OPINI/Artikel

Cinta Kasih Dedi Mulyadi

adminsigiku.com
×

Cinta Kasih Dedi Mulyadi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Setelah menjadi Gubernur Jawa Barat, sosok Dedi Mulyadi, yang populer dipanggil Bapak Aing dan KDM, terus menjadi trend setter. Mengapa? Ini yang menarik didalami.

Setidaknya ada lima hal penting, mengapa Dedi Mulyadi terus naik bunga, bukan naik daun? Setidaknya karena lima hal berikut.

Pertama, Ia adalah pribadi ideologis. Ia punya spirit dasar yang sangat kuat, membawa ide dan nilai yang Ia anut. Terutama ideologi nilai nilai kesundaan esensi universalis yang penuh cinta kasih.

Dedi Mulyadi tidak terlalu teoritik mengambil spirit tokoh di luar Nusantara, apalagi Barat atau Arabic. Ia mengambil spirit dan keteladan leluhur/orangtua sendiri. Mengapa? Karena sesuai diri dan semesta alamnya.

Ungkapan bijak mengatakan “Meniti ke dalam diri, jadilah diri sendiri sebagaimana Tuhan menjadikan kita.” Meniti ke dalam budaya sendiri, sebagaimana Tuhan melahirkan kita di tempatnya.

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijungjung. Bumi dan langit dimana pun adalah tersambung dengan Sang Penciptanya. Ketersambungan dengan pencipta, itulah esensinya, bukan dengan yang lain.

@Kedua, Dedi Mulyadi bertahun tahun identik kerja, kerja, kerja. Ia melakukan tidak hanya mengatakan. Ia berkarya nyata, bukan menebar dogma dogma, kisah halu tanpa karya. Ia melakukan bukan mengatakan saja.

Kerja nyata bagi Dedi Mulyadi adalah “da’wah” terbaik. Ini sesuai pernyataan KH Syaiful Karim yang mengatakan, “Stop berkata baik, saatnya berbuat baik, lakukan, bukan katakan!”.

Keteladanan Dedi Mulyadi terlepas stigma pencitraan Ia terus lakukan. Baginya melakukan tindakan kemanusiaan adalah kewajiban. Politik, partai, jabatan dan hal lain, bukanlah kewajiban yang harus diraih. Menolong sesama manusia adalah wajib dan kewajiban!

Bagi Dedi Mulyadi keberagamaan seseorang identik dengan karya nyatanya. Apa yang bisa dilakukan pada sesama dan semesta? Bukan apa yang bisa dikatakan dan dipidatokan atau diseminarkan.

Ketiga, Dedi Mulyadi tidak “menyeret” agama pada karir politik dan pencitraan dirinya. Ia tidak menggunakan tokoh tokoh agama atau ulama. Ia sangat menghormati entitas ulama, tidak diseret ke ranah politik.

Tentu saja kisah “ijtima ulama” yang identik kalah dalam politik, telah merendahkan marwah para ulama. Ulama itu mahal dan istimewa, Ia harus berada di altar tertinggi. Jangan diseret ke dalam “ijtima politik”.

Dedi Mulyadi sangat sangat menghormati entitas umat beragama, agama apa pun. Ia adalah budayawan yang menghormati keragaman berdasarkan cinta kasih, silih asah asih asuh, bukan berdasarkan dogma dogma.

Dedi Mulyadi sangat memahami bahwa pendekatan budaya, karya nyata tak bisa disebandingkan dengan dogma dogma dan ijtima. Karya nyata adalah realitas akhlak, sejatinya akhlak. Publik butuh akhlak bukan dogma.

Keempat, Dedi Mulyadi menyadari kedaulatan ada di tangan rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan, vox populi vok Dei. Ia sangat memahami bahwa keberpihakan itu fokusnya di rakyat, bukan di pejabat, atau lainnya.

Selama Ia bersama rakyat, Ia akan terus bergerak melakukan karya nyata. Walau banyak kritik dan serangan dari berbagai pihak. Baginya kritik dan serangan adalah bagian dari sebuah perjalanan karya nyata.

Jeritan seorang rakyat, derita satu orang rakyat, akan Ia dengar dibanding saran tokoh wakil rakyat. Mengapa? Dedi Mulyadi lebih “memvalidasi” rakyat langsung dibanding wakilnya. Para senat, hanyalah wakil dan mapan.

Orang orang “tertindas” yang jauh dari kemapanan bagi Dedi Mulyadi layak mendapat perhatian lebih. Orang orang mapan, para pejabat dan anggota dewan terhormat, sudah terhormat. Mereka sangat “mandiri” dan terhormat. Rakyat kecil? Harus jadi prioritas.

Dedi Mulyadi tidak sungkan memeluk rakyat bau keringat, kotor dan kumuh. Ia tidak jaga jarak, karena baginya rasa cinta kasih, adalah hak semua orang. Cinta kasih adalah esensi, dari hati. Vibrasi rasa Dedi Mulyadi tersambung dengan rasa orang yang dijumpainya.

Kelima, media sosial. Bagi Dedi Mulyadi media sosial adalah sarana, alat yang bisa dijadikan “rumah bersama” saling akrab. Media sosial adalah dunia merdeka yang bisa saling mengontrol apa yang dilakukan.

Bila Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit untuk syiar, maka Dedi Mulyadi menggunakan “wayang” media sosial. Bung Karno dianggap telingan besar dan penyambung lidah rakyat Indonesia pada zamannya.

Kini Dedi Mulyadi menjadi telinga besar media sosial dan penyambung lidah media sosial bagi netizen Jawa Barat dan rakyat Indonesia, pada umumnya. Zaman terus berubah, Dedi Mulyadi hadir pada zamannya.

Apa pun kekurangan, keterbatasan, kesalahan dan kelemahan Dedi Mulyadi, Ia adalah Brand Ambassador (BA) orang Sunda. Masyarakat Sunda, tentu bangga dengan ketokohannya.

Sehebat apa pun suara orang dan keahliannya dalam bernyanyi, kalau hanya di kamar mandi, Ia tidak bisa meluas, hanya menghibur dirinya. Namun ketika diberi panggung, lampu dan sound yang baik, Ia akan lebih wow.

Termasuk Dedi Mulyadi, semoga panggung khidmatnya dalam mengemban amanah, selalu dalam kontrol bersama, dukungan bersama dan doa bersama. Allah maha mendesign semua makhluk ciptaan_Nya.

Ideologi, karya nyata, kedaulatan rakyat, esensi beragama dan media sosial, menjadi pelajaran bagi Dedi Mulyadi. Ia pernah mengatakan pentingnya menjadi insan kamil sesuai ajaran Islam.

Dedi Mulyadi pun tak sadar sudah menjadi “Insan Mulyadi” dengan karya nyatanya. Kang Dedi Mulyadi (KDM) adalah ciptaan Tuhan. Tuhan punya rencana dengan ayat ayat kauniah_Nya.