OPINI/Artikel

Sejarah Versi KH Buya Syakur

adminsigiku.com
×

Sejarah Versi KH Buya Syakur

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Diantara ulama atau kiyai yang banyak dianggap ceramahnya mengagetkan dan kontroversi adalah KH Buya Syakur. Ia ulama yang bisa membuat kita bertanya tanya atas ceramahnya.

Diantara yang membuat kita kaget adalah sejarah Nabi Muhammad SAW yang menikahi istrinya yang Nasrani dan Yahudi, tetap dalam agamanya. Tidak ada paksaan menjadi muslim. Ini narasi dan ceramah KH Buya Syakur.

KH Buya Syakur menjelaskan, istri nabi yang bernama Mariah al-Qibthiyah, tetap dalam agama Nasrani. Shafiyah binti Huyay, tetap dalam agama Yahudi. Juwairiyah binti al-Harits, tetap beragama Yahudi.

KH Buya Syakur menjelaskan toleransi Nabi Muhammad SAW luar biasa. Ia mencintai penganut agama lain, bahkan dijadikan istri dan tetap dalam agama asalnya, tanpa harus masuk Islam.

KH Buya Syakur pun menjelaskan bahwa ibunda tercinta Nabi Muhammad SAW adalah Aminah. Bapknya Ibunda Aminah adalah Abu Kabes, Ia adalah penganut agama Nasrani. Benarkah?

Setidaknya apa yang disampaikan KH Buya Syakur bahan belajar bagi kita semua. Ia adalah ulama yang selalu membuat kaget kita semua. Ia lah yang mengatakan perbudakan belum selesai dalam budaya Arab karena Nabi Muhammad SAW keburu wafat.

Ia ulama yang mengajak semua umat Islam untuk “menyempurnakan” ajaran agama Islam. Merasa sudah sempurna baginya sangat tidak positif dan melahirkan kejumudan. Mesti menangkap esensi, substansi dan melihat perkembangan zaman.

KH Buya Syakur adalah ulama yang berani menjelaskan sejarah nabi dan para sahabat. Selain kemuliaan para sahabat dan nabi, Ia pun menjelaskan sejarah getirnya. Betapa getir dan tragis sejarah nabi dan para sahabat.

KH Buya Syakur menjelaskan saat nabi wafat, konflik langsung terjadi, Sampai jenazah Nabi Muhammad SAW pun tiga hari belum dikebumikan. Konflik dan ketidaksiapan kehilangan seorang teladan pemimpin, menimpa suasana saat itu.

Selanjutnya KH Buya Syakur menjelaskan tragisnya kehidupan para sahabat. Mulai dari Abu Bakar, sampai Ali, semuanya terbunuh. Diracun dan ditikam saat sholat. Bahkan saling bunuh sesama sahabat dalam Perang Jamal.

Terlepas subjektif atau hanya tafsir Sang Kiyai, semuanya menjadi bahan belajar bagi umat Islam khususnya. Rektor UIN Datokarama, Palu, Prof. Dr. KH. Lukman S. Thahir, M.Ag., menjelaskan pentingnya belajar sejarah bagi umat beragama.

Belajar agama, bagi Prof. Lukman, tanpa belajar sejarah, antropoloi, sosiologi dan disiplin lainnya, akan kurang utuh dalam memahami agama. KH Buya Syakur sendiri adalah pribadi yang belajar multidisipliner. Kita?