OPINI/Artikel

KDM Versi Guru Gembul

adminsigiku.com
×

KDM Versi Guru Gembul

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Dalam sebuah tayangan media sosial seorang penceramah agama pribumi dan yang mengaku habaib, menyerang sosok Kang Dedi Mulyadi (KDM). Ungkapan “Bapak sia” dan musyrikisasi Jawa Barat, ditujukan pada KDM.

Berbeda dengan Guru Gembul, sosok konten kreator yang selalu punya sudut pandang menggelitik. Ia mengatakan, “KDM sangat Islami”. Ia adalah pribadi yang sangat sesuai dengan ajaran agama Islam.

Sejak mahasiswa Ia sudah belajar dan mempelajari spirit dan moderasi keislaman. KDM adalah aktivis HMI. Disisi lain KDM pun adalah pribadi yang sangat menghargai seni dan budaya. Ia pun diidentikasi sebagai budayawan.

Bagi Guru Gembul, orang yang mengkritik KDM, misal terkait patung, dikaitkan dengan musyrik adalah entitas yang nalarnya rendah. Nalar rendah ini lah bagi Guru Gembul yang mudah dimanfaatkan sejumlah orang tertentu.

Jualan dogma, agama dan politisasi agama sangat efektif di entitas nalar rendah. Nalar rendah ini dalam versi Prof. Dr. KH Lukman S. Thahir, M.Ag., termasuk entitas sumbu pendek. Mudah meledak dan emosional, karena mono perspektif.

Bagi Guru Gembul hal Islami yang dilakukan KDM diantaranya adalah : memberantas kejahatan, melawan kemudharatan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Hal hal yang tidak adil dan membuat rakyat terdholimi, Ia lawan.

KDM pun berusaha membersihkan, memperbaiki dinamika internal birokrasi yang masih jauh dari ideal. Hal hal yang merugikan rakyat dan hanya menguntungkan para pejabat/birokrat tertentu, Ia tertibkan.

KDM pun memberi contoh cinta lingkungan. Membersihkan sungai dan lainnya, adalah perilaku Islami. Mencintai sesama, menegakan keadilan dan menjaga lingkungan adalah hal yang Islami.

Plus mempublikasi perbuatan baik adalah da’wah dalam agama Islam. Publikasi kebaikan di zaman ini cukup positif. Mengapa? Mengingat diperlukannya terutama keteladanan para pemimpin, untuk mem_vibrasikan energi kebaikan.

Julukan Gubernur Konten menimpa KDM saat ini. Padahal jauh jauh hari kementerian infokom menghendaki agar masyarakat Indonesia kreatif dan produktif membuat konten konten positif. Mengapa? Untuk “menimbun” dominasi konten negatif.

Sebagai penulis, saya bersyukur punya tokoh yang “kontainer”, konten kreator, sehingga menjadi inspirasi menulis. Plus telah memberi keseimbangan positif pada dunia medsos yang bebas ekspresi.