Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Judul di atas adalah bahasa Sunda. Namun narasi dan argumentasi yang akan saya elaborasi dalam bahasa Indonesia. Mengapa saya beri judul itu ? Selain menarik kita dalami, judul itu tidak akan ada dua di google atau AI.
Filsuf Descartes mengatakan, “cogito, ergo sum” (aku berpikir, maka aku ada). Ini adalah prinsip dasar yang menyatakan bahwa keberadaan diri seseorang terbukti melalui kemampuan untuk berpikir.
Saya coba “duplikasi” pemikiran filsuf di atas dengan ungkapan “Aku ada karena aku merasa”. Pikiran dan perasaan adalah dualitas yang tak bisa lepas dalam realitas psikologi manusia, keduanya melekat.
Ungkapan bijak mengatakan manusia adalah mahkluk rasa. Bila ingin menguasai manusia, kuasai rasa dan perasaannya, bukan pikirannya. Bukankah seorang maaf playboy sangat “memanfaatkan” rasa dalam “menjelajah” dunia ?
Rasa adalah sumber vibrasi dalam diri manusia. Rasa identik dengan pengendali seseorang. Walau rasa bukanlah sebuah fakta, melainkan energi dan vibrasi yang sangat kuat dalam diri manusia.
Asbab rasa, sebuah fakta bisa lenyap dan hilang. Bukankah asbab rasa suka, cinta dan idola pada seseorang, fakta kekurangan dan kelemahan seseorang menjadi “lenyap”. Seseorang akalnya bisa tak berfungsi asbab rasa yang menguasai.
Maaf, seorang pria mengatakan “Aku sangat menikmati malam tadi karena antara aku dan Dia ada rasa”. Ternyata suasana, kerjasama, kolaborasi dan sinergi pun lebih dinikmati karena rasa. Ada rasa yang tersambung dari hati ke hati.
Hal pikiran, inovasi, kreatifitas, knowledge dan wawasan lebih bisa dinikmati karena rasa. Aku ada karena aku merasa. Dalam bahasa Sunda “Hade Goreng Ku Rasa”. Realitas keseharian kita akan positif dan baik tergantung sikon rasa.
Nabi Muhammad mengatakan, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Rasa umumnya diidentikasi semayam dalam hati. Ajaran agama dan para penganut agama meyakini di lokus hati rasa itu bersemayam. Baik hati maka baiklah hidup, identik baik rasa maka baiklah hidup, sesuai hadits di atas.
Hade Goreng Ku Rasa, sebuah ungkapan yang menjelaskan bahwa rasa adalah panglima dari tubuh kita. Kadang pikiran atau akal sehat pun kalah sama rasa yang menguasai diri seseorang. Rasa adalah vibrasi yang harus positif dan fungsional, karena Ia menentukan realitas sukses kita.
Ada ungkapan, “Vibrasi rasa dalam diri seseorang bisa dideteksi seekor kucing atau binatang lainnya”. Namun katanya intelektualitas dan pikiran kita belum tentu terdekteksi oleh seekor kucing. Rasa adalah vibrasi yang memfrekuensi pada sekitar.
Rasa ini lah yang Kang Dedi Mulyadi (KDM) manfaatkan sebagai kanal politik yang Ia jalani. KDM meyakini rasa yang ada dalam entitas masyarakat Jawa Barat, bisa objektif menerima suatu hal yang positif.
Tidaklah heran, dogma dogma dan ceramah agama yang dilakukan para oknum ustad kampung dan kaum nasabik, gagal menjegal KDM. Mengapa? Karena karya nyata KDM jauh lebih menyentuh rasa umat, dibanding cerita cerita halu dan dogma dogma agama.











