Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Siapa yang tidak kenal Seto Mulyadi. Tokoh dan begawan pendidikan. Ia psikolog anak, juga menjabat ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia. Menarik pendapatnya terkait anak pelajar yang dididik di barak TNI.
Saat diskusi dengan Dr. Purwanto selaku Kadisdik Kab. Purwakarta, Ia mengapresiasi langkah KDM sebagai Gubernur Jawa Barat. Kolaborasi Disdik, Dinsos, Dinkes, Psikolog, TNI dan guru, menurut Kak Seto sangat baik.
Ia pun mengatakan, “Dinamika yang meledak ledak dari anak didik wajib diarahkan, sehingga karakter Profile Pelajar Pancasila bisa terwujud”. Hak anak untuk tumbuh menjadi pemimpin masa depan penting menjadi perhatian bersama.
Termasuk Ibu Cantika, orangtua dari anak didik yang dikirim ke barak TNI merasa bersyukur anaknya diberi kesempatan mendapatkan pendidikan karakter dan disiplin. Ia berharap anaknya bisa lebih mandiri dan disiplin pasca diklat di barak TNI.
Kembali ke Kak Seto Mulyadi Ia memahami dinamika anak didik. Ia pun saat remaja bandel dan tak bisa diam. Proses pendidikan dan pengalaman menjadikan setiap orang berubah lebih baik.
Upaya KDM mendidik anak di barak TNI adalah rasa sayang pada realitas masa depan generasi Jawa Barat. Ia menyadari hanya pribadi berkarakter dan disiplin yang akan kompetitif di masa depan.
Hanya dengan langkah langkah “istimewa” akan melahirkan hal istimewa. Jabar Istimewa tentu tidak bisa diwujudkan dengan langkah biasa. Layanan dan pendidikan istimewa bagi anak didik Jabar diharapkan akan berhasil.
Semua ikhtiar akan ada hasil. Kontroversi dan pro kontra hakekatnya adalah “do’a” dalam bentuk kontra. Termasuk dukungan Kak Seto, bahkan Ia ingin sekali berkunjung ke barak TNI melihat pelajar berproses.
“Sabda Pandito Ratu”, apa yang “disabadakan” KDM tentu bukan sembarang sabda, buah dari refleksi mendalam dan pengalaman nyata. Anak Jawa Barat harus menjadi petarung di masa depan bukan pemurung.











