascasarjana UMIBA Jakarta)
“Aku, Kamu, dan Excel”
Kita dulu satu,
sekarang dibagi dua,
kamu Senin-Rabu,
aku Kamis-Jumat,
Sabtu-Minggu siapa cepat dia dapat.
Cinta jadi file,
disimpan di cloud,
diakses bareng,
diedit bersama,
tanpa versi final.
Aku tak lagi cemburu,
hanya menunggu giliran.
Karena kita sepakat,
bahwa setia itu fleksibel,
dan cinta boleh multitasking.
“Cinta itu suci, sampai akhirnya dimasukin ke Google Form dan diatur pakai spreadsheet.”— Anonim, korban cinta era digital.
Cinta, Dulu dan Kini
Dulu cinta itu sederhana: saling tatap, saling percaya, lalu saling tabah.
Sekarang cinta itu rumit: saling follow, saling “izin open”, lalu saling update status relationship kayak laporan cuaca.
Hari ini open marriage bukan lagi isu pinggiran. Ia sudah duduk manis di talkshow, nongol di podcast, jadi topik diskusi kampus, bahkan mampir di meja DPR meskipun mereka pura-pura nggak denger.
Apa Itu Open Marriage? Dan Kenapa Dunia Semakin Fluid?
Open marriage, secara harfiah, adalah “pernikahan terbuka.” Tapi jangan bayangkan pintunya kebuka doang. Ini lebih dari sekadar pintu: jendelanya kebuka, atapnya bolong, pagar rumahnya hilang.
Konsepnya begini: dua orang menikah, tapi setuju boleh main ke rumah orang lain. Secara emosional dan seksual. Mereka bilang ini soal kejujuran, transparansi, dan kebebasan.
Tapi kalau diselami lebih dalam… ini mungkin juga soal kebingungan, ketidakpuasan, dan kehausan akan validasi tiada henti.
Dunia Tanpa Batas: Relasi Cair dan Seks Tanpa Komitmen
Sekarang kita hidup di zaman di mana:
- Temen tidur nggak harus temen hidup.
- Suami bukan satu-satunya, tapi salah satunya.
- Setia diganti dengan jadwal dan kesepakatan.
Ini bukan lagi era monogami romantis. Ini era spreadsheet cinta:
- Hari Senin sama istri legal,
- Rabu dinner sama partner emosional,
- Sabtu quality time sama “mutual consent”.
Semuanya tertib, asal ada Google Calendar dan persetujuan semua pihak.
Absurd? Iya. Nyata? Juga iya.
Kenapa Bisa Begini?
Ada beberapa alasan, katanya:
- Kebutuhan Emosional yang Kompleks
“Satu orang nggak cukup memenuhi semua kebutuhanku,” katanya.
Padahal kadang satu orang aja udah cukup bikin mumet. - Kebebasan dan Otonomi
“Tubuhku otoritasku,” katanya.
Tapi apakah semua bentuk kebebasan layak dipraktikkan? - Trauma dan Ketakutan Komitmen
“Aku percaya cinta, tapi nggak percaya pernikahan.”
Lalu tetap menikah, tapi dengan aturan yang didefinisikan ulang.
Dunia Makin Aneh atau Kita yang Makin Adaptif?
Pertanyaan besarnya:
Apakah dunia memang makin absurd, atau manusia sekarang terlalu nyaman hidup di dalam ambiguitas?
Mungkin kita sedang menyaksikan akhir dari cinta tradisional.
Atau mungkin kita cuma sedang bermain api di dalam hutan kering nilai-nilai.
Yang jelas, cinta hari ini bukan soal siapa yang dipilih, tapi siapa yang boleh masuk ke lingkaran privasi, walau hanya sementara.
Apa Risiko Dunia yang Terlalu Cair?
- Kebingungan Identitas Relasional
Anak-anak tumbuh dalam rumah yang semua orang saling panggil “sayang”, tapi nggak tahu siapa yang sebenarnya pasangan siapa. - Kecemasan Kolektif
Cinta yang terlalu cair bikin semua orang haus validasi tapi takut kehilangan. - Rusaknya Makna Komitmen
Komitmen jadi mirip langganan Netflix bisa trial dulu, bisa di-cancel kapan aja.
ANATOMI OPEN MARRIAGE: DUNIA CINTA TANPA TEPISAN
| 1. | Kontrak Cinta Modular | – Janji bukan ikatan abadi|- Ada klausul “boleh main” |
| 2. | Kalender Nafsu Bersama | – Google Calendar disinkron– “Available for intimacy?” |
| 3. | Konseling Berkala | – Terapis jadi wasit cinta- Emosi di-review tiap bulan |
| 4. | Perasaan Dingin Terjadwal | – Cemburu? Diresapi pelan- Lalu disimpan dalam folder |
| 5. | Komunikasi Superlogis | – Semua masalah dibahas via Zoom- Tidak ada marah, hanya “diskusi sadar” |
Penutup: Cinta Butuh Makna, Bukan Cuma Kesepakatan
Kalau semua hal dalam hidup bisa dinegosiasikan, lalu apa yang tersisa dari makna cinta?
Apakah kebebasan lebih penting dari kedalaman?
Apakah kita sedang membebaskan cinta, atau justru mereduksinya jadi kontrak sementara?
Karena di akhir hari, manusia tetaplah makhluk yang butuh makna bukan sekadar banyak pilihan.
“Di masa depan, orang akan lebih takut kehilangan Wi-Fi daripada pasangan.”
— Yuval Noah Harari versi patah hati
“Open marriage itu seperti meminjam buku di perpustakaan… kamu boleh baca, tapi jangan bawa pulang terlalu lama.”
— Anonim, alumni seminar cinta kontemporer
“Manusia adalah makhluk yang mencari kebebasan, lalu bingung ketika kesepian.”
— Nietzsche, kalau dia main Twitter
https://jurnalisindependenbersatu.com/2025/03/23/international-womens-day-wartawati-ungkapkan-9-kesimpulan-dialog-bersama-muballighoh-nawaning-akademisi/











