Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua Umum DPP AKSI)
Saat pertama masuk gerbang sekolah, saya buka kaca mobil, lambaikan tangan dan berikan simbol cinta, semua anak membalas spontan, lambaikan tangan dan membalas simbol cinta. Mereka tersenyum menyambut tamu yang datang ke sekolah.
Tiga detik saya mengambil kesimpulan “Ada Cinta di SMAN 1 Cimarga”. Nampaknya anak anak SMAN 1 Cimarga adalah anak anak yang baik dan punya semangat serta respon yang baik. Seolah mereka berkata “Kalau aku dicintai maka aku pun akan mencitai”.
Saat mereka dikumpulkan dan diberi motivasi belajar, mereka sangat antusias. Sebuah realitas anak didik di daerah yang sedang tumbuh di usianya. Kita sebagai orang dewasa (Kepala Sekolah, Guru dan GTK lainnya) adalah teladan mereka.
Semua anak didik adalah “peniru ulung”. Bahkan mereka lebih mudah meniru hal kurang baik dibanding hal hal baik. Habituasi hal hal baik penting di kuattumbuhkan. Kepala Sekolah Ibu Dini Fitria sudah berupaya memberikan habituasi positif dan disiplinitas.
Tentu saja kisah 630 anak SMAN 1 Cimarga menolak belajar adalah anggap saja pesan cinta dari mereka. L Bukankah sebuah hubungan cinta itu kadang ada tolak dan terima? Saya meyakini Ibu Dini Fitria sebagai kepala sekolah dan guru guru bisa mengubah pola bersama.
Pertama pola baru pendekatan kepala sekolah kepada guru guru, ini penting. Kedua pola guru pada anak didik. Bila kepala sekolah, guru dan anak didik dalam vibrasi yang sama, cinta sekolah dan cinta belajar, akan lebih harmoni.
Apapun yang terjadi di sebuah sekolahan, kepala sekolah lah yang harus lebih cerdik dan nehnik dalam mengelola ratusan perasan dan hati guru dan anak didik. Basis cinta, welas asih, keteladan dan pemaaf harus lebih kuat di pimpinan sekolahan.
Kepala sekolah bila perlu anggap semua guru adalah anak. Anggap anak didik adalah cucu tercinta. Guru, anggap kepala sekolah adalah ibu kandung, terima bentuk cintanya walau kadang menyentil nyentil.
Mari kuatkan saling cinta, “Ada Cinta di SMAN 1 Cimarga” itu faktanya. Cemburu dan emosi adalah sisi cinta yang membutuhkan perhatian. Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar mengatakan “Pentingnya kurikulum cinta”. Love adalah esensi kehidupan yang dihantarkan semua agama.











