OLeh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman mengatakan, “Jadilah ASN yang bekerja sabubukna”. Sebuah ajakan dan motivasi yang substansinya adalah menyerukan dedikasi dan bekerja untuk rakyat Jawa Barat secara optimal.
Bila ada ASN yang bekerja asal asalan, banyak protes dan berkinerja rendah, sangat dilarang. Mengapa? Karena masih ada 1,6 juta warga Jawa Barat yang ingin mendapatkan pekerjaan.
Pastikan semua ASN bersyukur pada Ilahi. Bersyukur itu diantara indikasinya adalah bekerja optimal dan sangat dedikatif. Pastikan semua ASN memiliki semangat juang sebagaimana semangat saat berjubel, antri mencari kerja.
Termasuk ASN guru. ASN guru di tahun ini punya tanggung jawab yang tidak ringan. Terutama hadirnya anak didik pasca SPMB yang maksimal bisa 50 anak per kelas. Ini sebuah tantangan dan ujian dedikasi dan kompetensi pedagogik guru.
Bila ada guru yang “ngarahuh” dan pesimis serta apatis menghadapi tantangan di ruang kelas dengan anak didik lebih dari 36, tentu kurang baik. Ingat! Mencari pekerjaan, menjadi ASN dan punya status terhormat menjadi guru itu sangat sulit.
Semangat 45, menerima tantangan, siap lebih kreatif dan merasa tertantang menghadapi anak didik lebih dari 36 adalah sisi “petarung” Sang Guru. Merasa pesimis, meringis dan apatis adalah sisi “pecundang” Sang Guru.
Keadaan darurat dan situasi makruh meminjam istilah Wamen Prof. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D. adalah sebuah realitas yang harus dihadapi para guru di ruang kelas. Sekda Jabar menyebutnya extraordinary, maka lakukan layanan extraordinary juga.
Angka putus sekolah tertinggi di Indonesia diraih Provinsi Jawa Barat. Guru guru di Jawa Barat, terutama ASN yang merupakan bagian dari “body” pemerintah harus optimal ambil bagian, mengentaskan anak putus sekolah.
Angka putus sekolah yang tinggi akan berkelindan dengan pengangguran yang tingggi. Lulusan sekolah dan sarjana saja banyak yang menganggur. Apalagi bila angka putus sekolah tidak bisa dicegah dan ditanggulangi. Apa jadinya masa depan generasi Jawa Barat? Putus sekolah identik dengan lahirnya pengangguran.
Kang Dedi Mulyadi (KDM), Sekda Jabar dan Kadisdik Jabar, sangat memahami realitas di atas. Ketiganya sangat “menyala” untuk memberikan layanan aksesibilitas pendidikan. Bahasa yang tak dapat ditawar adalah “Jangan ada satu pun anak didik usia sekolah, putus sekolah di Jawa Barat”.
Bisa dikatakan tidak ada istilah “Jabar Istimewa” bila angka putus sekolah masih tertinggi. Bila angka putus sekolah menurun, maka ini bagian dari upaya melahirkan Jabar Istimewa bidang pendidikan. Jabar Istimewa bila semua anak didik bisa bersekolah dengan baik.











