RSUD Welas Asih

0
348

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Kini hangat sejumlah komentar terkait penamaan pada fasilitas kesehatan milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berstatus sebagai badan layanan umum daerah (BLUD) bernama RSUD Welas Asih. Mengapa hangat? Itulah dinamika perspektif umat manusia.

Kang Dedi Mulyadi (KDM) tentu saja berniat baik dan membawa lebih memperbaiki keberadaan RSUD Welas Asih, yang tadinya RSUD Al Ihsan. Spirit memberi ruh lebih baik bagi RSUD Welas Asih adalah niat baik. Ini harus sangat dihargai, bukan dihakimi.

Walau pun lawan lawan politik lama, pembenci dan penebar provokasi akan “memanfaatkan” momen ini. Selalu akan dikaitkan dengan agama dan kepercayaan. Sebuah lagu lama yang sudah mulai usang dan bagai “musang berbulu domba”.

Welas Asih diksi indah yang menerjemahkan substansi Ilahi. Substansi Ilahi dari Al Qur’an. Dalam surat yang identik ummul qur’an, ayat pertama bismilahirrohmanirrohim. Dalam ayat pertama, surat pertama ini membawa substansi welas asihnya Allah.

Surah Al-Fatihah disebut juga Ummul Quran atau Ummul Kitab, yang berarti “Induk Al-Quran” atau “Induk Kitab”. Substansi dari Al Fatihah adalah Allah yang welas asih, rahman rahim, rahima, cinta kasih.

Memberi nama RSUD Welas Asih bisa ditafsirkan sebuah ajakan yakni, “Mari menjadikan RSUD Welas Asih lebih baik dalam pelayanan dan pengelolaan, menuju Jabar Istimewa, dalam ridha_Nya yang Welas Asih”. Bisa demikian substansinya.

Unik memang masyarakat kita, terutama dalam mempolitisasi sebuah realitas. Di negara lain, misal Belanda dan Australia, jumlah pasien rumah sakit menurun dan pola hidup semakin baik. Di kita bagaimana?

Di kita pola pikir saja masih belum sehat. Karena Sang Gubernur mengganti nama RSUD Al Ihasn menjadi RSUD Welas Asih saja, pikirannya tak sehat. Pikiran yang tak sehat, suudhon dan menebar provokasi dikait kaitkan dengan hal lain adalah tak sehat.

Bahkan KH Syaiful Karim mengatakan, “Stop berkata kata baik, segera lakukan hal yang baik”. Stop hapalan hapalan yang baik, segera lakukan, implementasikan hal hal baik dari apa yang dihapal. Apalagi kata kata, komentar kisruh keruh. Stop!

Betul kata pepatah, “Gogog menggonggong, kafilah berlalu”. Karakter manusia memang ada yang kerjaannya mengomentari dan menghakimi. Bagai “Burung yang pandai berkicau tak mampu membuat sarang”. Mereka adalah manusia burung (lihat bahasa Sundanya, apa itu jalema burung).

KDM adalah sosok yang harus kita dukung dan bantu. Mengapa? Ini diantaranya, pertama anti korupsi, kedua suka memberi, ketiga influencer sosial, keempat pecinta lingkungan dan kelima budayawan genius. Sosok yang mahal.