Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Sangat populer dikalangan kepala sekolah Jawa Barat ucapan Kadisdik Jabar, Dr. H. Purwanto, M.Pd., terkait hordeng. Dalam KBBI gorden/hordeng itu adalah kain penutup jendela. Gorden sendiri berasal dari bahasa Belanda yaitu gordijn.
Hordeng menjadi populer dikalangan kepala sekolah, karena digunakan Kadisdik Jabar sebagai bahasa simbolik. Ungkapan “Hordeng Nyengled” adalah simbolik terkait keberadaan sebuah sekolah. Hordeng nyengled identik representasi dari wajah sekolah.
Terutama para kepala sekolah, guru dan warga sekolah harus “menterjemahkan” hordeng nyengled dalam tindakan. Tindakan apa? Tindakan kolaborasi semua pihak/warga sekolah untuk menata sekolah mulai dari hordeng sampai toilet sekolah, rapih, bersih dan sehat.
Hordeng nyengled di sebuah sekolah menjelaskan ada hal sederhana yang diabaikan. Hordeng nyengled, bukan hal yang normal, jangan dinormalisasi. Bila ada hordeng nyengled dan semua mengabaikan, tidak ada yang peduli, apalagi hal lainnya.
Bisa diduga, diprediksi ada hal lain yang “nyengled” dan terabaikan, diabaikan, dibiarkan, dianggap wajar dan “dinormalisasi” bukan hal penting. Ungkapan lama mengatakan, “Bila ingin melihat mentalitas kolektif sekolah, lihat WCnya”.
Jini bersama Kadisdik Jawa Barat seolah ungkapan di atas diganti lebih jauh, yakni “Bila ingin melihat karakter kolektif warga sekolah, lihat hordengnya”. Mengapa? Karena kalau WC hampir semua sekolah kurang bersih. Kini hordeng menjadi variabel konfirmatif terkait “kesehatan sekolah”.
Hordeng nyengled hanyalah simbolik, mari kita semua untuk meningkatkan kepedulian, mulai dari hal sederhana. Dr. Purwanto mengatakan, “Hal paling bermasalah dari kita adalah tidak peduli, tidak ambil bagian”. Hordeng nyengled, buah ketidakpedulian.
Secara tidak langsung Dr. Purwanto pun menyatakan bahwa hordeng nyengled dan WC kotor karena deep learningnya tidak berjalan. Guru, kepala sekolah adalah “profile” deep learning dalam keseharian yang bisa diteladani anak.











